Bidadari Dari Negeri Ginseng

Bias Divhanka
Chapter #20

Ketika Takdir Menyapa

Kehidupan Seo Yeon di Indonesia semakin stabil seiring berjalannya waktu. Dari segi finansial maupun kesehariannya, semuanya mulai menemukan ritme yang menenangkan.

Kemampuannya berbahasa Indonesia pun semakin lancar, membuatnya lebih mudah berkomunikasi dan berbaur dengan lingkungan sekitar.

Sebagai seorang figur di media sosial, namanya kian dikenal. Tawaran pekerjaan berdatangan—mulai dari sesi pemotretan hingga berbagai kolaborasi. Kariernya perlahan bersinar, membuka jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hingga pada suatu hari, sebuah kesempatan istimewa datang. Seo Yeon diundang sebagai salah satu bintang tamu dalam acara pengajian seorang ustaz terkenal di Bandung. Undangan itu menjadi titik baru dalam perjalanan hidupnya—kesempatan untuk berbagi kisah hijrah kepada khalayak yang lebih luas.

Ketika kabar bahwa Seo Yeon diundang dalam acara tersebut sampai ke telinga Puspa, ia langsung melonjak kegirangan. Wajahnya berseri-seri saat menemui Seo Yeon di ruang tamu rumah kecil itu.

Seo Yeon tengah duduk dengan tenang, menyesap teh hangat dari cangkir yang digenggamnya.

“Seo Yeon!” seru Puspa antusias sambil melompat ke sofa di sebelahnya. “Aku baru dengar dari teman-teman. Kamu diundang jadi bintang tamu di acara pengajian ustaz terkenal itu? MasyaAllah, Seo Yeon! Kamu luar biasa!”

Seo Yeon menoleh dengan senyum teduh. “Benarkah itu sesuatu yang besar, Puspa? Aku sebenarnya sempat ragu. Aku hanya ingin belajar dan berbagi pengalaman.”

Puspa meraih tangan Seo Yeon dengan penuh semangat. “Ya ampun, tentu saja ini besar! Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini. Kamu tahu, kan? Banyak orang yang mengagumi perjalanan hijrahmu. Ini bukan cuma soal pekerjaan atau popularitas, tapi tentang inspirasi. Kamu menjadi bukti bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja melalui jalan yang tak terduga.”

Seo Yeon menghela napas panjang, lalu tersenyum malu-malu. “Aku hanya ingin menyampaikan rasa syukurku, Puspa. Allah begitu baik kepadaku, meskipun aku masih memiliki banyak kekurangan.”

“Kamu tahu tidak, Seo Yeon?” Puspa menatapnya lekat-lekat. “Kisahmu bukan cuma membuatku bangga, tapi juga menyentuh banyak orang. Perjuanganmu melewati berbagai rintangan, meninggalkan kehidupan nyaman, sampai akhirnya berada di titik ini... semuanya luar biasa. Banyak saudara muslim di sini yang menunggu kamu berbicara dan membagikan kisahmu.”

Seo Yeon mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. “Aku... aku merasa tidak pantas, Puspa. Tapi aku percaya, ini adalah rencana Allah. Aku hanya ingin melangkah sesuai kehendak-Nya.”

Puspa tersenyum hangat, lalu merangkul Seo Yeon. “Seo Yeon, kamu sudah berjalan sejauh ini dan tetap berusaha istiqamah. Mungkin sekarang waktunya kamu berbagi lebih banyak dengan orang lain. Kamu tidak sendiri. Ada aku dan banyak saudara muslim lainnya yang mendukungmu.”

Seo Yeon memejamkan mata sesaat, lalu menyeka sudut matanya yang mulai basah. “Terima kasih, Puspa. Kamu selalu ada untukku. Aku akan melakukannya. Semoga apa yang kulakukan ini menjadi ladang pahala untukku dan siapa pun yang mendengarkan kisahku.”

Puspa mengangguk penuh semangat. “Aamiin! Kamu pasti bisa, Seo Yeon. Kamu adalah bidadari negeri ginseng yang Allah titipkan untuk menginspirasi banyak orang.”

Seo Yeon tersenyum tipis. “Tidak, Puspa. Bukan aku yang menginspirasi banyak orang. Lebih tepatnya, aku yang pernah terinspirasi oleh seseorang.”

Puspa tak menganggap serius ucapan itu. Padahal, jika ia tahu apa yang sebenarnya dimaksud Seo Yeon—tentang seorang pemuda yang pernah mereka temui dalam sebuah perjalanan—mungkin ia akan terkejut.

Tak pernah ia menyangka bahwa sesuatu yang sederhana, bahkan tanpa percakapan dan tanpa saling mengenal, bisa menjadi salah satu awal dari perjalanan panjang seseorang menemukan cahaya.

Percakapan mereka terus berlanjut dengan hangat. Tawa kecil sesekali muncul, memecah keheningan yang sempat menyelimuti ruang tamu. Kehangatan itu menguatkan hati Seo Yeon.

Kini ia tahu, langkahnya bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ada banyak hati yang mungkin sedang mencari arah dan menunggu secercah cahaya dari kisah yang ia bawa.

---

Langkah Menuju Bandung


Hari-hari terasa berjalan lambat. Namun, akhirnya waktu yang dinanti tiba juga.

Sesuai jadwal yang telah diberitahukan panitia dua minggu sebelumnya, Seo Yeon terlihat sibuk di dalam kamar, dibantu Puspa.

Mereka mengemas beberapa pakaian dan keperluan yang akan dibawa selama berada di Bandung. Rencananya, setelah acara selesai, keduanya akan menghabiskan beberapa hari di kota itu. Selain ingin berlibur, mereka juga ingin bernostalgia dengan perjalanan yang pernah mereka lakukan bersama.

“Kita sudah siap semua, kan, Seo?” tanya Puspa sambil memasukkan sebuah pouch kecil ke dalam koper. Matanya sibuk memeriksa kembali barang-barang yang masih berserakan di atas kasur.

Seo Yeon yang tengah melipat hijab berwarna pastel tersenyum kecil. “Sepertinya sudah. Tapi...” Ia berhenti sejenak dan menatap Puspa dengan raut serius. “Aku tidak tahu harus membawa apa untuk acara tausiah itu. Apa aku terlihat pantas berada di atas panggung dengan pakaian yang aku punya sekarang?”

Puspa tertawa kecil, lalu mendekat sambil menepuk bahu Seo Yeon. “Seo, kamu selalu terlihat pantas. Lagi pula, tujuanmu diundang bukan soal pakaian yang kamu kenakan, tetapi tentang kisahmu. Jangan khawatir.”

Seo Yeon menarik napas lega. “Terima kasih, Puspa. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku masih terus merasa gugup dan tidak percaya diri.”

“Sudah, berhenti memikirkan itu. Sekarang, ayo kita siapkan barang-barang terakhir. Perjalanan ke Bandung tidak sebentar. Kita tidak boleh terlambat naik kereta.”

Matahari mulai condong ketika koper dan tas Seo Yeon serta Puspa akhirnya tertata rapi. Mereka turun ke ruang tamu, tempat mobil yang akan mengantarkan mereka ke stasiun sudah menunggu. Sebelum keluar, Seo Yeon sempat memandangi sekeliling rumah dengan pandangan sendu. Meskipun perjalanan itu hanya berlangsung beberapa hari, hatinya menghangat ketika menyadari betapa jauh ia telah melangkah. Dari seorang wanita asing yang pernah tersesat di negeri orang, hingga menjadi seseorang yang kini dikenal dan dicintai banyak orang di Indonesia.

“Seo, ayo!” Suara Puspa memecah lamunannya.

Seo Yeon tersenyum, mengambil koper kecilnya, lalu melangkah keluar bersamanya.

Di dalam mobil, keduanya mengobrol santai.

“Bagaimana rasanya akan berbicara di depan banyak orang nanti?” tanya Puspa iseng.

Lihat selengkapnya