FLASHBACK
Pagi masih muda ketika kereta yang mereka tumpangi meninggalkan Jakarta. Di balik jendela, gedung-gedung tinggi perlahan menjauh, berganti dengan hamparan sawah yang membentang luas sejauh mata memandang.
Hae-rin menempelkan dahinya ke kaca. “Wah...”
Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Seo Yeon yang duduk di sebelahnya ikut menoleh. Pemandangan hijau berlapis-lapis bergerak perlahan di depan mata. Petani berjalan di pematang sawah. Anak-anak bersepeda di jalan desa. Pepohonan kelapa berdiri berbaris mengikuti arah angin. Sederhana. Tetapi menenangkan.
“Rasanya seperti sedang menonton film,” gumam Hae-rin.
Puspa yang duduk di kursi depan tersenyum. “Sebagian orang Indonesia tumbuh dengan pemandangan seperti itu setiap hari.”
Seo Yeon mengangkat kameranya. Klik.
Ia memotret sawah yang bermandikan cahaya pagi. Entah kenapa, gambar itu terasa lebih hidup daripada foto gedung-gedung mewah yang biasa ia ambil di Seoul.
Delapan jam kemudian.
Kereta akhirnya memasuki Stasiun Tugu Yogyakarta. Begitu turun, hal pertama yang mereka rasakan adalah udara. Lebih sejuk. Lebih tenang. Tidak sepadat Jakarta. Tidak seramai Seoul. Yogyakarta seolah menyambut mereka tanpa tergesa-gesa.
“Ini berbeda sekali,” ujar Seo Yeon.
Puspa mengangguk. “Karena kota ini tidak suka terburu-buru.”
Mereka tertawa kecil.
Dalam perjalanan menuju hotel, Seo Yeon lebih banyak memperhatikan jalanan. Banyak bangunan tua berdiri berdampingan dengan toko-toko kecil. Sepeda motor memang tetap ramai, tetapi suasananya terasa lebih santai. Seolah kota ini berjalan dengan ritmenya sendiri.
---
Keesokan harinya
Pagi pertama, mereka langsung mengunjungi Keraton Yogyakarta.
Puspa menjelaskan berbagai filosofi yang terkandung dalam bangunan tersebut. Tentang keseimbangan, tentang kesederhanaan, tentang manusia yang harus selalu mengingat asal dan tujuan hidupnya. Seo Yeon mendengarkan tanpa banyak bicara.
Biasanya ia tidak terlalu tertarik pada sejarah. Namun kali ini berbeda. Mungkin karena cara Puspa menjelaskannya. Atau mungkin karena kota ini memang memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Masyarakat Jawa percaya hidup harus seimbang,” ujar Puspa.
“Seimbang seperti apa?” tanya Hae-rin.
“Antara dunia dan hati.”
Seo Yeon terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, namun entah kenapa tertinggal cukup lama di pikirannya.
Siang harinya mereka berjalan menyusuri kawasan Taman Sari. Lorong-lorong tua dan kolam pemandian kerajaan menghadirkan suasana yang hampir terasa seperti mimpi. Hae-rin sibuk berfoto. Sementara Seo Yeon memilih berjalan perlahan. Menikmati suasana, menikmati keheningan. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Indonesia, ia merasa tidak sedang mengejar apa pun. Tidak pekerjaan, tidak target, tidak harapan siapa pun. Hanya berjalan, hanya bernapas, hanya menikmati hari.