Pagi di desa itu selalu datang dengan cara yang sama—perlahan, lembut, dan penuh kesabaran. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan bambu, sementara suara ayam berkokok bersahut-sahutan seperti menyapa hari yang baru lahir.
Kandek membuka matanya dengan tenang.
Usianya telah menginjak tujuh puluh lima tahun, namun matanya masih menyimpan cahaya yang hangat—cahaya dari seseorang yang telah menerima hidup sepenuhnya, tanpa penyesalan. Ia tinggal di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir desa, dikelilingi sawah yang membentang hijau sejauh mata memandang.
Angin pagi menyelinap masuk melalui jendela yang setengah terbuka, membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar. Kandek menarik napas dalam-dalam, menikmati setiap detik yang diberikan waktu.
“Hidup masih terasa,” gumamnya pelan.
Ia bangkit perlahan, melangkah menuju dapur kecilnya. Di sana, segalanya tersusun rapi—seolah mencerminkan hatinya yang damai. Ia menyalakan tungku, menjerang air, dan menyiapkan secangkir teh hangat.
Hari-harinya sederhana.
Namun justru dalam kesederhanaan itulah, Kandek menemukan makna yang dalam.
---
Setelah sarapan, Kandek berjalan menuju halaman depan. Ia duduk di bangku kayu tua yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Dari sana, ia bisa melihat jalan kecil yang membelah desa—jalan yang tak pernah ramai, tapi selalu membawa cerita.
Pagi itu, sesuatu terasa berbeda.
Langkah kaki terdengar mendekat.
“Mak Kandek!”
Suara itu ringan, penuh energi.
Kandek menoleh.
Seorang pemuda berdiri di depan pagar kayunya. Wajahnya cerah, matanya berbinar, dan senyumnya begitu tulus hingga terasa menghangatkan udara pagi.
“Wahyu?” tanya Kandek, sedikit terkejut.
Pemuda itu mengangguk cepat, lalu membuka pagar dengan hati-hati. Ia sudah beberapa kali datang ke rumah Kandek, membantu memperbaiki atap atau sekadar mengantarkan hasil kebun.
“Mak sudah sarapan?” tanyanya sambil mendekat.
Kandek tersenyum kecil. “Sudah. Kamu sendiri?”
“Belum, tapi saya bawa singkong rebus. Kita makan sama-sama, ya?”
Tanpa menunggu jawaban, Wahyu sudah duduk di samping Kandek. Ia membuka bungkusan daun pisang, dan aroma singkong hangat langsung menyebar.
Kandek memperhatikan pemuda itu diam-diam.
Ada sesuatu dalam diri Wahyu yang membuat hatinya terasa... ringan.
Cara dia berbicara, cara dia tertawa, bahkan cara dia duduk dengan santai di sampingnya—semuanya terasa begitu alami, begitu dekat.
“Mak, kenapa lihat saya begitu?” tanya Wahyu sambil tersenyum.
Kandek terkekeh pelan. “Tidak apa-apa. Hanya merasa… kamu ini seperti angin pagi.”
“Angin pagi?”
“Iya. Datang tanpa diminta, tapi selalu membawa segar.”
Wahyu tertawa kecil, sedikit malu. Namun di balik tawanya, ada kebahagiaan sederhana yang tak bisa disembunyikan.
Hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama.