Ponselku berdering sepanjang sore, nama kontak Abi muncul di layar ponselku. Tak kugubris panggilannya. Hatiku sudah cukup sakit menerima semua ini. Ia berhutang banyak sekali penjelasan padaku. Mamak mengantar sejumlah makanan untukku. Pandanganku masih terfokus pada pemandangan di luar jendela. Mamak meletakkan nampan berisi makanan kesukaanku, ada sayur bayam dengan jagung manis dan tempe goreng kesukaanku. Tapi, entah kenapa tak menggoda air liurku sama sekali. Tatapan hangat Mamak tak mampu menggoyahkanku. Aku masih tenggelam dalam duniaku. Aku masih mencerna semua yang terjadi. Hingga sebuah keberanian menuntunku untuk menghampiri Mamak di dapur.
“Mak… tolong jelaskan, biar aku tidak salah langkah,” pintaku lembut.
“Nak… maafkan kami, ya! Maafkan kami yang tidak pecus jadi orang tuamu,” balas Mamak tanpa menjelaskan apapun. Aku muak dengan semua ini. Adzan maghrib berkumandang tapi aku memilih untuk pergi ke rumah Anindira. Setidaknya ada Renzo dan Mak Uti di rumah itu. Mak Uti memperhatikan tanganku saat aku masuk ke dalam ruang tamunya. Mak Uti langsung meraih tanganku.
“Kamu habis sakit, Sih?”
Aku menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum. Renzo masih sibuk di kamar mandi. Ia belum menyadari kedatanganku. Mak Uti langsung membuatkanku teh manis. Sedangkan Renzo terkejut melihatku duduk sambil melambaikan tanganku padanya.
“Bulik…!” teriaknya sambil berlari memelukku. Aku menyambutnya dengan merentangkan kedua tanganku. Dengan hati-hati dia memelukku sambil menyapa adik bayi dalam perutku.
“Hmm… ada yang kangen nih,” ucapku sambil mengusap rambut Renzo. Anak manis itu memperlihatkan hasil mewarnainya. Kuacungkan dua jempolku padanya. Memang hasil gambaran itu sudah cukup bagus untuk anak seumurannya. Teknik gradasi yang kuajarkan dan beberapa referensi yang kuberikan cukup membuat kemampuan anak ini bertumbuh pesat.
Mak Uti menyodorkan segelas teh panas untukku. Ucapan terima kasih keluar dari mulutku, tanganku menghangat. Bahkan hatiku lebih hangat setelah di rumah ini. Mak Uti memandangku dengan lekat-lekat. Ia menemukan sebuah kejanggalan dari wajahku. Wanita seumuran Mamak itu mencoba menggenggam tanganku.
“Ada apa?” tanyanya pelan-pelan mencoba mengorek sesuatu yang berusaha kusembunyikan.
“Kelihatan ya, Mak?” balasku sambil menyecap seteguk teh hangat di tanganku. Tangan Mak Uti menggenggam lebih erat tanganku.
“Sakit badanmu tak seberapa, tapi ada yang lebih sakit. Andara Kasih… Mak Uti sudah menganggapmu seperti anak Mamak sendiri. Jangan pendam sendirian, ada Mak Uti, ada Anindira. Kamu bisa membagi bebanmu kepada kami. Mungkin kami tak banyak membantu, tapi kami akan jadi pendengar setiamu.”
Aku memeluk Mak Uti sambil menangis. Mak Uti salah satu orang yang sudah dipercaya oleh Mamak. Aku yakin ia mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku ingin mengoreknya lebih dalam. Setelah puas menangis dan mengusap air mataku. Aku mencoba berbicara pada wanita itu. Renzo bisa mengerti situasi yang terjadi. Anak laki-laki penuh semangat itu menepi dari hiruk pikuk kepenatan masalah orang dewasa. Ia memilih belajar membaca di depan televisi.
“Mak… Njenengan tahu nggak apa yang disembunyikan Mamak dan Bapak dalam pernikahanku dengan Mas Abi?” tanyaku tanpa rasa ragu.
“Maksudnya?”
“Tolong kasih tahu aku, Mak. Jangan biarkan aku menderita seperti ini?” berondongku pada Mak Uti. Mak Uti sedikit berpikir. Aku tetap menatapnya dalam-dalam seakan tetap memohon agar ia mau membeberkan rahasia yang selama ini tidak kuketahui. Mak Uti menghela nafas panjang. Rasa tak tega dalam dirinya membuatnya mulai mengeluarkan sepatah kata.