Senja itu datang dengan lembut.
Langit berwarna jingga keemasan, seolah memeluk hari yang perlahan pergi. Di teras rumah sederhana yang sudah lama ditempati, Kandek duduk sendiri, ditemani secangkir teh hangat yang uapnya menari pelan di udara.
Usianya memang tidak lagi muda.
Tujuh puluh tahun telah ia lewati, dengan segala cerita yang pernah ia simpan dalam diam.
Namun di matanya, masih tersisa cahaya yang hangat.
Cahaya seseorang yang pernah mencintai dengan sepenuh hati.
Hari itu seharusnya sama seperti hari-hari lainnya.
Tenang.
Sepi.
Dan penuh kenangan.
Namun langkah kaki itu mengubah segalanya.
“Permisi, Nek… boleh saya numpang berteduh?”
Suara itu terdengar ragu, namun hangat.
Kandek menoleh perlahan.
Di sana berdiri seorang pemuda dengan wajah ramah, sedikit kelelahan, tapi penuh sopan santun.
Namanya Wahyu.
Usianya baru dua puluh tiga tahun.
Jauh berbeda dari dunia Kandek.
Namun entah kenapa, sejak pandangan pertama itu, ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Silakan, Nak… duduk saja,” jawab Kandek dengan senyum tipis.
Wahyu duduk di bangku kayu di sampingnya.
Awalnya canggung.
Hanya suara angin dan dedaunan yang saling berbisik.
Namun perlahan, percakapan kecil mulai mengalir.
Dari sekadar menanyakan arah jalan…
Menjadi cerita tentang kehidupan.
Menjadi tawa kecil yang tidak disengaja.
Dan tanpa mereka sadari—
Waktu berjalan begitu cepat.
Sejak hari itu, Wahyu sering datang.
Kadang hanya untuk sekadar menyapa.
Kadang membawa makanan kecil.
Kadang… hanya ingin duduk diam menemani.
Kandek yang biasanya terbiasa sendiri, mulai merasakan sesuatu yang sudah lama hilang—
Kehadiran.
Suatu sore, saat matahari hampir tenggelam, Wahyu duduk lebih dekat dari biasanya.
Tidak terlalu dekat.
Namun cukup untuk membuat Kandek menyadari keberadaannya.
“Aku senang bisa di sini,” kata Wahyu pelan.
Kandek menoleh.
“Aku juga… Nak,” jawabnya lembut.
Hening.
Namun bukan hening yang kosong.
Melainkan hening yang penuh rasa.
Wahyu perlahan meraih tangan Kandek.
Gerakannya hati-hati, seolah takut salah.
Namun Kandek tidak menarik tangannya.
Justru ia membiarkan.
Hangat.
Sederhana.
Namun cukup untuk membuat dua hati yang berbeda usia itu saling memahami tanpa kata.
Di bawah langit senja—
Sebuah cerita baru dimulai.
Dan Kandek tidak pernah menyangka…
Bahwa di usia senjanya, ia akan kembali merasakan getaran yang pernah ia kira telah lama hilang.
__________________