Biarkan Air Mengalir Sebagaimana Hujan

dari Lalu
Chapter #2

BAB 2

Keesokan paginya, aku datang ke kampus lebih awal dari biasanya. Aku berharap semalam bisa menghapus percakapanku dengan Karim dari kepala, tetapi ternyata beberapa kalimat pesan memang memilih tinggal lebih lama daripada yang kita inginkan.

"Kamu pernah tidak memikirkan kalau kita tidak sempat bertemu selama kita masih hidup?"

Kalimat itu terus berulang, bahkan ketika dosen menjelaskan materi di depan kelas.

Biasanya aku selalu mencatat. Bukan karena rajin, melainkan karena aku takut ada satu penjelasan yang terlewat. Namun pagi itu, buku catatanku hanya berisi judul mata kuliah dan beberapa kalimat yang bahkan tidak selesai kutulis. Tanganku bergerak, tetapi pikiranku tidak berada di ruangan ini.

Aku baru menyadari kelas telah berakhir ketika sebuah pukulan kecil mendarat di pundakku.

"Lail!"

Aku menoleh. Cika sedang mengerutkan dahi sambil menatapku heran.

"Kenapa? Kamu bengong dari tadi. Dosen udah keluar lima menit yang lalu."

Aku tersenyum kecil, lebih karena tidak enak daripada karena benar-benar baik-baik saja.

"Perasaanku lagi nggak enak aja."

"Lagi ada masalah sama Karim?"

Aku menggeleng pelan.

Sebenarnya bukan masalah. Karim tidak mengatakan sesuatu yang salah. Justru karena tidak ada yang salah, pertanyaan semalam terasa jauh lebih mengganggu.

Aku tidak pernah takut bertemu dengannya.

Aku hanya takut bahwa harapan kami tumbuh lebih cepat daripada waktu yang mampu mengejarnya.

"Ya udah," kata Cika sambil memasukkan laptop ke dalam tas. "Jadi ke perpustakaan, nggak? Atau langsung pulang?"

Aku mengangguk.

"Ke perpustakaan."

Sudah beberapa minggu terakhir aku mulai mengumpulkan referensi untuk tugas akhir. Ibu bahkan berkali-kali mengingatkanku agar lulus tepat waktu. Setelah itu, katanya, aku harus melanjutkan S2 di negara tempat beliau bekerja sekarang.

Aku selalu mengiyakan.

Entah karena memang ingin, atau karena sejak Ayah meninggal aku merasa tidak punya alasan untuk banyak membantah permintaan Ibu.

Kami berjalan melewati koridor fakultas yang mulai lengang. Matahari belum benar-benar muncul sejak pagi. Langit masih dipenuhi awan kelabu yang menggantung rendah, seolah hujan hanya sedang memilih waktu yang tepat untuk turun.

Beberapa langkah sebelum pintu perpustakaan, Cika tiba-tiba memperlambat langkahnya.

"Kayaknya Panji ada di dalam."

Aku mengikuti arah pandangannya.

Benar saja.

Panji duduk sendirian di meja dekat jendela, tepat di samping rak buku sejarah. Kepalanya sedikit menunduk sambil membolak-balik halaman buku yang tampak sudah penuh coretan stabilo.

Aku hanya menghela napas pelan.

Sejak Cika mengenalkanku dengannya beberapa minggu lalu, rasanya selalu ada saja kesempatan kami bertemu di kampus. Kadang di kantin. Kadang di pelataran fakultas. Kadang di perpustakaan seperti sekarang.

Bukan sesuatu yang aneh.

Hanya saja...

Sejak Karim mengatakan ingin berkenalan dengannya, aku justru menjadi canggung setiap kali Panji ada di dekatku.

Padahal Panji tidak melakukan apa-apa.

Mungkin memang begitulah prasangka bekerja. Ia mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi terasa berbeda, padahal tidak ada siapa pun yang berubah.

Aku menempelkan kartu perpustakaan pada mesin akses.

Pintu terbuka pelan.

Panji mengangkat wajahnya dan tersenyum ketika melihat kami.

"Halo."

"Halo," balas Cika lebih dulu.

Aku ikut mengangguk kecil.

Setelah mengambil beberapa buku, kami bertiga akhirnya duduk di meja yang sama.

Perpustakaan selalu menjadi tempat paling tenang di kampus. Tidak ada suara selain halaman-halaman buku yang dibalik, langkah pustakawan yang sesekali melintas, dan bunyi pendingin ruangan yang hampir tidak terdengar.

Aku mencoba kembali fokus membaca.

Namun, beberapa kali tanpa sadar, pikiranku kembali melompat pada percakapan semalam.

Aneh.

Seseorang yang berada ratusan kilometer dariku justru memenuhi kepalaku lebih sering daripada orang yang sedang duduk satu meja di hadapanku.

Dua jam berlalu tanpa terasa.

Ketika buku terakhir kututup, perpustakaan mulai sedikit lengang. Mahasiswa satu per satu beranjak pulang, meninggalkan meja-meja yang sejak siang dipenuhi tumpukan buku. Tidak ada kelas lagi setelah ini.

Aku mengeluarkan ponsel sambil berjalan keluar bersama Cika dan Panji. Langit masih menggantungkan awan-awan kelabu. Tidak segelap kemarin, tetapi cukup membuatku yakin sore ini hujan tidak akan lama lagi turun.

Aku membuka ruang obrolanku dengan Karim.

Kuliahku udah selesai. Telepon kalau udah sempat ya.

Pesan itu langsung terkirim.

Seperti biasa, aku menunggu tulisan online muncul di bawah namanya.

Namun tidak ada.

"Ya udah, aku ke kelas dulu, ya."

Suara Panji membuyarkan lamunanku.

Ia masih memiliki satu urusan di gedung sebelah sehingga harus berpisah lebih dulu.

"Hati-hati," kataku singkat.

Panji mengangguk, lalu berjalan menjauh.

Aku dan Cika kembali menuju kelas hanya untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal di meja. Lima menit kemudian kami sudah berada di gerbang kampus bersama ratusan mahasiswa lain yang bergegas pulang sebelum hujan turun.

Aku kembali menatap layar ponsel.

Belum ada balasan.

Biasanya, sebelum aku benar-benar keluar dari area kampus, Karim sudah lebih dulu menghubungiku. Kalau sedang sibuk, setidaknya akan ada satu pesan singkat.

"Lagi kerja. Nanti aku telepon."

Hari ini tidak ada apa-apa.

"Lail."

Aku menoleh.

Cika sedang menatap langit yang mulai diselingi suara gemuruh.

"Kayaknya bentar lagi hujan."

Aku hanya mengangguk pelan. Mataku masih sesekali turun ke layar ponsel.

Beberapa detik kemudian terdengar suara nada sambung dari telepon Cika.

"Dani udah sampai," katanya sambil tersenyum kecil. "Aku dijemput."

Aku membalas senyum itu.

"Ya udah, duluan aja."

"Kamu kapan pulang?"

"Nunggu Karim dulu."

Cika tampak ragu meninggalkanku. Tatapannya bergantian antara langit yang semakin gelap dan wajahku yang mungkin terlihat jauh lebih kusut daripada biasanya.

"Yakin nggak ikut sekarang?"

"Iya."

"Oke. Hati-hati, ya."

Aku mengangguk.

Tidak lama kemudian Cika berlari kecil menuju sepeda motor Dani yang berhenti di depan gerbang.

Kini tinggal aku seorang diri.

Aku kembali melihat ponselku.

Masih belum ada pesan.

Lihat selengkapnya