Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri

Afandi
Chapter #3

Bab 3: Di Antara Senja dan Bisikan Hati




Hari itu desa diselimuti kabut tipis yang perlahan menghilang saat matahari naik. Kandek duduk di beranda rumahnya, tangan memegang cangkir teh hangat. Aroma teh berpadu dengan udara pagi yang lembut, dan hatinya terasa ringan—lebih ringan dari biasanya.



Ia menatap jalan setapak di depan rumahnya, berharap melihat langkah yang sudah lama ia tunggu.



Tidak lama, suara langkah terdengar—pertama ringan, seperti angin yang menyentuh dedaunan, kemudian semakin jelas.



Wahyu datang dengan wajah cerah. Seolah pagi selalu membawa semangatnya bersamanya. “Selamat pagi, Mak Kandek,” sapanya sambil tersenyum lebar.



Kandek membalas dengan senyum yang hangat, matanya bersinar. “Selamat pagi, Wahyu. Kamu datang lebih awal hari ini.”



Wahyu duduk di bangku kayu di sebelahnya. “Aku ingin menikmati pagi bersama Mak,” katanya. Ada kesederhanaan dalam kata-katanya, namun terasa penuh perhatian.



Mereka berbicara tentang hal-hal kecil—tentang embun yang menempel di daun, tentang burung-burung yang bernyanyi di pepohonan, tentang masa muda Kandek yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Setiap kata yang mereka ucapkan terasa ringan, namun meninggalkan jejak hangat di hati Kandek.



Di saat itu, Kandek menyadari sesuatu: kedekatan mereka bukan sekadar persahabatan biasa. Ada perhatian yang lembut, sentuhan yang penuh makna, dan rasa nyaman yang membuat hatinya bergetar, meski hanya sedikit.



---



Siang hari membawa keheningan yang berbeda. Kandek berjalan perlahan di halaman, menyentuh bunga-bunga yang mulai mekar. Wahyu mengikuti langkahnya dengan sabar, menyesuaikan langkah dengan langkahnya.



“Mak, bunga ini indah, ya,” kata Wahyu sambil menunjuk bunga matahari yang menghadap ke sinar matahari.

Lihat selengkapnya