Bhairava

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #3

Jonggring Saloka

"Salam aden, lama tidak melihatmu di sini," sapa seorang lelaki.

"Eh pak Anas, kau di sini juga, semoga kau selalu diberkahi," balas Ihsan.

"Heeeiii maasss, kebiasaan gak ngomong kalau mau datang," ucap seorang gadis kecil di belakang Anas yang langsung berlari ke arah Ihsan.

"Ei Fira, gimana sekolahnya?" tanya Ihsan.

"Aman kok mas," ucap gadis itu.

"Kau di keraton gimana?" tanya Ihsan.

"Hmm gak gimana-gimana, nyuci sendiri, masak sendiri, makan sendiri, biasalah sayur di sana banyak yang bisa kupetik," ucap Fira.

"Oi Fira, kamarmu kotor lagi, hiiihh aku pula yang bersihkan, kasian abdi dalem tau, mereka banyak kerjaan lain," ucap teman Fira.

"Kamarmu masih kotor seperti biasanya dek?" tanya Ihsan.

"Mirip denganmu lah mas, agak mending sedikit sih," ucap Fira.

"Dek, kau yang benar saja, aku kan tinggal di hutan," ucap Ihsan.

"Yep begitulah kondisi kamarku, bagus kan, hhh kau terlalu lebay aja Isel," ucap Fira.

"Heh jangan gitu ke temennya, hai Isel, udah gede aja," ucap Ihsan.

"Hei mas Ihsan, eh ini ayah nanyain kabarmu," ucap Isel.

"Hehehe iya, bilang aja aku baik-baik saja," ucap Ihsan.

"Ok, eh Fira, jangan sembunyi di balik masmu gitu, tanggung jawab," ucap Isel.

"Hiiliiih iya, aku masakin omelet deh," ucap Fira.

"Hmm oke kau kumaafkan, besok ya sepulang sekolah," ucap Isel.

"Dek Fira, Isel, kalian di sini toh, hmm dicari mbak Shifa tuh, kayaknya dia nyari yang mencabuti wortel di tamannya, itu kau kan dek Fira?" ucap seorang gadis lain.

"Eeee gimana ini mas," bisik Fira.

"Bukannya itu memang boleh diambil ya mbak Kanti?" ucap Isel.

"Iya boleh, tapi kan izin dulu, tanya dulu, kalau ternyata yang ditanam mbak Shifa salah satu tanaman obatnya gimana, nanti kalian sakit karena gak tau cara pengolahannya," ucap gadis tadi.

"Mas gimana ini, mbak Shifa nanti marah," ucap Fira.

"Mampus, siapa suruh ngambil tanpa izin, nanti kena pukul nangis, aku juga gak mau dipukul lagi sama dia," ucap Ihsan.

"Gimana aden, apa saya urus aja masalah roro Fira," bisik Anas.

"Gausah pak, biar tau rasa, orang dia dirawat sama keluarga kerajaan saat ini ya harus ikut tata cara mereka, gak bisa disamain dengan di desa," ucap Ihsan.

"Ok aden, aman," ucap Anas.

Tak lama kemudian Shifa datang dengan mata menyala.

"Jadi siapa yang ngambil wortel di tamanku tanpa izin?" ucap Shifa.

"Tuh mbak, dua anak itu," ucap Kanti.

"Oi Shifa jangan kasar-kasar, mereka masih kecil," ucap Alim.

"Hmm, gaada urusan, kalau salah satu tanaman obatku diambil mereka juga yang mati Alim, palingan cuma kujewer sedikit, sini Fira, Isel," ucap Shifa sembari mendekati Fira dan Isel.

"Mak, pie iki," gumam Alim sembari melirik Kanti.

"Gak pie pie mas," ucap Kanti.

"Kau ngapain ngomong sih?" tanya Alim.

"Kan emang mereka," ucap Kanti.

"Hhh iyasih," pikir Alim.

"Nih Shifa, makasih ya mau merawat adikku," ucap Ihsan sembari menenteng adiknya menuju Shifa dan menyerahkannya.

"Hhh mas, kau emang gabisa diajak kerjasama," gerutu Fira yang sekarang sedang digendong oleh Shifa.

"Sama-sama Ihsan, dia juga sangat membantu kok di keraton tapi memang usil, persis kayak masnya, aku bawa dulu ya," ucap Shifa sembari tertawa kecil dan membawa Fira dan Isel untuk mendisiplinkan mereka.

Lihat selengkapnya