Sepanjang hari, Seo Yeon terus merasa gelisah. Kalimat yang ditulis ayahnya terus terbayang dalam pikirannya. “Kau harus menentukan pilihanmu.”
Pilihan! Satu kata sederhana, namun terasa begitu berat.
Bagaimana mungkin seseorang diminta memilih antara keluarga dan keyakinannya? Bukankah keduanya sama-sama berharga? Bukankah keduanya sama-sama dicintai? Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia sadar: Mungkin malam ini memang akan menjadi titik yang menentukan segalanya.
---
Malam akhirnya datang membungkus langit Seoul. Namun bagi Seo Yeon, malam itu terasa lebih gelap dari biasanya.
Ruang keluarga terasa sunyi. Tidak ada suara televisi, tidak ada musik tradisional yang biasa diputar Nenek Yoon. Bahkan percakapan ringan yang biasanya mengalir, malam itu seakan menghilang.
Han Seok-jin duduk di sofa utama. Kim Eun-hee berada di sampingnya. Nenek Yoon terlihat murung. Sementara Hae-rin duduk dengan gelisah.
Seo Yeon menarik napas panjang, lalu mengambil tempat duduk di hadapan mereka.
Tak ada seorang pun yang memulai percakapan. Sampai akhirnya Han Seok-jin berbicara.
“Aku akan langsung pada intinya.”
Seo Yeon menegakkan tubuh. “Aku tidak ingin kau melanjutkan semua ini.”
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada bentakan.
Justru itu yang membuat suasana terasa lebih menyakitkan. Kali ini, ayahnya benar-benar serius.
“Appa...”
“Aku sudah memikirkan ini baik-baik.” Han Seok-jin menatap putrinya. “Kau akan berhenti mempelajari Islam.”
Seo Yeon terdiam. Dadanya terasa sesak. “Maaf.” Suara itu nyaris berbisik. Namun cukup terdengar. “Aku tidak bisa.”
Kalimat itu menghantam suasana seperti petir. Kim Eun-hee menutup mata. Hae-rin menunduk. Sementara Han Seok-jin terlihat menahan sesuatu dalam dirinya.
“Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu.”
Pria itu berdiri. Melangkah ke arah jendela, memunggungi keluarganya.
“Apa agama itu lebih penting daripada keluargamu?”
Pertanyaan itu membuat air mata Seo Yeon jatuh.
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku mencintai keluarga ini.”