Bidadari Dari Negeri Ginseng

Bias Divhanka
Chapter #14

Bandung, Kota yang Mempertemukan Takdir

FLASHBACK


Pagi di Bali datang dengan tenang.

Langit masih berwarna pucat ketika Seo Yeon berdiri di dekat jendela kamar. Laut membentang luas di hadapannya, memantulkan warna keperakan dari cahaya matahari yang baru lahir.

Entah mengapa, pagi itu ia merasa enggan meninggalkan pulau tersebut.

Mungkin karena perjalanan mereka hampir selesai. Atau mungkin karena selama beberapa minggu terakhir, Indonesia telah memberinya sesuatu yang tak pernah ia temukan sebelumnya.

Ketenangan.


Tak lama kemudian, perjalanan kembali dimulai.

Mobil melaju membelah jalanan yang perlahan ramai. Hae-rin tertidur di kursi belakang. Puspa sesekali memutar musik pelan, membiarkan suasana tetap nyaman. Seo Yeon hanya memandang keluar jendela.

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seolah sesuatu sedang menunggunya. Sesuatu yang belum ia kenal, namun perlahan memanggilnya.

Dan tanpa sadar, perjalanan mereka membawa mereka menuju kota terakhir. Bandung.

Kota yang kelak akan tinggal jauh lebih lama di hatinya dibandingkan kota-kota lain.

---

Tiba di Bandung.

Udara langsung menyambut mereka dengan kesejukan yang berbeda. Saat mobil memasuki kawasan Lembang, Seo Yeon membuka sedikit jendela. Angin pegunungan menerpa wajahnya.

Segar.

Tenang.

Menenangkan.

Ia memejamkan mata beberapa saat.

“Aku suka kota ini,” gumamnya.

Puspa tersenyum. “Baru sampai sudah suka?”

“Aku tidak tahu kenapa.”

“Biasanya orang jatuh cinta setelah beberapa hari.”

Seo Yeon menatap deretan pohon pinus yang berbaris di sepanjang jalan. “Aku rasa aku sudah menyukainya sejak menit pertama.”

Hae-rin tertawa kecil.

“Kalau begitu, Bandung menang.”

Mereka bertiga tertawa bersama.

Hari itu mereka menghabiskan waktu menikmati Bandung.

Berjalan santai.

Menikmati udara pegunungan.

Mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan Puspa.

Tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Namun justru kesederhanaan itu yang membuat hari terasa hangat.

Menjelang malam, mereka menuju penginapan.

Di teras kamar, ketiganya duduk bersama sambil menikmati minuman hangat.

“Aku akan merindukan semua ini,” kata Hae-rin tiba-tiba.

Puspa tersenyum. “Aku juga.”

Seo Yeon memandang langit malam Bandung. Untuk pertama kalinya, ia mengangguk setuju.

“Ya. Aku juga.”

Lihat selengkapnya