Ketika hujan turun, kebanyakan manusia akan menepi untuk menunggu reda, entah sampai kapan. Seberharga apa pun tujuan yang sedang mereka kejar, hampir tidak ada yang berani melawan hujan. Semua memilih berteduh. Seolah-olah di hadapan hujan, manusia memang tidak pernah benar-benar memiliki kuasa.
Hujan memang sekuat itu. Kehadirannya membuat manusia menciptakan payung, jas hujan, hingga menyewa pawang hujan agar ia tidak turun pada waktu yang dianggap penting. Jika hujan datang di tengah pesta pernikahan, orang-orang akan menggerutu. Jika hujan turun ketika banjir merendam rumah dan merenggut nyawa, hujan kembali dituduh sebagai penyebabnya. Padahal, hujan hanya menjalankan tugasnya sebagai hujan. Manusialah yang memberi makna pada setiap tetesnya.
"Makanya aku selalu merasa hujan bukan sesuatu yang bisa kita lawan, Lail," kata Karim dari balik telepon. "Dia datang tanpa meminta izin kepada siapa pun."
Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. Sudah hampir satu jam kami menghabiskan waktu di telepon hanya untuk menunggu hujan reda. Karim memang seperti itu. Selalu berhasil memfilosofikan hal-hal sederhana yang ada di sekitarnya. Kadang aku tidak mengerti bagaimana hujan, genangan air, lampu jalan, atau suara kendaraan bisa berubah menjadi bahan obrolan yang panjang jika sedang bersamanya.
"Kalau air berbeda," lanjutnya. "Air memang sama-sama tidak bisa memilih dilahirkan sebagai apa. Tapi setelah jatuh, dia selalu menemukan jalannya sendiri. Mau ditaruh di gelas, sungai, bahkan bak mandi, air akan tetap mengalir sampai menemukan tempat yang bisa menampungnya."
Entah mengapa aku lebih menyukai cara Karim memandang air daripada hujan. Hujan hanya jatuh, sedangkan air selalu bergerak.
"Hujan di sana belum reda saja, Laila?"
"Sepertinya sebentar lagi akan reda."
"Gimana kalau sampai malam belum reda?"
"Nanti aku pesan taksi."
Karim terdengar lega mendengarnya. Biasanya aku paling enggan mengeluarkan ongkos untuk pulang. Selama masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, aku akan memilih berjalan. Bukan hanya karena jarak kampus dan kontrakan tidak terlalu jauh, tetapi karena perjalanan itu selalu terasa lebih singkat jika ditemani Karim lewat telepon. Kehadiran fisiknya memang belum pernah benar-benar ada di sampingku, tetapi selama dua tahun terakhir, suaranya selalu berhasil mengisi perjalanan pulangku.
Hubungan kami memang terdengar aneh bagi sebagian orang. Dua tahun berpacaran, tetapi belum pernah bertemu satu kali pun.
Orang-orang menyebutnya Long Distance Relationship, atau LDR.
Aku dan Karim menjalaninya tanpa pernah benar-benar mempertanyakan mengapa kami bisa bertahan selama ini. Mungkin karena kami tidak pernah memaksa hubungan ini menuju tempat tertentu. Kami membiarkan semuanya mengalir sebagaimana air. Sama-sama bergerak, sama-sama menempuh perjalanan masing-masing, sambil percaya bahwa suatu hari nanti aliran itu akan mempertemukan kami pada muara yang sama.
"Nanti," begitu kata Karim setiap kali aku bertanya kapan kami akan bertemu.
Dan anehnya, kata sesederhana itu selalu cukup membuatku menunggu lebih lama.
"Kar, hujannya baru reda."
Karim terdengar mengembuskan napas lega.
"Akhirnya. Berarti gak perlu keluar ongkos, deh."
Aku tertawa kecil, lalu mulai berjalan pulang sambil menceritakan bagaimana hariku sebagai mahasiswa jurusan arsitektur. Tentang dosen yang tidak masuk kelas tetapi tetap memberikan kuis lima puluh soal. Tentang kantin yang hampir kehabisan makanan karena hujan turun sejak siang. Tentang Cika yang mempunyai teman baru, mahasiswa dari jurusan lain, bernama Panji Gunawan.
"Jurusannya sama kayak kamu, Sastra Bahasa Indonesia."
"Oh ya?" nada suara Karim langsung berubah penasaran. "Terus gimana cara dia ngomong?"
Aku sempat terdiam sambil membayangkan Panji.
"Hmm... sedikit mirip kamu. Tapi aku kurang yakin."
"Kurang yakin bagaimana?"
"Sepertinya Cika mulai suka sama dia."
"Loh, bukannya Cika masih pacaran sama Dani?"
"Iya. Tapi suara Panji memang bagus. Cara dia bicara kayak orang yang lagi membacakan puisi. Pelan, tapi enak didengar."
Beberapa detik Karim tidak menjawab.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, "kamu juga harus hati-hati, Laila."
Langkahku seketika terhenti.
Aku diam, mencoba mencerna nada suaranya. Ini bukan kali pertama Karim mengatakan hal seperti itu. Biasanya aku hanya tertawa, lalu pembicaraan selesai begitu saja. Namun entah mengapa, kali ini kalimat itu terdengar berbeda. Bukan seperti candaan. Ada kekhawatiran yang terlalu pelan untuk diakui, tetapi cukup jelas untuk kurasakan.
"Aku gak bakal kayak gitu, Kar."
"Iya... maaf."
Sesederhana itu. Karim meminta maaf, aku menerimanya, lalu kami membiarkan percakapan berjalan ke arah lain. Mungkin memang begitu cara kami menjaga hubungan ini tetap baik. Kami jarang memperpanjang sesuatu yang berpotensi berubah menjadi pertengkaran.
Karim lalu mulai bercerita tentang harinya. Tentang bagaimana ia harus berangkat bekerja pukul delapan pagi, membeli nasi Padang saat jam makan siang karena tidak sempat memasak, lalu kembali menghabiskan waktu di depan laptop sebagai content writer di sebuah portal berita di ibu kota—kota tempat ia lahir, tumbuh, kuliah, bekerja, dan belum pernah benar-benar ia tinggalkan selama dua puluh lima tahun hidupnya.
Karim lahir dan besar di pulau yang berbeda dariku. Ketika aku masih sibuk mengerjakan tugas kuliah dan mengejar tenggat, kehidupannya sebagai mahasiswa justru telah selesai jauh sebelum kami saling mengenal. Ia lulus sebagai mahasiswa terbaik. Pengalaman magangnya yang tidak sedikit membuatnya tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah portal berita di ibu kota.
Sementara itu, aku masih berkutat dengan kehidupan kampus. Sebulan terakhir kuhabiskan menjalani Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa yang bahkan sinyal telepon sering kali menghilang menjelang malam. Karim selalu menghitung hari sampai KKN-ku selesai. Bukan hanya karena akhirnya kami bisa kembali berbicara lebih lama, tetapi juga karena bulan depan adalah bulan kelahiranku.
Kantornya sedang merencanakan liputan ke luar pulau. Tepatnya, ke pulau tempatku tinggal.
"Doain aku kepilih, ya," katanya beberapa hari lalu. "Kalau jadi berangkat, berarti takdir akhirnya capek juga nyuruh kita nunggu."
Aku hanya tertawa mendengarnya. Karim memang sering menyebut takdir seolah-olah ia adalah seseorang yang bisa diajak berunding.
"Kontrakanku sudah kelihatan, Kar."
"Berarti bentar lagi ditutup teleponnya, ya?"
Aku mengangguk meski tahu ia tak mungkin melihatnya.
"Memang masih ada yang mau kamu omongin?" tanyaku sambil terus melangkah.
Ada jeda beberapa detik.
"Aku gak yakin."
"Hm?"
"Aku gak bisa janji bakal kepilih berangkat ke pulau kamu."
Aku tersenyum kecil.
"Aku memang gak pernah meminta itu kepada Tuhan, Kar."
"Memangnya kamu gak mau ketemu aku?"
"Bukan begitu."
Aku mengatur napas sebelum melanjutkan.
"Cuma... aku lebih suka menjalani sesuatu yang sudah ada di depan mata daripada berharap pada sesuatu yang belum tentu datang."
Di seberang sana Karim tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar lebih pendek dari biasanya.
"Berarti aku memang belum sepasti itu, ya."
"Bukan begitu."