Biarkan aku menentukan pilihanku sendiri

Afandi
Chapter #22

BAB 22 Kehangatan yang Kembali Hidup**





 Pagi itu datang dengan cahaya yang lebih lembut dari biasanya.




 Sinar matahari masuk perlahan melalui celah jendela kayu rumah Kandek, menyentuh lantai yang sudah lama menjadi saksi kesunyian hidupnya. Udara terasa sejuk, namun tidak lagi dingin seperti hari-hari sebelumnya.




 Ada sesuatu yang berubah.




 Bukan pada rumah itu.




 Bukan pada pagi itu.




 Melainkan… pada hati Kandek.




 Ia terbangun lebih awal dari biasanya.




 Bukan karena tidak bisa tidur.




 Namun karena ada perasaan yang membuatnya ingin segera menjalani hari.




 Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.




 Sebuah penantian kecil.




 Kandek duduk di tepi ranjangnya, menarik napas pelan.




 “Kenapa aku seperti ini…” gumamnya lirih, dengan senyum yang hampir tidak ia sadari.




 Hari-hari sebelumnya, pagi hanyalah awal dari waktu yang panjang dan sepi.




 Namun sekarang…




 Pagi terasa seperti awal dari sesuatu yang ingin ia tunggu.




 Dan benar saja—




 Tidak lama setelah ia selesai menyapu halaman, suara langkah kaki itu kembali terdengar.




 “Assalamualaikum, Nek…”




 Suara yang kini mulai terasa akrab.




 Kandek menoleh, dan tanpa sadar senyumnya langsung mengembang.




 “Waalaikumsalam… Wahyu.”




 Pemuda itu berdiri di depan pagar kecil rumahnya, membawa kantong plastik berisi sesuatu.




 “Aku bawa sarapan… takut Nenek belum makan,” katanya sambil tersenyum sedikit canggung.




 Kandek tertawa kecil.




 “Ah, kamu ini… merepotkan saja.”




 Namun tangannya tetap menerima bungkusan itu.




 Dan entah kenapa—




 Hatinya terasa hangat.




 Mereka duduk bersama di teras.




 Makan sederhana, berbagi cerita yang kadang tidak penting… namun terasa berarti.




 Wahyu bercerita tentang pekerjaannya.




 Tentang teman-temannya.




 Tentang hal-hal kecil yang membuatnya tertawa.




 Dan Kandek…


Lihat selengkapnya