Bidadari Dari Negeri Ginseng

Bias Divhanka
Chapter #8

Awal Dari Segalanya

Setiap malam menjelang, Seo Yeon sulit memejamkan mata. Meski tubuhnya lelah, pikirannya terus berkelana ke mana-mana.

Kamar kecil yang kini menjadi tempat tinggal sementaranya terasa sunyi. Hanya suara jam dinding yang sesekali terdengar memecah keheningan.

Ia duduk di tepi ranjang. Di pangkuannya terletak sebuah foto keluarga yang baru ia ambil dari koper kecil miliknya.

Ia teringat perkataan Lee Min-jung.

“Kalau kau sedang rindu rumah, terkadang melihat kenangan bisa membuat hati sedikit lebih tenang,” ujar wanita itu beberapa hari lalu.

Seo Yeon tersenyum pahit.

Rindu.

Itulah yang sedang memenuhi dadanya saat ini.

Perlahan, ia membuka galeri ponselnya. Jarinya bergerak tanpa tujuan, melewati puluhan foto yang tersimpan selama beberapa tahun terakhir.

Hingga akhirnya, ia berhenti pada sebuah foto. Foto langit senja yang diambil saat berlibur di Indonesia. Tatapannya melembut. Di sudut foto itu terlihat samar sebuah bangku kayu. Bangku yang pernah ditempati seseorang yang tanpa sadar mengubah jalan hidupnya. Seo Yeon mengusap layar ponselnya perlahan. Air mata tipis mulai menggenang.

“Aneh...” bisiknya lirih.

“Semuanya bermula dari perjalanan itu.”

Ia menyandarkan kepala ke dinding, membiarkan pikirannya kembali pada masa lalu.

Kembali pada hari ketika dirinya masih menjadi Seo Yeon yang berbeda.

Seo Yeon yang datang ke Indonesia hanya untuk berlibur.

Seo Yeon yang belum mengenal Islam.

Seo Yeon yang belum pernah merasakan pergulatan sebesar ini.

Dan tanpa sadar...

Ingatannya membawa dirinya kembali ke beberapa bulan sebelumnya.

Ke sebuah pagi yang cerah di Bandara Incheon.

Saat sebuah perjalanan sederhana baru saja dimulai.

---

FLASHBACK


Bandara Incheon, Beberapa Bulan Sebelumnya


Langit pagi di Bandara Incheon tampak cerah, seolah ikut menyambut perjalanan yang akan segera dimulai.

Seo Yeon dan Hae-rin melangkah ringan sambil menyeret koper kecil. Senyum tak lepas dari wajah kedua kakak beradik itu.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya perjalanan yang dinanti pun tiba.

Petualangan di negeri tropis.

Indonesia.

“Perjalanan kita kali ini pasti akan menyenangkan, Eonni,” gumam Hae-rin pelan, matanya berbinar menatap layar keberangkatan.

“Tentu. Kita sudah lama menantikan momen ini, Rin-ah,” jawab Seo Yeon.

Keduanya saling pandang, lalu tersenyum lebar.

Di sekeliling mereka, para penumpang lain berlalu-lalang dengan berbagai ekspresi. Ada yang terburu-buru, ada pula yang tampak cemas. Namun tidak dengan kedua kakak beradik itu.

Hari itu, hati mereka dipenuhi antusiasme. Mereka bahkan sempat berhenti di sebuah kedai kopi, memesan minuman favorit, lalu duduk sambil memandangi pesawat-pesawat yang bersiap lepas landas.

Ponsel Hae-rin bergetar. Sebuah pesan masuk dari Puspa, pemandu mereka selama berada di Indonesia.

“Annyeong. Jangan lupa kabari kalau sudah berangkat! Aku tunggu di Indonesia.”

Senyum Hae-rin semakin lebar. Ia segera membalas. “Tenang saja. Aku sudah di bandara. Aku tidak sabar melihat Jakarta.”

Lihat selengkapnya