📖📖📖
"Pacu Jalur kini telah dikenal dunia. Berakar dari budaya masyarakat Kuantan Singingi, Riau, yang menggunakannya sebagai alat transportasi. Sungai Kuantan menjadi saksinya sejak abad ke-17. Jalur, begitu masyarakat Kuantan menyebut perahu dari sebuah kayu bulat besar dan utuh itu. Keistimewaan jalur membawanya menjadi sarana olahraga yang disebut dengan Pacu Jalur sejak 1903, di era kolonialisme Belanda. Untuk memperingati ulang tahun Sang Ratu Wilhelmina di penghujung Agustus setiap tahunnya."
Sorak sorai kompak dari juru mudi dan anak pacu menjadi latar belakang sang reporter.
"Kini Pacu Jalur menjadi mata lomba yang selalu ada dalam setiap perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan dengan bangga diperkenalkan kepada dunia lewat festival dan diplomasi budaya pada era digital."
Seorang gadis termangu menatap layar televisi berukuran besar pada sebuah lobi gedung perpustakaan yang mewah nan mengintimidasi. Menakjubkan tapi menakutkan, begitu rasanya saat manusia awam memasuki gedung ini. Wangi buku yang merasuk biasanya menggugah si gadis untuk membaca, tapi situasi itu tak terjadi di sini. Enggan rasanya bahkan untuk mendekat pada rak-rak besar berlapis emas itu. Meski adrenalinnya berpacu, nyatanya tangan dan kakinya justru menciut kedinginan, tak seharusnya ia berada di sini.
Belum sempat mengagumi perpustakaan mewah ini lebih lanjut, saluran televisi itu dialihkan seiring dengan suara sepatu hak tinggi yang mendekat.
"Pacu Jalur takkan bisa diklaim Indonesia seperti ini jika tak ada bukti sejarah. Benar, kan?"
Wanita berusia sekitar akhir 60-an itu semakin mendekat. Aura, karisma, dan cara bicaranya memiliki efek besar hingga getaran di ruangan mewah ini semakin mendominasi dan mengkerdilkan siapa pun yang bukan siapa-siapa.
"Itulah kenapa perpustakaan seperti ini harus hadir. Untuk melindungi pustaka sejarah yang bisa membungkam siapa pun yang meragukan asal-usul negara kita," wanita itu mendekat dengan dramatis. "Membungkam siapa pun yang mengklaim kekayaan kita. Menghentikan siapa pun yang ingin mencuri budaya kita. See? Kita bisa dengan percaya diri mengenalkan Pacu Jalur seperti barusan."
Gadis itu hanya mengangguk dalam, takjub dengan penjelasannya.
Benar, batinnya mengakui.
"Lyona? Penerbit Lektur?"
"Ya, saya Lyona Martaningrat dari Penerbit Lektur. Hari ini bos sedang tak bisa mengantar. Ini daftar pesanan buku dari Biblion. Silakan dicek ulang."
Gadis bernama Lyona itu mengangsurkan sebuah PC tablet.
"Anda, benar Madam Kencana, kan?" tanyanya ragu.
"Ya," lalu ia mengembalikan tabletnya. "Pesanannya sudah sesuai. Barangnya?"
"Akan segera dibawa masuk."
Lyona segera keluar dari gedung, berlari kecil menuju mobil boks yang terparkir di zona turun penumpang. Ia memanggil seorang pria paruh baya- rekan kerjanya untuk membantu menurunkan kardus-kardus buku yang entah kenapa rasanya dua kali lipat lebih berat dari yang seharusnya. Mereka harus menggotongnya dan segera menaruhnya di troli barang.
Entah mengapa, saat mereka hendak mengangkut kardus itu tiba-tiba rekan Lyona justru pergi ke kamar kecil. Salah makan sesuatu katanya. Lyona pun tak ambil pusing, ia segera mendorong troli barang dengan enam kardus besar di atasnya. Namun saat ia akan melewati garis pintu gedung, troli seketika terhenti karena selip sehingga salah satu dus terjatuh. Anehnya, bukan hanya suara buku terjatuh yang terdengar. Samar terdengar seperti logam yang saling bergesekan.
Lyona segera berjongkok dan hendak membalikan dus yang terjatuh. Namun saat akan mengangkatnya, gerakan Lyona terhenti. Lyona terhenyak lalu menutup mulutnya yang menganga.
Dus yang terjatuh telah robek hingga salah satu buku terlempar keluar sampai lembarannya terbuka lebar. Tetapi yang membuatnya terhenyak seperti itu bukanlah bukunya yang terlempar dan cacat sebelum sampai di pembeli, melainkan isi dari buku itu.
"Jangan pernah buka buku pesanan ini!" pesan bos Lyona tadi pagi. "Cukup serahkan daftar pesanan pada Madam Kencana, serahkan buku-bukunya, lalu selesai. Jangan banyak bicara dengan Madam Kencana!"
Ternyata ini alasannya. Emas batangan? Dari mana asalnya? batin Lyona bertanya-tanya.
Lyona segera menguasai dirinya lagi. Ia yang selama ini hanya sebagai pekerja paruh waktu- pengantar pesanan pelanggan tak pernah membayangkan bahwa buku yang selama ini diproduksi di tempatnya berisi emas. Tidak, mungkin tidak semua karena biasanya dus yang ia antarkan tak pernah seberat ini. Ini juga pertama kalinya ia mengantar pesanan ke tempat ini.
Pantas! Bos selalu mengantar pesanan ke sini sendiri.
Lyona berdiri segera. Tangannya yang bergetar mengangkat buku itu dengan cepat ia kembalikan ke dus. Firasat Lyona ini akan menjadi masalah besar baginya. Cukup sudah! Ia sudah cukup sibuk dengan hidupnya sendiri. Waktu 1 x 24 jam miliknya telah penuh terisi jadwal kuliah dan kerja paruh waktunya. Sudah tak ada ruang untuk memikirkan hal lain. Tak ada waktu untuk terlibat ke dalam sesuatu yang sudah pasti berbahaya, karena jika tidak berbahaya, untuk apa emas-emas itu dikirim dengan paket buku seperti ini?
"Sedang apa kau?"