Begitu Dinar mengaktifkan “Resonansi" di bawah alam bawah sadarnya, ruangan cermin mengerikan itu lenyap dan ia kini berada di sebuah taman khas Jepang berhiaskan danau buatan, jembatan kayu tradisional, dan pohon wisteria di mana-mana. Berhasil! Dinar memekik bahagia dalam hati. Ia kini berada dalam dunia virtual semacam Theta, tetapi yang ini tampak lebih membumi dan berbau Negeri Sakura.
Namun, ketakjuban Dinar mendadak diambil alih oleh kekalutan setelah gadis itu menyadari sesuatu. Tubuh Dinar terasa berat dan kaku! Ketika Dinar menatap ke arah dirinya sendiri untuk mencari sebabnya, gadis itu menjerit karena seluruh tubuhnya telah berubah menjadi mesin. Lalu, omong-omong, ia sama sekali tidak terlihat anggun seperti cyborg bertumbuh ramping yang terkesan aerodinamis. Dinar merasa menjelma seperti kaleng sarden sungguhan. Terdengar bunyi berdenting ketika sesuatu menyentuh leher logam gadis itu.
“Siapa kau?”
Susah payah Dinar menoleh ke samping untuk mencari tahu benda apa yang telah menyentuhnya dan siapa yang barusan bertanya. Dagu Dinar, bagian tubuh yang tidak berubah menjadi mesin, terasa dingin saat bergesekan dengan benda itu.
Ia tercekat ketika mengetahui sebilah katana hitam teracung siap memancung. Senjata itu dipegang oleh Luz. Bukan, tapi versi yang lebih muda, sepertinya baru menginjak usia remaja. Dengan rambut hitam menyembul di balik tudung putih, Luz yang ini tampak lebih manusiawi. Namun, sorot mata remaja itu dingin bagaikan tanpa hati.
“Luz?”
“Kutanya sekali lagi. Siapa kau, Makhluk Aneh?”
“Aku … Dinar.” Di saat segenting itu, hati lemah Dinar malah rontok. Gadis itu bingung dengan keadaan Luz yang ada di hadapannya sekarang karena seolah tidak mengenalnya. Wujud kesatria itu pun berubah drastis.
“Aku tidak bertanya soal namamu, Aneh! Apa kau mata-mata?”
Luz yang ini kasar sekali, persis Celica.
“Luz, seseorang telah memenggal kepalamu dan sepertinya kamu amnesia. Namun, kita sungguh saling mengenal. Aku adalah kekasihmu.”
“Apa kau gila?”
“Luz, aku Dinar, kekasihmu!”
Obrolan tersebut tidak punya harapan karena remaja itu betul-betul menyabetkan katana ke leher Dinar. Namun, sesuatu yang luar biasa terjadi. Tubuh mesin Dinar bergerak otomatis. Gadis itu berhasil menghindari serangan dengan secepat kilat bersalto mundur berkat roket yang tiba-tiba menyembur di bawah kaki mesinnya. Dinar mendarat dengan bunga api memercik di tanah berumput hingga meninggalkan bekas gosong terbakar. Dinar paham sekarang, beginilah cara kerja Ikram. Mesin pikiran dirancang khusus untuk berhadapan dengan Luz, seorang remaja yang kini gusar lalu menyerang ia bertubi-tubi. Berkali-kali Dinar mampu berkelit sehingga Luz remaja semakin marah.
Mengerikan, adegan kejar-kejaran itu tidak bisa berlangsung selamanya. Dalam satu kesempatan beruntung, Dinar menembakkan sebuah bazoka dari lengannya sehingga katana di tangan Luz terpelanting lantas menancap ke pohon wisteria terdekat yang tidak bersalah.
“Hei, kau boleh juga. Ayo bertarung.”
Apa? Oh, seharusnya ini adalah pertemuan yang romantis!
“Luz, izinkan aku membuktikan bahwa kita saling mengenal,” bujuk Dinar.
“Kau pasti mata-mata karena tahu namaku. Apa kau pedofil yang diam-diam menguntitku?”
Luz belia sungguh tidak ada manis-manisnya! Andaikan Dinar bisa menghubungkan pikiran mereka .... Ah, itu dia!