Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri

Afandi
Chapter #2

Bab 2: Di Antara Embun dan Rindu




Pagi itu datang lebih pelan dari biasanya.



Seolah-olah waktu sendiri memilih untuk berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi hati yang sedang belajar merasakan kembali sesuatu yang lama terpendam.



Kandek sudah terjaga sejak subuh.



Namun ia tidak langsung bangkit.



Ia hanya berbaring, menatap langit-langit rumah kayunya yang sederhana, sementara pikirannya melayang pada dua sosok yang datang di hari yang sama.



Wahyu.



Dan Adi.



Dua nama yang kini berdiam di ruang yang sama dalam hatinya—namun dengan cara yang berbeda.



Ia menghela napas pelan.



“Apakah ini… yang disebut rindu?” bisiknya lirih.



Padahal mereka baru saja pergi kemarin.



Namun rasanya seperti ada yang tertinggal.



Sesuatu yang hangat.



Sesuatu yang membuat rumah ini tidak lagi terasa sepenuhnya sunyi.



---



Kandek akhirnya bangkit.



Ia membuka jendela lebar-lebar. Udara pagi yang dingin menyentuh wajahnya dengan lembut, seperti sapaan yang penuh kasih.



Di luar, embun masih menggantung di ujung daun.



Burung-burung kecil melompat dari satu dahan ke dahan lain, seolah ikut merayakan pagi yang tenang itu.



Kandek tersenyum.



Hari ini terasa berbeda.



Ia memilih mengenakan kebaya yang jarang ia pakai—kebaya sederhana berwarna lembut yang dulu pernah ia kenakan di masa mudanya.



Tangannya sedikit gemetar saat merapikan kain itu.



Bukan karena lemah.



Namun karena ada perasaan yang bergetar di dalam dada.



Perasaan yang sudah lama tidak ia kenali.



---



Tak lama kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar.



Cepat.



Ringan.



Penuh semangat.



“Mak Kandek!”



Kandek menoleh, dan seperti yang ia duga—



Wahyu datang.



Hari ini ia membawa sesuatu di tangannya—setangkai bunga liar yang sederhana, namun indah dengan caranya sendiri.



“Ini buat Mak,” katanya, sedikit gugup.



Kandek menerima bunga itu perlahan.



Matanya melembut.



“Indah sekali.”



“Tidak seindah yang pegang,” jawab Wahyu spontan.



Kandek terdiam sejenak.



Lalu ia tertawa kecil, suara tawanya lembut seperti angin yang menyentuh dedaunan.



“Kamu ini…”



Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang menghangat.



Wahyu duduk lebih dekat hari itu.



Tidak terlalu dekat.



Namun cukup untuk membuat kehadirannya terasa.



Mereka berbicara seperti biasa—tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, namun terasa berarti ketika dibagikan bersama.



Sesekali, Wahyu menatap Kandek lebih lama.



Dan setiap kali itu terjadi, Kandek merasakannya.



Bukan sebagai tatapan biasa.



Lihat selengkapnya