Bhairava

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #11

Jatuh Keatas

“Aku tidak percaya wilayah ini baru didirikan sepuluh hari lalu, memang keberadaan tambahan jumlah manusia secara harian dari akshauhini dan artaguna akan membantu, tapi tidak semegah ini juga,” ucap Rasha.

“Aku menghadiri pembukaannya, aku juga ikut membersihkan wilayah ini, ini nyata Rasha, inilah yang terjadi kalau sebuah wilayah dibangun atas dasar saling percaya dan saling menghargai,” ucap Lintang.

“Eh apa itu Lintang, kenapa ada kepala-kepala yang ditanam di sana, mereka masih hidup!?” ucap Bowo seolah tidak percaya melihat pemandangan itu di lapangan dekat pasar.

“Tak ada diskriminasi di sini, siapapun yang melakukan tindakan terpuji akan dihargai, siapapun yang melakukan tindakan terhina akan dihukum, ini adalah harga yang harus dibayar untuk maju,” ucap Lintang.

“Tapi melakukan hukuman di depan umum seperti ini sangat mengerikan Lintang,” ucap Rasha.

“Inilah keadilan Rasha, inilah keadilan, tak ada perasaan dalam keadilan,” ucap Bowo sementara Lintang hanya mengangguk sambil meneruskan perjalanan mereka ke pasar dan mereka melihat sebuah tempat yang sangat ramai dengan manusia-manusia yang sedang menjalankan aktivitas mereka, mereka sedang berkeliling hari itu melihat-lihat barangkali ada barang yang menarik untuk dibeli.

“Hmm lihat Lintang, bukankah itu kerajinan anyaman bambu, aku mau beli, kayaknya lucu,” ucap Rasha yang langsung pergi begitu saja.

“Kayaknya itu peralatan tani deh,” gumam Lintang.

“Meski itu peralatan tani tapi laris sekali,” ucap Bowo.

“Iyalah, ini wilayah agraris, ada sistem sewa tanah di sini dimana mereka tidak bisa beli tanah tapi boleh menyewa nantinya akan dibayar dengan sepuluh persen hasil dengan tanda tangan pada pihak penyedia,” ucap Lintang.

“Itu akan sangat menguntungkan warga, belum lagi artaguna mereka akan membludak setelah itu,” ucap Bowo.

Lalu tak lama Rasha pulang dengan sebuah caping dan keranjang anyaman bambu.

“Hehe, ini murah sekali, gak mungkin mereka jual barang sebagus ini dengan murah, eh cantik gak,” ucap Rasha.

“Itu kan peralatan tani, jelaslah murah, tapi kau cantik kok pake itu,” ucap Lintang.

“Eee peralatan tani ya, kok bagus banget, aku mau tinggal di sini kalau barang seperti ini dijual murah, lumayan sih, kecantikan para petani desa hahaha ide yang bagus,” ucap Rasha.

“Iyadeh sipaling model, hhh kau kan sudah dilarang ikut modelling, mirip seperti tiga dewi itu,” ucap Bowo.

“Ah iya juga, tapi kalau aku memakai baju yang cukup tertutup aku masih boleh kok,” ucap Rasha.

“Dahlah, kau cuma menghalangi potensi model lain, mana mungkin ada produk kecantikan yang mau pakai dirimu karena kalau kau pakai produk mereka penampilanmu malah tambah jelek, sekarang aku paham kenapa jadi cantik itu juga kutukan,” ucap Bowo yang membuat Rasha tertunduk sedih.

“Dah wei, kok malah bertengkar ini lho, dah Rasha, itu anugrah kok, jangan kau sesali, syukuri saja, mungkin dunia belum siap, perlu waktu untuk itu, mungkin anak-anak kita nanti yang akan hidup di dunia yang sudah terbiasa menyaksikan keajaiban seperti kalian, dah ya ayo beli barang lain mumpung kau juga ada keranjang bambu,” ucap Lintang yang kemudian segera beralih dari tempat itu dan kembali dibuat takjub dengan berbagai hal yang ada di sana.

...

Sementara itu di keraton, orang-orang di taman untuk menguji senjata baru.

"Jadi pak Damar, kau yakin akan mencoba menahan tambahan senjata kita, kalau dirimu terluka bagaimana," ucap Ihsan.

Lihat selengkapnya