Tiga hari kemudian.
Ruangan kelas masih lengang. Beberapa mahasiswa baru berdatangan sambil menaruh tas dan bercanda tentang tugas yang belum selesai. Aku sudah duduk di bangkuku sejak lima belas menit lalu. Di layar handphone, foto Karim masih menjadi hal pertama yang kulihat setiap kali layar kubuka.
Foto itu diambil di atas gunung.
Rambutnya berantakan tertiup angin, jaket hitamnya sedikit terbuka, sementara senyumnya itu berhasil membuatku lupa kalau sehari sebelumnya aku sempat marah besar.
Waktu itu Karim mendadak menghilang satu hari penuh tanpa kabar. Besoknya ia baru mengirim foto itu sambil berkata bahwa ia ikut mendaki karena ajakan temannya yang mendadak. Aku kesal, tentu saja. Tetapi entah kenapa, setiap melihat foto itu, kemarahanku selalu mencair lebih dulu daripada egoku.
Mungkin karena aku terlalu mencintainya.
Atau mungkin karena hubungan jarak jauh memang mengajarkan seseorang untuk memaafkan lebih banyak daripada pasangan-pasangan lain.
"Lail."
Aku mengangkat kepala.
Seorang mahasiswa dari jurusan lain berdiri di depan pintu kelas sambil mencari-cari wajahku.
"Kamu Laila?"
"Iya."
"Bu Raodah nyuruh kamu ke ruang administrasi sekarang."
Aku mengangguk pelan.
"Ada apa, ya?"
Mahasiswa itu mengangkat bahu.
"Gak tahu. Disuruh manggil aja."
Aku segera memasukkan handphone ke dalam tas, lalu berjalan menuju Gedung Administrasi.
Sepanjang perjalanan aku mencoba mengingat apakah ada berkas beasiswa yang terlambat kukumpulkan, atau mungkin nilai yang bermasalah. Namun, semakin kupikirkan, semakin tidak kutemukan alasan mengapa Bu Raodah sampai memanggilku langsung.
Riuh hari Senin berhenti begitu pintu ruang administrasi kututup.
Di dalam hanya ada Bu Raodah.
Beliau duduk di balik meja kerjanya seperti biasa. Namun, kali ini tidak ada tumpukan berkas yang sedang diperiksa. Laptopnya bahkan tertutup. Tatapannya langsung tertuju kepadaku sejak aku masuk.
Aku mengucapkan salam lalu duduk di hadapannya.
"Ada apa, Bu?"
Beliau tersenyum tipis.
Senyum yang aneh.
Bukan senyum lega.
Bukan juga senyum menyambut.
Melainkan senyum seseorang yang sedang berusaha mencari cara menyampaikan sesuatu yang tidak ingin ia sampaikan.
"Laila..."
"Iya, Bu?"
"Akhir-akhir ini kamu lagi ada kesulitan?"
Aku mengernyit.
"Kesulitan kuliah?"
"Selain kuliah."
Aku terdiam.
Pertanyaan itu terasa terlalu jauh dari urusan administrasi.
Aku mencoba tersenyum.
"Sejauh ini... enggak ada, Bu."
Bu Raodah menarik napas pelan.
"Laila, Ibu mau menyampaikan sesuatu."
Beliau mengambil handphone yang sejak tadi tergeletak di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arahku.
"Nomor ini tadi beberapa kali menelepon kampus."
Aku melihat layar itu.
Nomor asing.
Tidak ada nama.
Tidak ada apa pun yang bisa kukenal.
Aku menoleh lagi kepada Bu Raodah.
"Ini... nomor siapa, Bu?"
"Petugas rumah sakit."
Dadaku mendadak terasa sesak.
"Rumah sakit?"
Bu Raodah mengangguk perlahan.
"Mereka mencari kamu."
Aku langsung menggeleng.
"Mencari saya?"
"Mereka bilang nomor kamu tidak bisa dihubungi."
Jari-jariku mulai terasa dingin.
Aku belum mengerti apa pun.
Namun, entah kenapa, tubuhku sudah lebih dulu takut.
Bu Raodah menatapku beberapa detik.
"Laila..."
Suara beliau melemah.
"Ada seseorang bernama Karim Andika."
Nama itu membuat seluruh tubuhku menegang.
Aku menggenggam ujung meja tanpa sadar.
"Mereka mengabarkan... Karim meninggal dunia."
Dunia seakan kehilangan suara.
Aku tidak lagi mendengar kipas angin.
Tidak mendengar langkah orang-orang di luar ruangan.
Bahkan napasku sendiri seperti berhenti.
Aku hanya menggeleng.
Sekali.
Lalu berkali-kali.
"Enggak..."
Suara itu keluar sangat pelan.
"Enggak..."
Tanganku gemetar hebat.
Air mata jatuh begitu saja sebelum aku sempat mempercayai kalimat yang baru saja kudengar.
Aku segera mengambil handphone Bu Raodah dengan kedua tangan yang sudah tidak lagi bisa kukendalikan.
"Tolong..."
Suaraku pecah.
"Saya... saya mau telepon nomor itu."
Aku harus mendengarnya sendiri.
Karena selama belum mendengar dari orang yang mengabarkan, aku masih ingin percaya...
bahwa Karim hanya terlambat memberi kabar.
Tanganku gemetar ketika menekan tombol panggil. Nomor itu terasa begitu asing, tetapi dalam beberapa detik bisa menentukan apakah dunia yang selama ini kubangun bersama Karim benar-benar runtuh atau masih bisa kuselamatkan.
Nada sambung pertama.
Kedua.
Ketiga.
Rasanya semakin lama, semakin banyak harapan yang kupanjatkan diam-diam.
Tolong angkat.
Lalu katakan kalau ini salah orang.
Atau salah nama.
Apa saja.
Asalkan bukan Karim.
"Ha... halo," suaraku pecah sebelum sempat membentuk kalimat yang utuh. "Dengan Rumah Sakit Harapan Jakarta?"
"Iya, benar. Dengan Rumah Sakit Harapan Jakarta. Ada yang bisa kami bantu?"
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa begitu kering sampai satu kalimat sederhana pun sulit keluar.
"A... ada pasien bernama Karim?"
"Sebentar, ya, Kak. Saya cek dulu."
"Iya..."