FLASHBACK
Pagi di Solo datang tanpa banyak suara. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan seperti Jakarta. Tidak pula keramaian wisatawan seperti Malioboro. Kota itu terasa tenang. Seolah waktu berjalan sedikit lebih lambat daripada tempat-tempat lain yang pernah dikunjungi Seo Yeon.
Dari jendela kamar hotel, ia melihat seorang lelaki tua sedang menyapu halaman rumah di seberang jalan. Gerakannya pelan. Tidak terburu-buru. Hanya sederhana. Dan entah kenapa, pemandangan itu terasa damai.
Setelah sarapan, mereka bertemu Puspa di lobi hotel.
“Hari ini kita akan berkeliling Solo.”
Hae-rin langsung bersemangat. “Apa kita akan belanja lagi?”
Puspa tertawa. “Aku tahu ternyata tujuan utamamu.”
“Tentu saja.”
Seo Yeon hanya menggeleng geli melihat tingkah adiknya.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Keraton Surakarta.
Puspa menjelaskan berbagai sejarah dan budaya Jawa yang masih dijaga hingga hari ini. Tentang kesederhanaan, keseimbangan, dan bagaimana manusia seharusnya tidak melupakan asal serta tujuan hidupnya.
Seo Yeon mendengarkan tanpa banyak bicara.
Biasanya ia tidak terlalu tertarik pada sejarah. Namun kali ini berbeda. Mungkin karena cara Puspa menjelaskannya. Atau mungkin karena sejak kemarin, pikirannya memang sedang lebih terbuka terhadap sesuatu yang belum ia pahami.
Di salah satu sudut keraton, Seo Yeon melihat para abdi dalem mengenakan pakaian tradisional. Wajah mereka tampak tenang. Padahal pekerjaan yang mereka lakukan terlihat sederhana.
“Apa mereka dibayar besar?” tanya Seo Yeon.
Puspa menoleh. “Tidak.”
“Lalu kenapa mereka bertahan?”
Puspa tersenyum. “Karena tidak semua orang bekerja untuk uang.”
Seo Yeon terdiam.
Jawaban itu sederhana. Namun kembali membuatnya berpikir.
Menjelang siang, mereka tiba di Kampung Batik Laweyan. Gang-gang kecil dipenuhi rumah-rumah warga dan kain batik yang dijemur di depan halaman. Seo Yeon mencoba membatik untuk pertama kalinya.