Pelabuhan Tanjung Wangi, 19 Januari 2013
"Akhirnya kita sampai juga. Oi pak Arnu, kau dan skuadmu sudah siap untuk menghadapi Ihsan kan? Kita akan segera menuju Jonggring Saloka," ucap Chris.
"Kami siap saja, Pak," ucap Arnu.
"Bagaimana tim milikmu, Gede?" tanya Chris.
"Aman saja, Pak. Kami siap dari tadi. Iyakan, Jerry?" ucap Gede sambil turun dari saubha vimana dengan puluhan pembunuh di belakangnya.
"Panggil kami dengan nama kebanggaan kami, pak Gede, atau kami juga akan mengincarmu," ucap Jerry.
"Baiklah, tim balaraja. Aku mempercayai kalian," ucap Gede, diikuti anggukan dari Jerry dan teman-temannya.
Pasukan raksasa di belakang mereka segera melesat menuju Jonggring Saloka dengan wahana masing-masing. Dua ekor lembu nandini yang ditunggangi Chris dan Gede terbang di depan, diikuti pasukan penunggang gajah dan pasukan berkuda, lalu para penunggang kencana, dan diakhiri dengan para rakshasa yang mengerikan. Kota Tirtawangi hari itu terasa sangat mencekam dengan kedatangan pasukan dari pelabuhan Tanjung Wangi. Begitu mereka mengudara di kota yang penuh hutan itu badai segera turun bersahut-sahutan, diikuti pekikan penuh amarah dari para pebisnis lawas di seluruh Sahasradwipa.
"Ini akan jadi pembantaian, pak Gede," ucap Chris.
"Kau jangan salah, pak Chris. Target kita hanya dua, Ihsan sang bhairava dan Lintang sang skanda yang kebetulan ada disana. Itu sudah lebih dari cukup. Kita akan atasi Yusuf nanti, dia terlalu dicintai para pemotor kota Ngalam yang sangat barbar, tapi kalau pilar utamanya tumbang semua akan menyusul," ucap Gede.
Tak lama kemudian, mereka mengudara dengan cepat menuju Jonggring Saloka tempat tinggal sang bhairava.
...
Sementara itu di Jonggring Saloka badai mulai menderu dengan sangat kuat di sekitar keraton Suralaya.
"Prabhu pashupati, desa kita mendapatkan pengakuan untuk menjadi wilayah distrik. Engkau akan segera menjadi wedana setelah ini," ucap Riki.