Bidadari Dari Negeri Ginseng

Bias Divhanka
Chapter #6

Langkah yang Memisahkan

Malam semakin larut. Menenggelamkan rumah keluarga Han dalam keheningan.

Di salah satu kamar di lantai dua, Seo Yeon belum juga memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang, di hadapannya terbuka sebuah koper kecil. Tangannya bergerak perlahan memasukkan beberapa helai pakaian. Tidak banyak. Hanya barang-barang yang benar-benar ia butuhkan.

Setiap kali melipat pakaian, dadanya terasa semakin sesak. Karena semakin penuh koper itu, semakin nyata pula kenyataan yang harus ia hadapi.

Ia benar-benar akan pergi.

Beberapa menit kemudian, Seo Yeon membuka laci meja belajarnya.

Di sana tersimpan berbagai kenangan.

Foto keluarga.

Hadiah ulang tahun dari Hae-rin.

Sebuah pena yang pernah diberikan ayahnya saat ia lulus sekolah.

Dan sebuah bros bunga kecil milik ibunya.

Tangannya gemetar ketika mengambil foto keluarga. Matanya langsung basah.

Foto itu diambil bertahun-tahun lalu, saat mereka masih tertawa bersama. Saat tidak ada pertengkaran. Saat rumah ini masih terasa hangat.

“Aku akan merindukan kalian...” bisiknya.

Air mata jatuh membasahi bingkai foto. Dengan napas berat, Seo Yeon mengambil selembar kertas kosong. Ia tahu, ada hal yang harus ia lakukan sebelum pergi.

Perlahan, ia mulai menulis:

Untuk Ayah, Ibu, Nenek, dan Hae-rin yang sangat kucintai.

Maafkan aku.

Mungkin surat ini akan menjadi hal terakhir yang kutinggalkan sebelum aku pergi. Percayalah, keputusan ini bukan karena aku membenci kalian. Justru karena aku mencintai kalian.

Aku tidak sanggup melihat rumah ini terus dipenuhi pertengkaran karena diriku. Aku tidak ingin Ayah semakin terluka. Aku tidak ingin Ibu terus menangis. Aku juga tidak ingin Hae-rin berada di tengah semua ini. Karena itu, aku memilih pergi.

Aku tidak tahu ke mana langkahku akan membawaku. Namun aku percaya Tuhanku akan menjagaku.

Ayah... terima kasih karena telah menjadi ayah terbaik selama ini.

Aku tidak pernah melupakan semua pengorbananmu.

Ibu... terima kasih karena selalu mencintaiku, bahkan ketika aku membuatmu kecewa.

Nenek... terima kasih untuk semua nasihat yang selalu kusimpan di hati.

Dan Hae-rin... terima kasih karena selalu berdiri di sisiku ketika semua terasa gelap.

Aku mencintai kalian. Dan aku akan selalu mendoakan kalian.

Dengan cinta,

Seo Yeon

Tetes air mata jatuh di atas kertas, membuat sebagian tinta sedikit kabur. Namun ia tidak mengulanginya. Karena air mata itu sendiri adalah bagian dari surat tersebut.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari.

Seo Yeon berdiri, mengambil koper, lalu melangkah keluar kamar.

Lorong rumah terasa begitu sunyi. Setiap langkah terdengar jelas, seolah-olah rumah itu sedang menyaksikan kepergiannya.

Saat melewati ruang keluarga, langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada foto keluarga besar yang tergantung di dinding. Foto yang sama yang selalu menyambutnya setiap kali pulang. Foto yang kini terasa seperti kenangan dari kehidupan lain. Seo Yeon mendekat. Mengusap bingkai foto itu perlahan.

“Maafkan aku...” bisiknya.

Air mata kembali jatuh.

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik menuju pintu utama.

Lihat selengkapnya