Siang harinya di kota Ngalam raya.
"Jadi kapan kau akan pulang Alim," tanya Yusuf.
"Aku akan kembali ke Devaloka besok malam, tolong awasi Ihsan ya," ucap Alim.
"Dia bisa menjaga dirinya sendiri Alim," ujar Yusuf.
"Aku tidak hanya memintamu melindungi Ihsan, sebenarnya aku lebih khawatir pada apa yang akan dia lakukan, tolong lindungi orang-orang dari Ihsan ya, Yusuf," ucap Alim.
"Itu akan sulit, aku akan mencoba, tapi mungkin aku tahu seseorang yang bisa melakukannya," ucap Yusuf.
"Shafa kah?, kalau dia kurasa bisa, entah kenapa aku merasa dia sangat mirip dengan Ihsan, sama-sama teguh pada tujuannya, masalahnya setiap Senin aku berkunjung dan jarang sekali melihatnya, dia sedang apa sekarang, tuan putri Shifa juga jarang memberiku kabar tentang sahabatnya itu, mungkin karena Shifa juga sibuk dengan urusan kerajaannya, jadi setiap aku datang aku juga tidak pernah menanyakan kabar Shafa, ah dia kan akan diundang nanti saat pesta," ucap Alim.
"Baguslah, aku juga tidak ingin terlalu sering bertemu dengannya, bisa kena masalah aku, kalau terpaksa seperti sekarang saja sih," ucap Yusuf.
"Memangnya dia sudah semenyeramkan itu ya, padahal dulu dia sangat cantik," ucap Alim.
"Justru karena itu, mungkin bisa dibilang dia terlalu cantik, kadang aku merasa dia seperti makhluk mitologis dari surga, akhirnya dia sering menutupi wajahnya dengan masker atau topeng di depan orang baru agar mereka bisa berbicara dengan normal, sekarang aku bahkan bingung apakah parasnya itu berkah karena sering dianggap dewi atau justru kutukan karena membuatnya sering diincar pria hidung belang dan memicu kecemburuan para wanita, jujur saja aku tidak ingin mendekatinya, sudah berkali-kali kudengar dia mengamuk karena merasa dilecehkan, dan berkali-kali pula terdengar cerita tentang teror iblis perempuan di Arunavati, korbannya biasanya tewas mengenaskan dalam ketakutan, beberapa laporan menyebutkan iblis itu memiliki tiga mata berwarna merah darah dan kalung permata merah yang bersinar di malam hari, siapa lagi kalau bukan Shafa," tutur Yusuf.
"Eh, jadi seseram itu ya dia, kupikir melindungi diri adalah alasan yang tepat, bagaimanapun itu satu-satunya cara agar dia bisa menjaga kesuciannya, sekarang kita harus bergerak ke Mataram sesuai instruksi dari Ihsan, sepertinya mas Steve dan mas Lintang juga akan ada di sana, seperti masa sekolah dulu perayaan ini, apakah tuan putri juga bisa datang ya," ucap Alim.
"Dia kemungkinan akan menyempatkan diri, sebentar ya, aku panggil Ihsan dan Sekar dulu," ucap Yusuf sambil masuk ke ruangan dan melihat Ihsan sedang termenung dengan wajah sedih di meja kerjanya.
"Ihsan lagi ngapain, ayo siap-siap dulu, kita akan berangkat, kau juga Sekar," ucap Yusuf.
"Sebentar Suf, nah ini Sekar, model cakar beracunnya sudah jadi, aku siap-siap dulu ya," ucap Ihsan sambil memberikan data rancangannya pada Sekar.
"Sudah selesai!?, eh padahal aku baru istirahat minum teh, loh sudah mau berangkat ke Mataram, bentar ya aku siap-siap dulu," ucap Sekar sambil menyimpan data dari Ihsan lalu bersiap.
Tak lama kemudian mereka berempat berangkat menuju kota Mataram.
...
Sore hari di kota Mataram, sebuah pushpaka vimana raksasa mendarat di sebuah perkampungan yang sangat maju.
"Aden datang juga akhirnya, cepat siapkan penyambutan, aden akan segera mendarat, ah aku harus mematikan ini," ucap seorang lelaki sembari mematikan cerutunya dengan jempolnya.
"Pak Andre, kenapa langsung dimatikan begitu, kan bahaya, nanti nyonya khawatir loh," ucap seorang lelaki lainnya.
"Aden gak suka melihatku menghisap cerutu, dia memang gak pernah mematikannya tapi kayaknya risih sekali, jadi aku matikan," ucap lelaki tadi yang bernama Andre.
"Eh Shafa, dia sudah datang, kabarnya Alim juga menyempatkan datang sih jadi aku mempersiapkan diri, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan," ucap seorang wanita bangsawan.
"Kau selalu saja memberikan alasan kerajaan untuk menemui pria yang kau sayangi Shifa, temui saja dia sebagai teman," balas wanita tadi yang bernama Shafa.
"Iyadeh, jangan lupa berias, nanti kalau wajahmu itu terlihat bisa jadi masalah," ucap putri Shifa yang langsung berdiri untuk bersiap.
"Aku ingin memperlihatkan wajahku pada Ihsan, aku tak perlu merias diriku," balas Shafa yang seketika membuat Shifa berhenti berias juga.
"Kau tau mungkin kau benar, mereka boleh melihat wajah asli kita, tapi kau yakin Shafa, bisa jadi masalah loh," ucap Shifa.
"Aku tidak masalah Shifa, aku bisa melindungi diriku sendiri," ucap Shafa sembari menyisir rambutnya dalam kegelapan.