Pagi itu aku mengembuskan napas lebih panjang dari biasanya saat membaca pesan dari Cika.
"Lail, maaf ya. Badanku demam. Hari ini kayaknya aku gak masuk."
Aku membalasnya singkat agar segera beristirahat, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.
Di kampus, aku memang tidak punya banyak teman. Bukan karena orang-orang tidak ingin berteman denganku. Justru sebaliknya, beberapa kali ada yang mengajakku bergabung ke sana-sini. Hanya saja aku selalu merasa hubungan yang terlalu banyak hanya akan membuatku lelah. Aku lebih nyaman memiliki sedikit orang, tetapi benar-benar mengenal mereka.
Atau mungkin, itu hanya alasan yang kubuat untuk menyembunyikan kekecewaan.
Waktu menjadi mahasiswa baru, aku pernah begitu bersemangat mengenal banyak orang. Aku mengagumi mereka, percaya pada keramahan yang mereka tunjukkan, sampai akhirnya aku belajar bahwa tidak semua orang datang untuk tinggal. Ada yang hanya singgah ketika membutuhkan sesuatu, lalu pergi seolah kami tidak pernah saling mengenal.
Sejak saat itu aku berhenti berharap terlalu banyak kepada manusia.
Bukan karena membenci mereka.
Aku hanya sedang belajar menjaga diriku sendiri.
Namun cerita itu terlalu jauh untuk diceritakan sekarang.
Hari ini bukan waktunya.
Dosen mata kuliah pertama rupanya sedang banyak urusan. Beliau hanya menjelaskan garis besar materi, membagikan tugas, lalu mempersilakan kami mengerjakannya sampai jam kuliah selesai. Sebagian mahasiswa langsung keluar kelas, sebagian lagi memilih tetap tinggal. Aku termasuk yang kedua.
Kelas menjadi jauh lebih sunyi. Hanya terdengar bunyi kipas angin dan suara jemari yang mengetik di atas laptop.
Aku mengeluarkan ponsel, berniat membuka media sosial untuk mengisi waktu.
Tring...
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
"Lail, ini aku. Panji."
Aku langsung tahu siapa pengirimnya sebelum membaca kalimat berikutnya.
"Aku minta nomor kamu ke Cika."
Alisku langsung berkerut.
"Dia bilang kamu sering berangkat tanpa sempat makan. Aku lagi di kantin. Kalau kamu belum makan, ke sini."
Aku menghela napas pelan.
Dasar Panji.
Aku berniat menutup percakapan itu tanpa membalas. Namun beberapa detik kemudian layar ponselku kembali menyala.
"Tenang aja."
Lalu muncul pesan berikutnya.
"Aku janji gak akan ngomong soal cinta, perasaan, atau hal-hal yang bikin kamu pengin kabur lagi."
Aku memandangi dua pesan itu cukup lama.
Entah kenapa aku justru tersenyum kecil.
Bukan karena tersentuh.
Melainkan karena Panji benar-benar menepati ucapannya semalam. Ia bilang akan memperlakukanku seperti biasa, dan ternyata pagi ini ia benar-benar memulai dengan mengajakku makan.
Aku akhirnya berdiri.
Bukan untuk memenuhi keinginannya.
Aku hanya sedang lapar.
Kantin kampus tidak seramai biasanya. Mungkin karena jam makan siang masih beberapa menit lagi.
Panji duduk di meja dekat gerobak bakso seperti yang ia tulis di pesan. Begitu melihatku datang, ia hanya mengangkat tangan sebentar, tanpa senyum berlebihan, tanpa tatapan yang membuatku tidak nyaman.
Aku menarik kursi di hadapannya lalu duduk.
Panji sedang menghabiskan semangkuk bakso. Kuahnya hampir habis ketika ia meneguk es teh yang ada di samping mangkuk.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya biasa saja.
"Aku udah pesen nasi goreng."
"Oke."
Hanya itu.
Tidak ada kalimat, 'kamu cantik hari ini'.
Tidak ada pertanyaan, 'udah kangen belum?'
Tidak ada juga pembahasan tentang hujan atau perasaannya kepadaku.
Ia benar-benar hanya makan.
Aku diam-diam memperhatikannya beberapa saat.
Baru kali ini aku melihat Panji tidak sedang menjadi penyair yang kata-katanya sulit ditebak. Di hadapanku sekarang, ia hanya seorang mahasiswa yang menikmati semangkuk bakso dengan sangat serius.
Beberapa menit kemudian, pesanan nasi gorengku datang.
Aku mulai makan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Panji, kami duduk semeja tanpa ada satu pun pembicaraan tentang cinta.
Entah karena aku memang sedang sangat lapar atau karena Panji makan terlalu pelan, yang jelas kami sama-sama menghabiskan makanan hampir di waktu yang bersamaan. Aku baru saja meletakkan sendok ketika kulihat Panji sudah lebih dulu membuka ponselnya.
Aku mengernyit.
"Gak sopan, ya, buka HP waktu lagi sama orang," celotehku.
Panji mengangkat alis, lalu tersenyum kecil. Ia memperlihatkan layar ponselnya sekilas sebelum menguncinya kembali.
"Aku lagi laporan ke Cika."
"Laporan apa?"
"Kalau kamu ngabisin sepiring nasi goreng cuma tujuh menit."
Aku langsung memejamkan mata sambil menggeleng pelan.
"Panji..."
"Apa?"
"Jangan segala-galanya dilaporin ke Cika."
Ia tertawa pelan. "Dia yang nyuruh aku ngawasin kamu makan."
Aku ikut tersenyum, meski sedikit malu.
Ternyata selama tadi aku sibuk menghabiskan nasi goreng, Panji justru memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak kusadari. Aneh rasanya. Selama ini aku mengira perhatian selalu harus ditunjukkan lewat kalimat-kalimat besar. Padahal kadang perhatian hanya sesederhana memastikan seseorang tidak melewatkan makan siang.
Aku menarik napas pelan.
Mungkin...
Mungkin aku memang tidak perlu terus memandang Panji sebagai seseorang yang mengganggu hidupku.
Ia tetap orang yang menyukaiku, itu tidak berubah.
Tetapi bukan berarti aku tidak bisa menerima keberadaannya sebagai teman.
"Panji."
"Hm?"
"Makasih... udah ngajak makan."
Ia menggeleng kecil.
"Bukan aku."
"Lho?"
"Cika yang minta. Katanya kalau kamu lagi kepikiran sesuatu, kamu sering lupa makan."
Aku tersenyum tipis.
"Ya tetap aja... kamu yang ada di sini."
Panji membalas senyumku.
"Iya. Sama-sama."
***