Jum'at 4 Januari 2013, keraton enam sisi sudah jadi dan pembangunan fasilitas terjadi sangat cepat di Jonggring Saloka.
“Kau, berkunjung kesini lagi ya Shafa, sendirian ya,” tanya Ihsan yang terus mengaktifkan rajanetranya tanpa henti.
“Aku kabur dari rumah Ihsan, aku khawatir denganmu,” ucap Shafa.
“Semuanya sudah mulai tertata kok, tenang saja, pak Anas, bagaimana regulasi sumber daya kita,” tanya Ihsan yang terlihat kurang tidur.
“Semuanya aman prabhu, jumlah pasokan untuk lumbung makanan sudah aman, redistribusi juga berlangsung sangat cepat, kini kampung lain juga sudah bisa menerima jagatpati untuk pertukaran sumber daya setelah penyuluhan pembuatan bintang dan reaktor fusi nuklir yang kau lakukan waktu itu dan kita sekarang secara aktif sudah jadi pemasok utama bahan bakar bintang ini, sebagai gantinya kita mendapatkan banyak sekali sumber daya pokok seperti bahan beras, kain, kayu, dan juga obat-obatan,” ucap Anas.
“Bagus, terimakasih pak, eh mana Fio dan Lina, mereka seharusnya menyambut tamu,” ucap Ihsan.
“Kenapa sekarang kau memperlakukan diriku seolah aku orang yang sangat jauh Ihsan,” tanya Shafa.
“Aku sudah bilang padamu Shafa, kalau tempat ini untuk administrasi, aku masih sibuk disini, kau tidak seharusnya langsung masuk begitu saja keruangan kerjaku,” tegur Ihsan.
“Kamu terlihat stress Ihsan, apa yang terjadi,” ucap Shafa.
“Tunggu aku diluar Shafa, aku masih harus mengecek beberapa hal, tunggu aku diluar, aku juga senang kau datang, baiklah pak Heru, kita sudah cukup dengan bahan yang kau minta, apakah kita bisa memulai pabrik senjatanya,” ucap Ihsan.
“Segera prabhu,” ucap Heru.
Sementara Shafa pergi menuju taman dan duduk menunggu.
“Ayah benar, dia belum punya waktu untukku, ini masih terlalu dini bagiku untuk datang, taman disini sungguh indah ya,” gumam Shafa ditaman dan bermain dengan kucing-kucing disana.
“Ajeng, kapan datang, waduh maaf ya aku baru datang, habis ngurus tamu, banyak banget, sekarang Fio yang mengurus mereka sendiri, aku diminta untuk menemuimu, engkau tidak apa-apa kan ajeng,” ucap Lina.
“Tenang aja mbak, aku baik-baik saja kok, jam istirahat Ihsan kapan,” ucap Shafa.
“Setelah dzuhur sampai ashar Ajeng, tapi karena hari ini jum'at ya setelah sholat jum'at, kau butuh apa Ajeng,” ucap Lina.
“Aku dengar kabar Ihsan yang diburu para teroris, apakah itu benar,” tanya Shafa.
“Itu benar ajeng, prabhu belum tidur semenjak pembukaan dan terus bekerja,” ucap Lina.
“Sampai tidak bisa tidur ya,” ucap Shafa dengan geram dan matanya yang mulai merah seperti darah.
“Ajeng, apa yang akan kau lakukan,” ucap Lina.
“Aku keluar sebentar ya, mau bersih-bersih rumahku ini, kamu urus tamu ya Lina,” ucap Shafa sembari melesat pergi penuh dengan amarah.
“Apa ini, tanahnya meleleh,” pikir Lina sembari berusaha memadamkan lelehan tanah bekas tempat berdiri Shafa.
Sementara itu diangkasa, Shafa mengeluarkan kedua pedangnya dan mulai bermanuver mengelilingi keraton Suralaya dari tempat yang cukup jauh dan dia melihat beberapa vimana tempur mendekati keraton.
Saat itu juga api dipedangnya menyala dengan kuat dan Shafa menyerang vimana itu sendirian dan membelahnya dengan mudah namun hal yang tidak Shafa sadari bahwa vimana itu bom yang meledak tepat diwajahnya, namun Shafa bertahan tanpa banyak luka berarti dan bahkan mulai mengayunkan pedang berantainya dengan semakin cepat.
Tepat jam satu siang Shafa akhirnya selesai membersihkan banyak sekali pembunuh disekitar keraton dan pulang dengan penuh darah dan luka bakar.