Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #16

Bagian 16 Pertemuan Kembali

Pembicaraan tentang tasyakuran menemui titik terang. Mamak berjanji padaku akan menggelar acara tasyakuran secara sederhana, Mamak menggenggam tanganku sambil memperlihatkan tabungan yang ia sembunyikan dari Bapak. Ya, sebuah gelang emas yang cukup lumayan besar. Ia berjanji padaku akan menjual salah satu tabungannya untuk memenuhi kebutuhanku. Aku memeluk Mamak dan menangis terisak di bahunya. Walaupun dunia ini kejam padaku, setidaknya ada sebuah embun sejuk yang bernama Ibu. Aku mencium tangannya dan mencium keningnya. Mamak juga mengucapkan beberapa kali kata maaf padaku. Atas ketidak berdayaannya membelaku, atas segala kesulitan yang harus kutanggung setelah aku memutuskan menerima pernikahan ini, dan atas kelemahannya tak bisa melindungiku dari seorang Bapak.

Selama aku pulang, Bapak selalu bersikap kasar pada Mamak. Tapi, setiap aku ingin melawannya, Mamak selalu mengedipkan mata, seolah mengisyaratkan padaku bahwa aku tak boleh melakukan konfrontasi dengannya.

Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu.” Kalimat dari potongan surat Al Baqarah ini yang selalu Mamak ingatkan padaku. Walaupun aku pernah mengalami sebuah kepahitan yang membawa namaku sebagai seorang daftar hitam dalam masyarakat, tapi aku selalu menggenggam seutas kalimat peneduh ini.

Dari kejadian yang menimpaku selama beberapa bulan terakhir, aku semakin belajar bahwa manusia tidak bisa menggantungkan harapan pada sesama makhluk. Selemah itu makhluk bernama manusia karena terkadang orang yang kita titipkan harapan malah jadi orang yang menorehkan kekecewaan paling mendalam. Pernikahanku mungkin baru seumur jagung, tapi pelajaran yang kupetik sudah sangat banyak. Hatiku tak berharap lagi, aku belajar melepas. Jika memang Abi masih mencintai Sabrina, aku rela mundur. Begitulah sekelumit isi hatiku yang kadang selalu bergejolak. Satu sisi aku ini istri sahnya, tapi satu sisi, aku malu dengan sikap keluargaku yang jadi benalu baginya.

Mungkin ini juga yang membuatnya selalu acuh memikirkan kebutuhan pribadiku. Mungkin Bapak terlalu menekan finansial Abi sehingga urusan kebutuhan pribadiku menjadi tidak penting lagi. Anindira juga geleng-geleng kepala melihat nasibku. Ia mengamatiku saat aku mencuci beberapa pakaian dalam yang tak layak pakai masih kurawat dan kupakai.

“Sih, Abi benar-benar nggak memperhatikan kebutuhan pribadimu?” tanyanya saat melihatku menjemur beberapa pakaian di sebuah kabel bekas yang digunakan sebagai alat menjemur pakaian di rumah ini. Hanya senyum yang kuhadirkan padanya.

“Ada skala prioritas, Dir.”

“Tapi nggak gini dong! Lihat pakaian dalammu, apa masih layak pakai?”

“Nggak apa-apa, untuk sementara aja. Nanti kalau aku udah lahiran kan ganti ukuran juga to,” balasku mencoba menenangkannya.

“Hmm, kamu tuh ya. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri! Kamu berhak mendapatkan prioritas juga!”

“Aku lagi mempersiapkan barang-barang untuk lahiran si Dedek dan mempersiapkan biaya untuk wisuda, Dir. Nggak apa-apa aku berhemat sedikit saja.” Kulihat Anindira menggerutu sendiri. Sahabatku itu mengomeliku sepanjang aku menjemur pakaian. Setelah selesai, aku mengajaknya masuk ke dalam kamarku. Seperti biasa aku menodongnya bercerita. Tentang pekerjaannya dan kehidupannya di Surabaya. Ia menceritakan padaku tentang sosok lelaki yang mendekatinya. Sebagai seorang janda, tentu dia memiliki sebuah trust issue. Ia sangat hati-hati dalam menyeleksi laki-laki yang mencoba mendekatinya.

Pekerjaan Dira cukup bagus. Ia mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuannya. Ia sosok ekstrovert yang sangat menyukai bertemu dengan orang. Berbeda denganku, walaupun sewaktu SMA aku menjadi seorang yang disegani di sekolah, tapi setelah kejadian kelam itu aku berubah menjadi sosok yang menarik diri. Kejadian yang mampu menjadikanku aib di keluarga Abi, ya aku dikenal menjadi sosok yang buruk gara-gara kejadian itu. Aku pun tak mau menjelaskan semuanya pada mereka, biarlah mereka tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Aku selalu ingat sebuah kalimat peneduh dari seorang sahabat Nabi Sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA, “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu. Aku tidak sebaik apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tidak seburuk apa yang kau pikirkan.

Lihat selengkapnya