Hari-hari berlalu setelah pertemuannya dengan Hae-rin. Keputusan untuk kembali ke Indonesia semakin mantap. Seo Yeon tahu langkah itu tidak akan mudah. Namun, hati dan tekadnya telah bulat. Apalagi ketika pikirannya kembali pada pria yang pernah ia lihat di taman masjid itu.
Bandung dengan udara sejuknya.
Bangku kayu di pelataran masjid yang menyaksikan pertemuan mereka dalam diam.
Serta sosok pemuda pendiam dengan ketenangan yang entah mengapa masih membekas di ingatannya.
Semuanya seperti benang merah yang mengikat takdir yang kini sedang ia jalani. Seo Yeon tak ingin lagi menunda. Ia ingin bergerak.
Di kamar kecil itu, ia mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan.
Pertama, ia memeriksa paspornya.
Napasnya lega saat melihat masa berlaku paspor tersebut masih panjang. Setelah itu, ia mencari informasi mengenai visa yang memungkinkan dirinya tinggal lebih lama di Indonesia. Pilihannya jatuh pada visa sosial budaya.
Seo Yeon segera menghubungi Puspa dan meminta bantuannya sebagai sponsor.
“Iya, Seo. Aku siap membantumu.” Suara Puspa terdengar dari seberang telepon.
Seo Yeon tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya benar-benar dipenuhi harapan.
Keesokan harinya, Seo Yeon mulai mengumpulkan dokumen yang diperlukan. Mencetak pasfoto. Mengisi formulir. Memeriksa berkas satu per satu. Meski melelahkan, tekadnya tidak goyah.
Melihat Seo Yeon akhir-akhir ini begitu sibuk, Lee Min-jung masuk ke kamar. “Berkas apa itu, Seo?”
Seo Yeon menoleh ke arah suara itu. “Oh, iya. Aku lupa belum memberitahumu, Omma.” Ia tersenyum.
Meski tak memiliki hubungan darah, bagi Seo Yeon, perempuan itu adalah keluarga. Keluarga yang dipertemukan oleh keyakinan yang sama. Keluarga yang datang menawarkan bantuan tanpa pamrih.
Tinggal bersamanya di rumah sederhana itu selama beberapa waktu, diam-diam telah menumbuhkan ikatan emosional yang begitu erat. Seperti ikatan antara seorang nenek dan cucu.
Lee Min-jung berjalan mendekati Seo Yeon, lalu duduk di hadapannya. “Memangnya, apa yang perlu kamu beritahukan, Seo?”
“Aku akan menemui sahabatku di Indonesia.”
“Kapan?”
“Dalam waktu dekat.”
Seo Yeon terdiam sejenak. “Dan kemungkinan aku akan tinggal bersamanya untuk sementara waktu.”