Kenangan itu berhenti seperti halaman terakhir sebuah buku yang perlahan ditutup. Seo Yeon membuka matanya. Ia kembali berada di kamar kecil yang menjadi tempat tinggal sementaranya di Seoul. Ponselnya masih berada di tangannya. Foto langit senja Bandung masih memenuhi layar.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Membiarkan bayangan wajah pria yang duduk membaca buku di taman masjid itu memenuhi pikirannya.
Sosok yang tenang, yang bahkan sekadar nama pun tak ia ketahui, namun begitu akrab di hati.
Sulit dipercaya bahwa perasaan sebesar itu bermula dari pertemuan sesingkat itu. Dari seorang pria asing yang dulu hanya duduk diam membaca buku di pelataran masjid.
Seo Yeon mengusap sudut matanya. Dulu, saat meninggalkan Bandung, ia mengira hanya membawa pulang kenangan perjalanan. Nyatanya, ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebuah pertanyaan.
Sebuah perasaan.
Dan sebuah jalan yang perlahan membawanya mengenal Tuhan.
Hari-hari terus berlalu. Namun bagi Seo Yeon, waktu justru terasa berjalan lambat dalam keasingan.
Kota yang dulu begitu akrab kini terasa menolaknya. Ia seperti pendatang di negeri sendiri, bukan lagi seseorang yang sedang pulang ke rumah tempat ia dilahirkan. Meski begitu, cintanya kepada Islam justru tumbuh semakin dalam.
Dalam sujud-sujud panjang di malam hari, Seo Yeon memohon petunjuk, perlindungan, dan kekuatan agar mampu bertahan.
Namun, kenyataan tak selalu berpihak. Sisa uang di dompetnya kian menipis. Kartu debit yang selama ini menjadi tumpuannya telah dibekukan. Ia mulai terbiasa menahan lapar dan menghemat sebisa mungkin agar bisa bertahan lebih lama. Dalam kepasrahan, ia hanya menggantungkan harapan pada doa. Percaya bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkannya.
Suatu siang, di tengah langkahnya yang lelah, ponselnya tiba-tiba berdering. Seo Yeon tertegun. Jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat nomor tak dikenal tertera di layar. Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu.
“Yeoboseyo...?” Suara Seo Yeon terdengar penuh kegelisahan.
“Eonni.” Suara di ujung sana begitu familiar. Hangat. Dan sangat dirindukan.
“Rin-ah?” Seo Yeon menahan napas. Nyaris tak percaya bahwa adiknya berhasil menghubunginya.
“Ne, eonni. Aku mencarimu ke mana-mana. Syukurlah kau menjawab teleponku. Di mana kau sekarang?”