Hari-hari berjalan dengan sangat berat, akhirnya skripsiku bisa terselesaikan dengan baik. Beberapa kali aku ke rumah Anindira untuk mencari ketenangan di sela-sela mengerjakan tugas akhirku itu. Renzo selalu menemaniku dengan celotehnya yang lucu. Sering kali aku tertawa dengan tingkah lugunya. Bahkan pertanyaan yang diluar prediksiku juga pernah terlontar dari mulut kecilnya. Ungkapan kerinduannya tentang sosok ayah hingga cerita pengalaman outing class sekolahnya.
Dari Renzo aku belajar menjadi sosok ibu. Kami sering melakukan obrolan mendalam saat berdua.
“Renzo, hal apa yang bikin kamu merasa di sayang?” tanyaku sambil memacu jemariku di atas huruf-huruf.
“Hm… saat dipeluk dan dihargai ketika dapat nilai bagus, Bulik,” jawab Renzo sambil menggoreskan pewarna di atas gambarnya. Aku mengangguk-angguk.
“Berarti kalau Bulik meluk Renzo, Renzo tahu dong kalau Bulik sayang Renzo? Tapi, Zo… Kalau dipeluk dan dipegang bagian-bagian yang nggak boleh disentuh, tolong jangan mau ya! Kamu harus bisa jaga diri.” Renzo menjawabnya dengan anggukan.
"Walaupun kamu laki-laki kalau ada yang kurang aja megang-megang bagian tubuhmu yang nggak boleh dipegang orang lain itu, kamu harus berani melawan. OK?" tanganku mengepal dan membuat tos dengan tangan mungilnya. Renzo mengangguk dan tersenyum sambil merangkul leherku.
Setelah kurasa cukup mempersiapkan bahan presentasi, kutemani Renzo merapikan gambarnya.
Tercium bau bumbu tumisan dari sudut rumah ini. Aroma ebi dan bawang putih menguar menguasai ruangan. Air liur dan perutku bereaksi dengan aroma yang tersentuh indra penciumanku. Nenek Renzo berteriak dari arah dapur memintaku untuk bertahan sejenak menunggu makanan yang sedang ia masak. Renzo tersenyum mendengar hal itu, ia sangat senang karena masih punya teman bermain lagi. Sesekali Renzo mengelus perutku yang sudah terlihat buncit. Kadang dia ikut mengobrol dengan adik bayi di dalam perutku. Ia sangat suka tidur di pangkuanku sambil memeluk perutku. Mungkin ia merindukan sosok ibunya dan aku beruntung bisa menjadi sedikit obat bagi kerinduannya.
Setelah menikmati makanan buatan nenek Renzo, aku kembali ke rumah. Memang akhir-akhir ini Zakia sering dititipkan pada Abi. Mainannya berserakan tak karuan. Aku memungutinya dan mengembalikan ke dalam box yang sudah disediakan Sabrina. Abi pun semakin berubah, tak ada lagi kehangatan yang ia berikan padaku. Bahkan untuk mengantar periksa ke rumah sakit pun aku harus sendirian. Beberapa kali Arya mewanti-wantiku agar tidak terlalu keras beraktivitas. Tapi, hal itu tidak mungkin. Aku harus berjuang mengumpulkan uang dan juga merampungkan urusan pendidikanku. Bahkan untuk urusan nafkah saja, Abi hanya memberikanku untuk membeli keperluan dapur. Dia tidak mempedulikan kebutuhan pribadiku. Daripada aku merengek dan mengemis padanya, lebih baik aku bergantung pada diriku sendiri. Hati kecilku sebenarnya meronta, jika benar aku diinginkan tak seharusnya aku harus mengemis semua hak yang harusnya kuterima. Lelaki yang menginginkan diri kita tak akan membiarkan kita mengemis untuk hal apapun.
Di rumah ini aku diperlakukan seperti pembantu, bertugas untuk bersih-bersih dan memasak. Kadang rasanya ingin berontak, tapi yang kulakukan hanya diam. Aku tak mau merepotkan dan meminta sesuatu pada keluarga ini. Bahkan pada suamiku sendiri. Jika mereka tak mampu memberikan permintaanku lantas apa yang kudapatkan. Hanya sakit dalam hati, dan aku tak mau diriku tersakiti karena hal-hal seperti ini lagi. Fokusku hanyalah anak di dalam kandungan ini dan sidang skripsi yang sudah di depan mata. Aku tak menggubris lagi saat mertuaku melontarkan cacian dan makian ketika aku pulang telat dan mendampingi Renzo. Hingga suatu saat Bapak mertuaku mencoba mendekatiku.
“Sih, bagaimana kuliahmu, Nak?” tanya beliau dengan nada hangat.