Walaupun ada perang dalam hatiku, aku tetap ingin menjadi seorang yang bertanggung jawab. Kehamilanku memang membuat langkahku agak melambat, tapi semangat dalam diri ini belum padam. Dengan keadaan perut besar kulangkahkan kaki ini untuk terus merampungkan kewajibanku. Bertemu dengan dosen setiap sore membuat kondisi fisikku semakin berat. Dita dan Dira selalu mengingatkanku agar tak lupa minum vitamin. Hingga suatu sore aku jatuh pingsan di ruang dosen. Seharian aku tak nafsu makan karena setiap makan tubuhku selalu menolaknya. Sore itu pihak kampus melarikanku ke rumah sakit tempat Arya bekerja.
Jarum infus menancap di tangan kananku. Arya terus mengecek kondisiku setelah mengetahui aku dilarikan ke rumah sakit. Mataku mengerjap-ngerjap, Arya tersenyum di sampingku.
“Kamu lupa pesanku, ya?” tanya Arya sambil melotot.
“Kamu nggak tahu sih, skripsiku belum kelar-kelar. Kamu mah enak, nggak perlu berhenti dulu. Nah aku sudah tertinggal banyak dari teman-teman,” jawabku dengan nada lemah.
“Tapi kamu juga harus kontrol diri. Kamu sekarang nggak cuma bertanggung jawab dengan dirimu sendiri, ada makhluk kecil di dalam tubuhmu, Kasih.”
Aku hanya menjawab dengan kedipan mata dan helaan nafas. Arya memegang tanganku sambil sesekali mengecek denyut nadiku. Saat itu, Abi masuk ke dalam ruangan itu. Tangan Abi langsung dengan kasar menepis tangan Arya. Arya spontan menengok. Aku memilih untuk memejamkan mata karena rasanya tubuhku tidak memiliki energi lagi. Tapi, lamat-lamat kudengar percakapan mereka.
“Kamu ngapain pegang-pegang tangan istri orang?” gertak Abi.
“Maaf tapi anda siapa ya?” sahut Arya.
“Kamu nggak lihat cincin ditanganku sepasang dengan wanita ini!”
“Maaf, Mas. Saya dokter di sini. Nama saya Arya, saya teman SMP Kasih. Maaf jika saya lancang, tapi tadi saya mengecek kondisi Kasih.”
“Dokter apa yang memakai pakaian seperti ini ketika bertugas! Kamu mau bohong!” gertak Abi. Wajar saja Abi tak melihat sosok dokter di pembawaan Arya. Dia hanya mengenakan kemeja dan celana kasual saat ini. Kebetulan ada perawat yang masuk ke ruangan.
“Sus!” panggil Arya.
“Ya, Dokter Arya, ada yang bisa saya bantu?” balas perawat senior itu.
“Nah Mas. Masih tidak percaya kalau saya bertugas di rumah sakit ini?” terang Arya berusaha meyakinkan Arya. Sedangkan perawat senior itu hanya berusaha memahami keadaan yang terjadi di ruangan ini. Suara mereka yang berisik membuatku berusaha bangun.
“Arya dokterku, Bi. Kamu nggak berhak berpikiran macam-macam padanya…” lirihku.