Keesokan hari di Garudapura Shafa terlihat merenung, pagi itu dia membuat sedikit kudapan untuk menonton berita namun betapa kagetnya dia melihat Ihsan ada diberita sedang melakukan pembakaran dan penguburan besar-besaran.
“Apa yang dia lakukan, sampai hal seperti itu terjadi, hah!?, sekelompok pembunuh dan teroris, kenapa dia bisa diincar seperti itu, apa salahnya sehingga banyak orang mengincar nyawanya,” gumam Shafa saat melihat bermacam berita dari Ihsan yang mengagetkannya.
“Ei, Shafa kenapa kau, hhh bukannya berita seperti itu wajar, Jonggring Saloka adalah wilayah yang sangat kaya atau mungkin lebih tepatnya Ihsan yang sangat kaya, sehingga akan banyak orang yang mengincarnya, tapi tenang saja, dia sangat kuat, kalungmu itu buktinya,” ucap Rafi sembari menunjuk permata merah berbentuk hati dikalung Shafa.
“Ini tidak masuk akal, bagaimana anak baik seperti itu diincar banyak orang,” tanya Shafa dengan mata yang dipenuhi kekhawatiran.
“Nak, justru karena itu dia banyak diincar, anak sekaya itu diusia yang sangat belia membuatnya banyak diremehkan dan mengundang iri hati, apalagi mungkin banyak orang yang meragukan kemampuannya sebagai maharathi, dengarkan aku anakku, alasanku tidak mau memberikan tanganmu pada Ihsan adalah karena dia dan dirimu adalah sasaran para oknum tak bertanggungjawab, kalau saat sendiri saja dia sudah banyak diincar, apalagi dengan dirimu dan statusmu, saat ini kau hanya akan membawa bencana untuk Ihsan,” ucap Akhmad.
“Tapi aku juga seorang pejuang, aku bisa ikut membantunya,” ucap Shafa.
“Kau gak bisa Shafa, melindungi dirimu saja kau kesusahan, eh asal kau tau ya Ihsan itu sudah mencapai gelar maharathi sama seperti ayah, kita masih atirathi, perbedaan kemampuan bertempurnya sudah beda jauh, bahkan aku dengar dia pernah ditawari posisi rshi, ayah saja tidak pernah, kalau kau kesana kau hanya akan jadi bebannya, kau tau sendiri berapa banyak pria hidung belang yang mengincarmu tiap hari,” ucap Rafi.
“Tapi aku sudah bisa melindungi diriku sendiri,” ucap Shafa.
“Yang kau habisi itu hanya sebagian kecil saja, ayah yang selama ini membuatkan kubah deteksi untuk mengamankanmu juga sering memberantas orang-orang bodoh itu bersamaku, siang dan malam, memang kadang kau juga harus menghadapi mereka, tapi sebagian besar ayah juga yang mengatasinya, apa kau mau menyusahkan Ihsan dengan semua hal itu, lingkungannya jauh lebih berbahaya Shafa, jangan kau tambahi kesulitannya dengan keberadaanmu,” ucap Rafi.