Biarkan Air Mengalir Sebagaimana Hujan

dari Lalu
Chapter #6

Bab 6

Apakah masih bisa disebut perpisahan jika kita tidak pernah diberi tahu mengapa, kenapa, dan bagaimana seseorang pergi? Bagiku, perpisahan seharusnya memiliki akhir yang bisa diterima. Ada kata-kata yang diucapkan, ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal, atau setidaknya ada satu alasan yang membuat seseorang mengerti bahwa kebersamaan mereka memang harus selesai. Namun, kehilangan Karim tidak memberiku semua itu. Ia hanya datang sebagai sebuah kabar, lalu mengambil seseorang yang selama dua tahun terakhir menjadi bagian dari hidupku tanpa pernah memberiku kesempatan untuk bersiap.

Bagaimana bisa kehilangan begitu mudah dan berkali-kali menimpaku? Rasanya seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai, tetapi selalu menemukan cara baru untuk mencabik-cabik perasaanku, menguras tenagaku, dan menderaskan air mataku. Aku sudah kehilangan Ayah ketika berusia tujuh belas tahun. Setelah itu, aku belajar bahwa manusia yang kita cintai bisa pergi tanpa meminta izin kepada siapa pun. Namun, kali ini rasanya berbeda. Karim memang belum pernah hadir di hadapanku, tetapi selama dua tahun terakhir, suaranya selalu ada. Hampir setiap hari, aku mendengar bagaimana ia menyapaku, menanyakan kuliahku, menceritakan pekerjaannya, mengeluh tentang hari yang melelahkan, atau sekadar menemaniku berjalan pulang.

Sekarang suara itu tidak akan pernah terdengar lagi.

Suara orang-orang di sekitarku perlahan seperti menghilang. Aku tenggelam dalam kesedihan yang bahkan tidak bisa kupeluk sendiri. Mungkin terdengar aneh jika aku mengatakan bahwa aku merindukan pelukan Karim, sementara aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana rasanya berada di dalam pelukannya. Aku tidak tahu seberapa hangat telapak tangannya ketika menggenggam tanganku. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya ketika tersenyum kepadaku secara langsung. Semua yang kumiliki tentang Karim hanya berasal dari layar, pesan, foto, dan suara yang keluar dari sambungan telepon.

Tetapi justru itulah yang membuat kehilangan ini begitu sulit kupercaya.

Aku kehilangan seseorang yang tidak pernah sempat kumiliki secara nyata, tetapi sudah menjadi bagian nyata dari kehidupanku.

Karim menemaniku sejak semester dua perkuliahan hingga sekarang, ketika aku sudah berada di semester enam. Selama itu pula, aku dan Karim terus berjalan dengan cara kami sendiri. Kami tidak pernah bertemu, tetapi juga tidak pernah benar-benar meninggalkan satu sama lain. Kami selalu berbicara tentang pertemuan yang entah kapan akan terjadi, tentang waktu yang tepat, tentang kesempatan yang harus diusahakan, tentang bagaimana suatu hari nanti jarak tidak lagi menjadi alasan untuk kami hanya saling mendengar suara.

Padahal Karim pernah berjanji, ketika aku wisuda nanti, ia akan mengambil cuti untuk merayakannya bersamaku. Janji itu pernah membuatku tenang. Aku merasa masih memiliki sesuatu yang bisa kutunggu. Aku tidak perlu memaksa pertemuan kami terjadi sekarang, karena masih ada hari lain yang bisa kami usahakan. Masih ada wisudaku. Masih ada kesempatan untuk akhirnya melihat Karim berdiri di hadapanku setelah dua tahun hanya mendengarkan suaranya.

Namun, sekarang janji itu tidak akan pernah ditepati.

Bukan karena Karim mengingkarinya.

Bukan karena ia berubah pikiran.

Bukan pula karena ia sudah tidak mencintaiku.

Ia hanya pergi dengan alasan yang tidak mungkin bisa kubantu. Kematian membuatku tidak memiliki kesempatan untuk menanyakan apa pun kepadanya. Aku bahkan tidak bisa marah kepada Karim karena tidak datang menemuiku. Tidak bisa memintanya bertahan. Tidak bisa mengatakan bahwa aku sebenarnya bersedia menunggu lebih lama. Tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak pernah benar-benar meminta sesuatu yang besar darinya selain tetap hidup dan tetap ada.

Aku tidak bisa membantu Karim untuk hidup kembali.

Bahkan sampai sekarang, aku sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa pergi selamanya begitu saja.

Kehilangan ini terlalu tiba-tiba. Dua tahun yang kujalani bersama Karim seakan direnggut dari tanganku hanya dalam satu kabar. Aku belum sempat mempersiapkan diri untuk menjadi seseorang yang tidak lagi memiliki Karim. Aku bahkan masih terbiasa menunggunya menghubungiku. Masih terbiasa melihat layar handphone. Masih terbiasa berpikir bahwa mungkin ia sedang sibuk bekerja dan akan mengabariku nanti.

Padahal tidak akan ada nanti.

“Lail…”

Aku tahu Cika sudah berada di hadapanku sejak tadi. Suaranya terdengar samar, seperti datang dari tempat yang jauh. Tangannya mengelus pundakku beberapa kali, berusaha menyadarkanku dari kesedihan yang membuatku seperti tidak berada di tempat yang sama dengan orang-orang di sekitarku.

Aku tidak menghiraukannya.

Bukan karena aku tidak membutuhkan Cika. Justru saat itu aku terlalu sedih untuk melakukan apa pun selain diam. Kalau aku membuka mulut, aku takut tangisku akan kembali pecah. Kalau aku mencoba menjelaskan apa yang kurasakan, aku tidak tahu harus memulainya dari mana.

Aku kehilangan Karim.

Sesederhana itu kalimatnya, tetapi tidak sesederhana itu rasanya.

Lalu ada Panji.

Aku juga tidak menghiraukannya.

Ia masih berada di sampingku, duduk tanpa banyak bicara. Setelah aku menghampirinya dan memeluknya, Panji sama sekali tidak berusaha mengganggu kesedihanku dengan pertanyaan. Ia tidak bertanya siapa yang membuatku menangis. Ia tidak bertanya apa yang terjadi. Ia hanya membalas pelukanku dengan mengelus pundakku, seolah mengerti bahwa ada kesedihan yang tidak perlu dipaksa untuk segera diceritakan.

Mungkin Panji sudah tahu.

Mungkin ia tahu siapa orang yang membuatku menangis seperti itu.

Namun, ia tidak mengatakannya.

Setelah aku melepaskan pelukan, Panji membawaku ke taman kecil di belakang kampus. Barulah setelah itu ia memanggil Cika. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Aku juga tidak peduli. Kepalaku masih dipenuhi Karim, dengan semua percakapan yang pernah kami lakukan dan semua hal yang seharusnya masih bisa kami lakukan kalau kematian tidak datang lebih dulu.

Aku ingin pulang.

Aku ingin berada di tempat yang tidak mengharuskanku berpura-pura baik-baik saja di hadapan siapa pun.

“Aku mau pulang duluan,” ucapku begitu saja.

Cika menoleh kepada Panji. Aku tahu tatapannya memiliki maksud tertentu. Mungkin ia ingin meminta Panji menemaniku pulang. Mungkin juga ia sedang memastikan apakah Panji akan membiarkanku pulang bersamanya atau tetap berada di sampingku.

Namun, sebelum Cika mengatakan apa pun, Panji sudah lebih dulu berbicara.

“Aku gak bisa ikut antar. Kamu aja yang antar.”

Aku terdiam.

Bukan Cika yang mengatakan itu, melainkan Panji.

Aku menoleh kepadanya. Untuk sesaat, aku mencoba mencari tatapan yang beberapa hari terakhir sering kutemukan darinya. Tatapan hangat yang selalu membuatku sadar bahwa Panji sedang memperhatikanku. Tatapan yang dulu membuatku kesal karena terlalu kentara, bahkan ketika aku berusaha mengabaikannya.

Tetapi kali ini Panji justru menundukkan matanya.

Ia tidak menatapku.

Mungkin memang ada alasan mengapa ia tidak bisa mengantarku. Mungkin ia punya urusan lain. Atau mungkin, setelah melihat bagaimana aku menangis karena Karim, Panji mengerti bahwa saat ini aku tidak membutuhkan seseorang yang mencoba mengambil tempat siapa pun dalam hidupku.

Aku tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mencari tahu.

Aku hanya mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya