Air yang tidak mengalir akan meninggalkan genangan. Semakin lama dibiarkan, air itu berubah keruh, mengundang lumut, lalu perlahan kehilangan kejernihannya sendiri. Aku sering berpikir hubungan manusia pun mungkin tidak jauh berbeda. Komunikasi barangkali bukan sekadar cara menyampaikan kabar, melainkan aliran yang membuat perasaan tetap hidup. Sebab ketika kata-kata berhenti mengalir, yang pertama kali datang bukanlah kehilangan, melainkan prasangka.
Sudah dua hari Karim tidak memberi kabar.
Aneh rasanya, tetapi aku masih berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya baik-baik saja. Karim bekerja di portal berita. Ada hari-hari ketika pekerjaannya menyita seluruh waktunya. Kadang ia baru sempat membalas pesanku menjelang tengah malam. Kadang baru keesokan paginya. Itu pernah terjadi, hanya saja tidak sesering sekarang. Karena itu aku memilih percaya. Bukankah kepercayaan memang diuji justru saat kita tidak memiliki jawaban?
Aku berusaha menganggap semuanya masih sama.
Yang justru membuatku kesal hari itu adalah jadwal kuliah. Seharusnya kelas berlangsung siang, tetapi dosen mendadak menggesernya ke sore karena menghadiri sebuah acara penting. Artinya aku harus pulang lebih malam. Artinya pula kemungkinan bertemu Panji menjadi lebih besar.
Sejak pengakuannya di bawah hujan kemarin, nama itu saja sudah cukup membuat kepalaku lelah.
Bukan karena aku bimbang. Justru karena aku sama sekali tidak bimbang.
Aku hanya tidak mengerti mengapa seseorang bisa mengucapkan perasaan secepat itu kepada orang yang nyaris tidak dikenalnya. Bagiku, menyukai seseorang mungkin bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun mengungkapkannya adalah perkara lain. Ada batas yang seharusnya dijaga agar perasaan tidak berubah menjadi beban bagi orang lain.
Berangkat ke kampus langit sudah menggantungkan mendung. Ketika kelas selesai menjelang petang, langit masih memelihara warna yang sama. Dari balik jendela, awan tampak pekat seperti kaca mobil berlapis film hitam. Cahaya matahari nyaris tidak berhasil menembusnya.
Aku memasukkan buku ke dalam tas sambil menghela napas panjang.
"Kamu udah tahu dari dulu kalau Panji suka sama aku?" tanyaku kepada Cika yang sedang sibuk merapikan laptopnya.
Cika menoleh sambil tersenyum kecil.
"Justru aku udah bilang ke dia kalau kamu cinta mati sama Karim."
Aku menatapnya datar.
"Aku serius, Cika."
"Aku juga serius."
Jawabannya membuatku semakin bingung.
"Terus kamu masih berteman sama dia karena apa?"
Cika menutup resleting tasnya lebih dulu sebelum menjawab.
"Dia saudara jauh. Jauh banget malah. Kalau dipikir-pikir sih udah gak pantas disebut saudara. Tapi dari kecil keluargaku memang kenal sama keluarganya. Dia orangnya baik, Lail."
"Bukan soal baik atau enggaknya." Aku menghela napas lagi. "Yang bikin aku kesel itu... siapa, sih, yang nyatain perasaan di bawah hujan kayak gitu?"
Kali ini Cika benar-benar tertawa.
"Tapi itu Panji."
Seolah kalimat itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
Aku ikut menggeleng pelan. Mungkin memang begitu. Barangkali penyair hidup dengan logika yang berbeda dari kebanyakan orang.
Kami keluar kelas bersama. Lorong gedung sudah jauh lebih lengang dibanding biasanya. Beberapa ruang kuliah bahkan sudah gelap. Mahasiswa yang tidak memiliki kelas sore tampaknya sudah pulang sejak satu jam lalu. Hanya suara langkah kaki kami yang sesekali memantul di sepanjang koridor.
Sesampainya di gerbang kampus, Cika langsung menghubungi Dani.
Aku justru membuka layar ponselku.
Masih sama.
Tidak ada pesan.
Tidak ada panggilan.
Tidak ada nama Karim muncul di layar.
"Kamu udah chat Karim?" tanya Cika setelah menutup telepon.
Aku mengangguk pelan.
"Dari kemarin."
"Terus?"
"Belum dibalas."
"Udah coba telepon?"
Aku menggeleng.
"Aku gak berani."
Cika menatapku beberapa detik, seolah ingin memastikan aku sedang bercanda.
"Laila."
"Nggak apa-apa."
"Nggak apa-apa gimana?"
"Aku tahu kerjaan Karim kayak apa. Bisa jadi dia lagi liputan. Bisa jadi lagi dikejar deadline."
Aku mengucapkannya dengan tenang. Terlalu tenang, bahkan untuk diriku sendiri. Rasanya seperti sedang berusaha meyakinkan orang lain, padahal yang sebenarnya sedang ingin diyakinkan adalah diriku sendiri.
Cika menghela napas pelan.
"Kalau hubungan kalian belum dua tahun, aku udah nyuruh kamu putusin dia dari kemarin."
Aku tertawa kecil.
"Tapi untungnya udah dua tahun."
"Iya. Makanya aku masih sabar."
Tepat setelah itu sebuah mobil merah berhenti di depan gerbang. Dani melambaikan tangan dari balik kaca.
Cika menepuk lenganku pelan.
"Kalau malam ini masih belum ada kabar, telepon dia."
Aku hanya mengangguk.
Mobil Dani perlahan meninggalkan halaman kampus, menyisakan aku sendirian di bawah langit yang semakin gelap. Awan sore itu tampak menggantung rendah, seolah hanya menunggu satu alasan kecil untuk akhirnya menjatuhkan hujan.
Aku menarik napas panjang lalu mulai melangkah.
Baru beberapa meter meninggalkan gerbang, seseorang berlari melewatiku dengan tergesa-gesa.
Panji.
Ia bahkan nyaris menabrakku sebelum terus berlari masuk ke area kampus.
Aku berhenti sesaat dan menoleh ke belakang. Tubuhnya semakin jauh, menghilang di antara gedung-gedung fakultas yang mulai lengang.
Aneh.
Kemarin ia mengejarku.
Hari ini justru ia berlari menjauhiku.
Aku sempat bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Namun hanya sebentar. Tidak semua rasa penasaran harus dikejar jawabannya.
Aku kembali melangkah pulang.
Di kepalaku hanya ada satu nama yang sejak kemarin belum juga pulang.
Karim.
Ada yang terasa sangat berbeda hari itu.
Bukan hanya karena teleponku tidak lagi diisi suara Karim, melainkan karena untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu yang selama ini luput kupikirkan. Seluruh kenanganku dengannya ternyata tersimpan di dalam sebuah benda yang bahkan muat di saku celana. Foto-foto, tangkapan layar percakapan, rekaman suara, panggilan yang berlangsung berjam-jam, semuanya ada di sana. Ketika kuingat-ingat lagi, kami bahkan belum pernah berada di tempat yang sama untuk menciptakan kenangan yang bisa kusimpan di kepalaku.
Aku tersenyum kecil.
Lucu juga.
Dua tahun menjalin hubungan, tetapi jika suatu hari handphone ini hilang, mungkin separuh kisah kami ikut hilang bersamanya.
Barangkali begitulah hubungan yang dibangun dari jarak. Yang dipeluk bukan tubuhnya, melainkan suaranya. Yang dirindukan bukan tempatnya, melainkan notifikasi namanya di layar.
Dan ketika suara itu tiba-tiba menghilang, rasanya seperti kehilangan seseorang tanpa benar-benar tahu apakah ia masih baik-baik saja.
Setetes air jatuh tepat di pipiku.
Aku mendongak.
Bukan air mataku.
Hujan lebih dulu sampai daripada kesedihanku.
Rintiknya turun cepat, memaksa orang-orang yang masih berada di sekitar kampus berlarian mencari tempat berteduh. Aku ikut berlari ke kedai Bu Ita yang letaknya hanya beberapa meter dari gerbang. Kedai sederhana itu sudah dipenuhi aroma jahe, kopi, dan gorengan yang baru diangkat dari wajan.