“Aku sendiri lagi ya… eh, hari ini Senin. Bakal ada yang datang,” ucap seorang anak laki-laki yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Waktu menunjukkan pukul 00.00 ketika ia bangkit dari dipannya dan menginjakkan kaki di tanah bersalju. Salju yang menyentuh tubuhnya langsung meleleh, seolah tak mampu menahan panas yang terpancar darinya. Kulit putih kemerahan yang membungkus otot-otot liatnya tampak bersih setiap saat.
Ia segera mengenakan pakaian dengan rapi, bersiap untuk turun.
“Setahun lalu tanah ini masih sangat rimbun… ya wajar saja sih. Kalau aku meninggikan tanah ini, pasti akan jadi sedingin gunung pada umumnya,” pikirnya sambil mengambil air untuk berwudhu.
Setelah itu, pemuda tersebut berlatih dengan sangat keras sepanjang malam. Hingga sekitar pukul empat pagi, ia akhirnya turun dari gunung menuju musholla terdekat. Di sana, ia melihat orang-orang sudah mulai bersiap.
“Turun juga kau dari gunung, Ihsan,” ucap seorang pemuda atletis berkulit gelap seperti langit malam.
“Hei, Cak Alim. Gimana kabarmu?” balas Ihsan.
“Aku baik-baik saja. Kau sendiri gimana? Eh, rumahmu itu sudah kau bangun tembok, kan?” tanya Alim.
“Eeehh… tidak ada tembok pun juga tidak ada yang mau datang berkunjung. Kurasa tidak perlu, deh, cak,” jawab Ihsan santai.
“Biar hangat lah, lagian siapa coba yang punya ide membuat gunung sebesar itu? Ya jelas tidak ada yang mau datang. Manusia normal mana tahan suhu sedingin itu. Tidak semua orang melatih ketujuh cakranya, Ihsan,” ucap Alim.
“Itu kecelakaan, cak. Kontrol energiku waktu itu masih belum bagus, jadi malah jadi gunung seperti ini. Tapi semuanya aman kok. Kuncoro kayaknya senang-senang saja,” jawab Ihsan.
“Itu lembu mistis, Ihsan… hmm, ya sudahlah. Ayo siap-siap. Kau imam di sini, kan? Aku ikut,” ujar Alim.
“Iya, cak. Eh ayo. Hmm… nanti kita ke Yusuf, yuk,” ajak Ihsan.
“Boleh,” jawab Alim singkat.
Beberapa saat kemudian seusai shubuh, keduanya menaiki pushpaka vimana mereka dan melesat cepat menuju kota tempat sahabat mereka berada.
...
Kota Ngalam 24 Desember 2012 pukul 06.30.
"Ei Yusuf, kau yakin susunan ini sudah benar," ucap seorang gadis memanggil pemuda yang tengah sibuk membongkar motornya.
"Iya Sekar, kau terlalu takut mencoba, kalau itu Ihsan dia mungkin sudah menghancurkan beberapa meja eksperimen hanya untuk mencoba, begitulah eksperimen, harus berani," ucap pemuda bernama Yusuf yang kini berjalan mendekati gadis itu, tubuh kekarnya terbentuk dari pekerjaannya sebagai mekanik, noda hitam menempel di rambut putihnya yang seperti salju.
"Hhh aku kan bukan Ihsan, nanti kalau bajuku terbakar karena ledakan bagaimana!? Yang benar saja Suf, kita belum menikah ya, jaga sikap sedikit kau, lagipula kalau Ihsan dia juga pemilik pabrik ini jadi bebas saja kalau mau bereksperimen di sini, uangnya sendiri kok," ucap gadis bernama Sekar itu sambil membuka topeng bengkel yang menutupi wajah keemasannya dengan rona merah di pipi, tubuh langsingnya bergeser memberi ruang saat Yusuf mendekati mejanya.
"Iyadeh iya, kau mau memasukkan mekanisme apa di sini," ucap Yusuf.
"Pembentukan bom yang lebih cepat dan lebih kuat sih Suf," ucap Sekar.
"Memangnya kamu mau menambahkan apa, nuklir yang kamu pasang minggu lalu saja sudah mau diganti, belum cukup kah," tanya Yusuf.
"Sayangnya belum cukup, aku butuh bom yang bisa menghabisi musuh tanpa meninggalkan jejak," ucap Sekar.
"Kalau begitu tidak bisa pakai nuklir, jejak radiasinya mudah terdeteksi, kau juga akan ikut terdeteksi nanti, ini tugas vishkanya kah!?," ujar Yusuf.
"Iya Yusuf, aku kapten utama vishkanya di sini, katanya mau menjadikan Ngalam sebagai kerajaan," sahut Sekar.