"Apaan ini Ihsan, persebaran ekonominya sangat tidak beraturan. Daerah mana dulu yang harus kita pertahankan, kok bisa bergerak seperti ini sih," ucap Bowo.
"Hmm mas, bukannya memang harusnya seperti itu. Siapa yang berusaha lebih akan mendapatkan lebih," ucap Ihsan.
"Berarti kita tidak bisa fokus ke wilayah ekonomi. Bukankah sebelumnya kita juga sudah setuju untuk melindungi wilayah ini dari dalam, pusat wilayah tetap keraton Suralaya kan," tanya Rasha.
"Kalau itu jelas sih, tapi gimana cara kita mempertahankan sebagian besar aset kalau begini caranya," tanya Bowo.
"Siapa informan di sini Ihsan," tanya Lintang.
"Tuh," ucap Ihsan sambil menunjuk Reda yang sedang mengurus penyiaran berita.
"Kenapa menanyakan masalah informasi Lintang," tanya Rasha.
"Ini adalah cara termudah kita membuat pertahanan. Unit tempur di sini adalah kala sena yang punya mobilitas tinggi, kita perlu memanfaatkannya dengan informan yang baik," ucap Lintang.
Ihsan lalu memanggil Reda untuk memaparkan kondisi yang ada.
"Jadi apa saja informasi yang kita miliki di sini," tanya Damar.
"Sebentar, hhh kau ini suka sekali mendadak prabhu. Oke, jadi kita mulai dengan skala prioritas warga di sini yang kami nilai berdasarkan perbuatan mereka selama menjadi masyarakat. Ya meskipun tetap saja kelahiran juga berpengaruh, tapi di sini prioritas atau biasa disebut varna bisa berubah," ucap Reda.
"Heh katanya tak ada diskriminasi di sini, kenapa ada varna. Bahkan di Sahasradwipa sudah tidak memakai sistem itu, kenapa kau memakainya Ihsan," bantah Bowo.
"Ini untuk mengumpulkan prioritas saja. Lagipula ini bukan status yang mereka bawa dari lahir, melainkan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai perbuatan," ucap Ihsan.