Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri

Afandi
Chapter #5

Bab 5: Senandung Malam di Halaman Rumah



Malam itu datang dengan tenang. Suara jangkrik bersahut-sahutan dari balik pepohonan, sementara angin lembut berhembus membawa aroma tanah basah dan bunga yang masih menempel embun sore. Kandek duduk di beranda rumahnya, secangkir teh hangat di tangan. Lampu minyak menebar cahaya lembut, menciptakan bayangan hangat di wajahnya.



Ia menatap jalan setapak di depan rumah, menunggu langkah yang sudah lama ia nantikan.



Tidak lama kemudian, suara langkah ringan terdengar dari arah gerbang rumah. Wahyu muncul, membawa sekeranjang bunga liar segar. Matanya berbinar melihat Kandek duduk dengan tenang.



“Selamat malam, Mak Kandek,” sapanya, senyumnya cerah seperti sinar matahari yang menembus dedaunan.



“Selamat malam, Wahyu,” jawab Kandek. Suaranya lembut, namun hatinya berdebar. Kehadiran Wahyu selalu membawa semangat yang berbeda, ringan tapi hangat.



Wahyu duduk di sebelah Kandek, meletakkan bunga di pangkuannya, dan mereka berbincang ringan tentang hari itu—tentang burung-burung yang baru saja kembali dari sawah, tentang cahaya senja yang memudar, tentang aroma malam yang menyelimuti desa. Kata-kata mereka sederhana, namun terasa seperti musik yang menenangkan hati Kandek.



Sesekali, tangan Wahyu menyentuh tangan Kandek saat mereka mengambil bunga atau mengatur keranjang. Sentuhan itu lembut, penuh perhatian. Kandek menatapnya sebentar, tersenyum, dan membiarkan genggaman itu tetap ada. Hatinya berdebar, tapi bukan karena takut—melainkan karena bahagia.



---


Lihat selengkapnya