Matahari musim semi kembali menyinari Seoul dengan hangat pagi itu. Namun kehangatan itu tak sampai ke hati Seo Yeon.
Semalaman, ia hampir tidak tidur. Kertas yang ditinggalkan ayahnya masih berada di atas meja kamar.
“Jadi kau tetap memilih jalan itu.”
Kalimat sederhana, namun terasa seperti jurang yang memisahkan mereka.
Seo Yeon duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam tasbih kecil pemberian imam masjid kemarin. Ia kembali mengingat momen syahadat itu.
Ketenangan yang ia rasakan masih ada. Namun kini bercampur dengan ketakutan—ketakutan akan kehilangan keluarganya.
Saat turun ke ruang makan, suasana langsung terasa berbeda. Biasanya ibunya akan menyapanya. Nenek akan tersenyum. Ayah akan membaca koran sambil sesekali mengomentari berita.
Namun pagi itu tidak ada apa-apa. Hanya keheningan.
Han Seok-jin duduk di ujung meja. Tatapannya dingin. Seo Yeon menarik kursi perlahan. “Selamat pagi, Appa.”
Tidak ada jawaban.
Kim Eun-hee menunduk.
Hae-rin terlihat gelisah.
Bahkan suara sendok yang menyentuh piring terdengar begitu jelas. Untuk pertama kalinya, Seo Yeon merasa menjadi orang asing di rumahnya sendiri.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat. Ayahnya benar-benar menjaga jarak. Tak lagi bertanya kabarnya. Tak lagi mengajaknya berbicara. Seolah menganggapnya tidak ada.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. Karena kemarahan berarti masih ada emosi, masih ada kepedulian.
Sedangkan diam... Sering kali terasa seperti penolakan.
Suatu malam, Han Seok-jin pulang lebih larut dari biasanya. Wajahnya tampak lelah, namun juga menyimpan sesuatu. Ia langsung memanggil seluruh keluarga ke ruang tamu.
“Semua berkumpul.”
Nada suaranya membuat suasana menjadi tegang.
Seo Yeon duduk di samping Hae-rin. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Ada firasat buruk. Sangat buruk.
Han Seok-jin berdiri. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada Seo Yeon.
“Aku sudah mencoba bersabar.”
Seo Yeon menegakkan tubuh. “Tapi aku tidak bisa lagi membiarkan semua ini,” lanjutnya.
Kim Eun-hee langsung menatap suaminya. Seolah sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu.
“Apa maksud Appa?” tanya Hae-rin pelan.
Han Seok-jin tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru memandang putri sulungnya.
“Kau sudah resmi menjadi Muslim, bukan?”
Ruangan membeku.
Seo Yeon menelan ludah.