FLASHBACK
Pagi menjelma di Jakarta, membawa sinar mentari keemasan yang perlahan menembus celah tirai kamar hotel. Di luar, suara kendaraan mulai memenuhi jalanan ibu kota. Dari kejauhan terdengar samar kicau burung yang bercampur dengan hiruk-pikuk kota yang baru saja terbangun. Namun suasana berbeda justru terjadi di lorong hotel lantai empat.
Puspa berdiri di depan salah satu pintu kamar sambil beberapa kali melirik jam tangan.
“Seo Yeon-ssi? Hae-rin-ssi?” panggilnya sambil mengetuk pelan.
Tak ada jawaban.
Ia menekan bel sekali lagi.
“Kita akan terlambat kalau terus tidur.”
Di dalam kamar, Hae-rin menggeliat pelan.
“Eonni... ada yang mengetuk.”
Seo Yeon menarik selimut hingga menutupi wajahnya. “Lima menit lagi.”
“Kau bilang begitu tiga puluh menit lalu.”
Hae-rin akhirnya bangkit dan membuka pintu.
Puspa langsung menghela napas lega. “Syukurlah. Aku kira kalian pingsan karena jet lag.”
Hae-rin tertawa malu. “Maaf. Kami benar-benar kelelahan.”
“Tak apa. Aku tunggu di lobi.”
Setelah mandi dan bersiap, keduanya turun dengan pakaian santai, tetapi tetap rapi.
Seo Yeon membawa kamera kesayangannya. Sementara Hae-rin mengenakan topi bundar yang membuatnya tampak seperti tokoh utama dalam drama perjalanan.
“Siap menjelajahi Jakarta?” tanya Puspa.
“Siap!” jawab Hae-rin penuh semangat.
Seo Yeon hanya tersenyum kecil.