Bhairava

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #6

Samsara

Tirtawangi. Senin, 31 desember 2012 pukul 07.00.

“Sudah selesai rupanya keraton barumu Ihsan, berarti tinggal peresmian,” tanya Alim yang baru saja turun dari pushpaka vimananya.

“Begitulah cak, aku perlu ini untuk mengurus administrasi wilayah ini, tak banyak orang yang mampu bekerja secara maksimal di rumahku,” ucap Ihsan.

“Wajar saja itu, memangnya siapa juga yang mau tinggal di puncak gunung itu selain dirimu, bahkan yang bisa bertahan di sana hanya para pejuang dengan level cukup tinggi, itu kan alasanmu tidak menempatkan kedua orang tuamu di sana, eh ini aku bawa beberapa tukang kebun untuk keratonmu,” ucap Lintang sembari menurunkan belasan orang dengan wajah ketakutan dari paravani.

“Seluruh tempat yang ditinggali manusia di sini sudah kau amankan rupanya, level atmasenamu memang agak gila Ihsan, kau juga mengkopi lembu nandi dan naga vasuki dalam wujud asli mereka, makhluk sebesar itu pasti akan sangat membantu penaklukan dan negosiasi,” ucap Alim.

“Ya sesuai dugaanku, orang-orang takut duluan saat aku datang karena ukuran kuncoro dan juga kadang mereka ciut setelah dihampiri oleh ular vasuki, apalagi orang-orang yang dulu menyembah ular ini, mereka mudah sekali diyakinkan,” ucap Ihsan.

"Meskipun kau bilang begitu tapi hampir 80 persen orang-orang di sini melawan balik dan harus kita bantai berdua,” ucap Lintang.

“Orang-orang itu terlihat trauma, kenapa mereka mas Lintang,” tanya Ihsan.

“Oi itu karena cara membunuhmu yang brutal itu, siapa juga orang yang tidak takut melihat seseorang membantai teman-teman mereka sambil tertawa keras, minimal yang agak manusiawi lah Ihsan,” ucap Lintang.

“Sifat haus darahmu itu masih belum sembuh rupanya Ihsan,” ucap Alim.

“Eee itu emang susah cak, kadang sering kambuh, lagipula mungkin mereka akan senang mendengar tawaku,” ucap Ihsan.

“Cah edan, di medan pertempuran tawa dari musuh adalah suara paling mengerikan yang bisa didengar seorang prajurit, ini penaklukan bukan perang Ihsan, jangan kau rusak mental wargamu dengan menakuti mereka seperti itu,” ucap Lintang.

“Kayaknya tambah parah anak ini, sejak aku pindah setahun lalu dia terlihat semakin beringas,” ucap Alim.

“Jadi mereka tukang kebun yang baru ya aden, oiya salam juga den Alim, den Lintang,” tanya Riki yang baru saja turun dari gunung bersama Hani.

“Nah ini dia orangnya, kau akan menjaga keraton ini mulai hari ini Riki, tak perlu naik turun gunung lagi,” ucap Ihsan.

“Terus aden akan tinggal sendirian di gunung kailash mulai hari ini,” ucap Riki.

“Emang udah sendirian dari sebelumnya, maaf ya rumahmu jadi terangkat karena ulahku,” ucap Ihsan.

“Hhhh dasar aden, untung saja bayiku selamat,” ucap Hani dengan sedikit kesal.

“Udahlah aden itu sudah sekitar enam bulan lalu, gak perlu sering-sering minta maaf, lagipula kau sudah memberikan tempat tinggal baru untuk kami di keratonmu,” ucap Riki.

“Owh keraton ini untuk administrasi saja, emang ada kamar untuk kalian tapi tetap hak gunaku dan boleh ditinggali untuk umum, namanya saja fasilitas umum,” ucap Ihsan.

“Itupun tidak masalah, tapi kayaknya saya akan sesekali bergantian dengan istri saya untuk melatih atlet baru di lereng gunung kailash,” ucap Riki.

"Pantas saja atlet kita seperti monster semua, pelatihnya aja kayak gitu,” gumam Alim.

“Riki hanya melatih divisi sepak bola saja Alim, tidak semua latihan di lereng kailash, bukankah para seniman dilatih di devaloka bersamamu, eh siapa itu seniman kepalanya, hmm Amra ya, jarang-jarang ada seniman yang semahir itu, aku ingin melihatnya,” ucap Lintang.

“Kebetulan saja dia akan ke sini, sekarang tinggal menunggu yang lain untuk memulai peresmian,” ucap Alim sembari duduk tenang menunggu bersama Lintang yang membuatkan steak dan jus jeruk untuk mengisi waktu.

...

Jam 1 siang akhirnya semua teman Ihsan dan undangan mulai berdatangan di sekitar keraton.

“Eh Fira, kau gak sekolah,” tanya Ihsan begitu adiknya turun dari vimana kerajaan.

“Hmmm besok kan libur tahun baru mas, kau ini gimana sih,” ucap Fira.

“Eh iya juga, maaf aku lupa,” ucap Ihsan sembari menggendong adiknya itu.

“Kau membuat sebuah wilayah otonom ya Ihsan, ini keraton yang sangat bagus untuk sebuah kampung yang baru berdiri,” ucap ayahanda Shifa, raja mataram shri prabhu Dani.

“Hahaha, sekarang bukan hanya anakmu yang akan tinggal di keraton, anakku nanti juga akan tinggal di sini, shri prabhu,” ucap ayahanda Shafa, pak Akhmad yang datang bersama keluarganya.

“Heh itu belum kejadian loh, jangan sombong dulu kau,” ucap Dani.

“Tapi ini memang bagus sekali, kau membangunnya sendiri nak,” tanya ayahanda Sekar, rshi Roni.

“Iya om, syarat wilayah otonom memang seperti itu kan,” ucap Ihsan dengan riang.

“Kau benar, seperti kerajaan mataram,” ucap Dani.

“Sebelum peresmian dimulai, aku ingin tanya satu hal,” ucap ayah Lintang, pak Damar.

“Eeee apa pak,” tanya Lintang.

“Kemana aja kau gak lapor apa-apa, bapakmu ini sempat kaget setengah mati karena maharaja tiba-tiba memintamu jadi rshi, kau ngapain aja le kok gak ngasih kabar,” tanya Damar.

Lihat selengkapnya