Biarkan Air Mengalir Sebagaimana Hujan

dari Lalu
Chapter #7

Bab 7

Aku tidak sanggup membaca surat itu sampai akhir tanpa menangis. Begitu sampai pada kalimat terakhir, tubuhku seakan kehilangan tenaga. Aku memeluk selembar surat itu ke dada, seolah dengan begitu aku bisa memeluk orang yang menulisnya. Padahal selama dua tahun, bahkan untuk memeluknya sekali pun aku tidak pernah memiliki kesempatan.

Bagaimana bisa aku tidak bersedih, Karim?

Mengapa kamu tidak membiarkan aku mengetahui keadaanmu selama sisa hidupmu yang bahkan tidak pernah bisa kugenggam? Mengapa kamu memutuskan sendiri bahwa aku akan lebih baik jika tidak tahu? Kamu mungkin mengira dengan menyembunyikan sakitmu, kamu sedang menjagaku dari rasa takut dan kesedihan. Tapi sekarang, apa yang tersisa untukku selain kehilangan yang datang sekaligus dengan penyesalan?

Aku bahkan tidak tahu kamu sedang sakit ketika aku memperdebatkan hal-hal kecil denganmu. Aku tidak tahu tubuhmu sedang berjuang ketika aku memintamu bersabar tentang pertemuan. Aku tidak tahu bahwa ketika kamu mengatakan takut kehilangan aku, ternyata kamu sendiri sedang berhadapan dengan kemungkinan kehilangan hidupmu.

Dan yang paling menyakitkan adalah aku tidak pernah diberi kesempatan untuk memperjuangkanmu.

Aku bisa saja datang.

Aku bisa saja mencoba menemui kamu.

Aku bisa saja berada di sampingmu, meskipun hanya sebentar.

Tetapi kamu memilih pergi tanpa memberitahuku bahwa ada sesuatu yang sedang kamu lawan.

Aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Kepada Karim karena menyembunyikan semuanya dariku, kepada diriku sendiri karena terlalu percaya bahwa kami masih memiliki banyak waktu, atau kepada takdir yang membuat dua manusia saling mencintai selama dua tahun tetapi tidak pernah memberikan satu kesempatan pun untuk saling bertemu.

Dinding kontrakan siang itu menjadi saksi kesedihanku. Tidak ada siapa-siapa yang menegur, tidak ada suara lain yang mengganggu, hanya aku dengan surat Karim yang masih kupeluk erat. Tangisku sempat berhenti karena tubuhku sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata. Namun, setiap kali mataku kembali melihat foto Karim yang tersenyum di ranjang rumah sakit, atau membaca kembali tulisan tangannya, kesedihan itu kembali datang tanpa bisa kutahan.

Aku menangis sampai tidak lagi memiliki tenaga untuk menyalahkan diriku sendiri.

Di antara semua yang Karim tinggalkan, hanya satu hal yang terus berputar di kepalaku.

Selama dua tahun, aku selalu menunggu hari ketika air yang membawa hubungan kami akhirnya menemukan tempat untuk mempertemukan kami.

Ternyata, sebelum aku sempat sampai ke sana, hujan sudah lebih dulu turun.

Dan kali ini, aku tidak tahu bagaimana caranya berteduh dari kehilangan yang bahkan tidak pernah sempat memberiku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.


***


Seperti kebanyakan perempuan yang patah hati, aku pun akhirnya terbawa lelap. Bukan karena aku sudah menerima semuanya, melainkan karena tubuhku terlalu lelah menanggung kesedihan. Tidur menjadi satu-satunya cara yang bisa membuatku berhenti menangis, meskipun ketika terbangun nanti, kesedihan itu tetap akan berada di tempat yang sama. Aku terbangun dengan mata sembab dan tubuh yang terasa berantakan. Semalam aku tertidur di sofa, bukan di kasur seperti biasanya.

Pagi yang biasanya kuawali dengan semangat, atau setidaknya dengan kesiapan menghadapi hari dan perkuliahan, kini terasa hambar. Aku bahkan tidak tahu harus memulai hari dari mana. Tidak ada alasan untuk segera bangun, bersiap, lalu pergi ke kampus. Rasanya semua yang biasanya kulakukan tidak lagi memiliki tujuan.

Dari dalam kontrakan, aku mendengar suara gemuruh air yang jatuh ke permukaan. Aku beranjak dari sofa dan membuka gorden jendela. Ternyata benar, hujan turun. Mungkin langit cerah kemarin memang hanya memberikan kesempatan bagi manusia untuk menjalani hari, sementara hari ini hujan kembali mengambil tempatnya. Bahkan sejak pagi, langit sudah menurunkan airnya tanpa memberiku kesempatan untuk menikmati hari dengan lebih baik.

Aku mengembuskan napas berat. Rasanya hujan hari ini datang di waktu yang salah, atau mungkin justru datang di waktu yang paling tepat. Aku tidak tahu.

Sepertinya kemarin pun aku tidak makan. Badanku terasa lemas ketika melangkah menuju kamar untuk mengambil handphone. Setelah menemukannya, aku kembali menjatuhkan tubuh ke kasur. Aku tidak berpikir panjang. Tanganku langsung mencari nama Cika dan mengirimkan pesan kepadanya.

Aku gak bisa masuk kuliah hari ini ya. Tolong izinin sakit aja. Makasi, Cik.

Setelah pesan itu terkirim, aku mematikan koneksi internet di handphone. Aku sengaja melakukannya. Untuk sementara, aku tidak ingin mendengar kabar dari siapa pun. Aku tidak ingin menerima pertanyaan, nasihat, atau bentuk kepedulian yang mungkin justru membuatku semakin sulit menerima apa yang sudah terjadi. Bahkan dari Cika sekalipun.

Aku hanya ingin sendiri.

Biarlah orang-orang membicarakanku karena tidak masuk kuliah. Biarlah mereka menganggap aku sedang sakit atau hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Aku memang sedang sakit, hanya saja bukan tubuhku yang paling membutuhkan pertolongan. Ada sesuatu di dalam diriku yang baru saja kehilangan tempat untuk pulang.

Aku perlu memproses semuanya. Sebentar saja, pikirku. Semoga hanya sebentar.

Aku kembali memejamkan mata. Bukan karena aku benar-benar ingin tidur, tetapi karena aku tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hari yang rasanya akan terus menyayat hati dan memenuhi kepalaku dengan pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab oleh Karim. Untuk pertama kalinya, aku berharap semua yang terjadi kemarin hanyalah mimpi buruk yang terlalu panjang.

Aku ingin semuanya menjadi mimpi.

Aku ingin terbangun dan menemukan handphone-ku berdering. Aku ingin melihat nama Karim muncul di layar, lalu mendengar suaranya bertanya seperti biasa apakah hujan di tempatku sudah reda atau belum. Aku ingin mendengar keluhannya tentang pekerjaan, ceritanya tentang hari yang ia lalui, atau sekadar mendengar bagaimana ia memintaku berhati-hati saat pulang.

Sebagaimana biasanya, aku ingin takdirku masih menyertakan Karim di dalamnya.


***


Handphone-ku berdering.

Aku senang bukan kepalang. Tubuhku seolah ikut mengenali suara yang selama beberapa hari terakhir paling ingin kudengar sampai aku langsung bangkit dari sofa dan mencari handphone yang tergeletak tidak jauh dari tempatku tidur. Senyumku merekah ketika melihat layar yang menyala. Ini bukan hari kedua atau ketiga aku terbangun dengan harapan akan mendengar panggilan dari Karim. Ini sudah hari kelima sejak kabar yang tidak ingin kupercaya itu sampai kepadaku. Lima hari sejak aku mengurung diri di kontrakan, meyakini bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahan yang sebentar lagi akan diluruskan.

Hari ini aku merasa yakin.

Mungkin semua itu memang hanya mimpi buruk. Mungkin sebentar lagi aku akan mendengar suara Karim dan semuanya kembali seperti semula. Aku akan memarahinya karena membuatku menunggu terlalu lama, lalu dia akan meminta maaf seperti biasanya. Setelah itu, aku akan kembali mendengarkan cerita tentang pekerjaannya, tentang apa yang dia makan hari ini, atau tentang hal-hal kecil yang selama dua tahun menjadi bagian dari kehidupanku meski tidak pernah sekalipun bisa kusentuh.

Dengan mata yang masih berat dan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, aku mengangkat telepon itu.

“Karim!”

“Lail.”

Aku langsung tersenyum. Namun suara di seberang sana tidak terdengar seperti suara yang selama ini kunantikan.

“Jangan kayak gini. Kamu harus melanjutkan hidup.”

Lihat selengkapnya