“Eonni... apa yang sedang kau baca?”
Suara itu membuat jantung Seo Yeon seolah berhenti berdetak. Refleks, ia segera menutup layar laptop yang berada di hadapannya.
Terlambat.
Hae-rin sudah lebih dulu melihatnya, meski hanya sekilas. Cukup untuk membuat gadis itu membeku di depan pintu kamar.
“Apa itu tadi?” tanyanya lagi.
Seo Yeon memaksakan senyum.
“Tidak ada.”
“Kau bohong.”
Hae-rin melangkah masuk. Tatapannya tak lepas dari laptop yang baru saja ditutup dengan tergesa-gesa.
Sudah beberapa minggu terakhir ia memperhatikan perubahan kakaknya. Perubahan yang sulit dijelaskan.
Seo Yeon tak lagi suka menghadiri pesta. Tak lagi antusias menerima undangan makan malam. Tak lagi menghabiskan akhir pekan bersama teman-temannya. Bahkan beberapa kali Hae-rin memergokinya duduk sendirian sambil melamun. Dan semuanya dimulai sejak mereka pulang dari Indonesia.
“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?” tanya Hae-rin.
Seo Yeon mengalihkan pandangan.
Di luar jendela, malam Seoul tampak gemerlap seperti biasa. Namun entah kenapa, cahaya kota itu tak lagi mampu mengalihkan kegelisahan yang terus memenuhi dadanya.
“Aku tidak menyembunyikan apa pun,” kata Seo Yeon.
Namun sorot matanya justru berkata sebaliknya. Hae-rin dapat melihat kejanggalan itu.
“Kau tidak pandai berbohong, Yeon-ssi.”
Keheningan perlahan memenuhi kamar. Hae-rin mengenal kakaknya lebih baik daripada siapa pun. Dan malam ini, ia yakin ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
“Apa ini ada hubungannya dengan Indonesia?”
Pertanyaan itu membuat Seo Yeon menegang. Jemarinya perlahan menggenggam ujung meja.
Indonesia. Negeri tropis yang awalnya hanya menjadi tujuan liburan biasa. Namun tanpa ia sadari, perjalanan singkat itu telah meninggalkan sesuatu yang terus mengusik pikirannya hingga hari ini.