Bidadari Dari Negeri Ginseng

Bias Divhanka
Chapter #18

Ujian Di Negeri Baru

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang berbeda dari kehidupannya di Seoul.

Setiap pagi, Seo Yeon membantu Puspa menyapu halaman dan menyiapkan sarapan sederhana. Setelah itu, ia menghabiskan waktu mengenal lingkungan sekitar, menyusuri jalan-jalan kecil di perkampungan, serta berusaha membiasakan diri dengan bahasa Indonesia yang masih terdengar asing di telinganya.

Sesekali, ia menemani Puspa ke pasar. Di sana, ia belajar menyebut nama-nama sayuran, menawar harga barang, dan memahami kebiasaan masyarakat setempat.

“Seo, coba tanyakan harga buah tersebut. Siapa tahu kalau kau yang bertanya harganya bisa jauh lebih murah.” ucap Puspa di suatu pagi, saat mampir di pedagang buah di pasar.

“Serius? Aku rasa itu bukan ide yang bagus Puspa,” Jawab Seo Yeon. Ragu.

Pedagang buah tersebut tampak tersenyum.


Waktu terus berjalan.

Satu minggu.

Dua minggu.

Satu bulan.

Tak terasa, hari-hari yang dijalani Seo Yeon di Indonesia semakin panjang. Kehidupan baru yang awalnya terasa asing perlahan mulai ia pahami, meski masih banyak hal yang harus dipelajarinya. Tabungan yang ia bawa dari Korea pun perlahan berkurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berbagai keperluan administrasi selama berada di Indonesia.

Seo Yeon berusaha tetap tenang. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang tepat. Namun, pagi itu, setelah menunaikan salat Subuh, ia duduk sendirian di teras rumah Puspa. Udara pagi masih terasa sejuk. Suara burung terdengar dari pepohonan di sekitar perkampungan. Namun, ketenangan itu tak mampu mengusir kegelisahan yang sejak beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya.

Amplop berisi uang pemberian Hae-rin kini semakin tipis. Seo Yeon kembali menghitung sisa uangnya. Tidak banyak. Jika terus digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, jumlah itu mungkin hanya cukup untuk bertahan beberapa minggu lagi.

Seo Yeon menarik napas panjang. “Aku harus bekerja...” gumamnya pelan.

Hari itu, untuk pertama kalinya sejak tiba di Indonesia, ia memutuskan mulai mencari pekerjaan.

Tempat pertama yang didatanginya adalah sebuah toko pakaian kecil di dekat pusat perbelanjaan. Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, ia mencoba memperkenalkan diri kepada pemilik toko.

“Halo... saya Seo Yeon. Saya... mencari pekerjaan.”

Pemilik toko itu tampak ramah. Namun, setelah beberapa menit berbicara, ia menggeleng pelan. “Maaf, Mbak. Kami butuh pegawai yang bisa berkomunikasi lancar dengan pelanggan.”

Seo Yeon tersenyum sopan. “Baik. Terima kasih.”

Meski berusaha terlihat tenang, hatinya terasa sedikit jatuh. Namun, ia tidak menyerah.

Beberapa hari berikutnya, ia mencoba lagi: Restoran kecil. Toko roti. Kedai kopi. Semuanya berakhir dengan penolakan.

Ada yang menolaknya karena kemampuan bahasa. Ada pula yang terkendala status izin tinggalnya yang tidak memungkinkan dirinya bekerja secara formal.

Lihat selengkapnya