Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #17

Bagian 17 Pertengkaran

Abi duduk di kursi tamu bersama Bapak. Kedua lelaki menyebalkan itu menatapku dengan tajam. Sepertinya mereka sudah banyak berdiskusi waktu aku masih di rumah sakit, terbukti dengan air minum di hadapan Abi sudah hampir habis. Aku tak menggubris keduanya. Rasa kecewa yang perlahan menjadi benci menjalar di relung hatiku. Dua sosok yang harusnya bisa kujadikan sandaran, tapi secara bersamaan malah menghancurkan mentalku. Bapak berteriak memanggilku, tapi aku tetap masuk ke dalam kamarku. Tangan Abi menghadang di balik pintu yang akan kututup. Tatapannya tajam, sekuat tenaga kudorong pintu kamar ini, tapi tak dapat menghentikannya untuk membuka pintu itu. Ia mengunci pintu kamarku.  Aku berusaha menghindarinya dengan berjalan ke arah jendela kamarku. Kubuka jendela yang cukup usang itu agar udara perlahan masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba dadaku sesak mengetahui laki-laki berstatus suamiku ini ada di dalam kamarku.

“Sampai kapan kamu mau ngambek?” Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya. Beberapa menit ia tak mendapat jawaban, hingga langkahnya tertuju padaku.

“Sih!” panggilnya padaku sambil membalikkan badanku. Mataku berkaca-kaca mendapatkan perlakuannya yang cukup kasar.

“Aku sudah lihat semua. Lantas apa lagi yang mau kamu jelasin!” ucapku dengan lantang.

“Lihat apa! Kamu ini suka banget nyari-nyari masalah!”

“Nyari masalah? Aku?!” Aku tertawa getir mendengar ucapannya. “Kalau kamu masih cinta dengan Mbak Sabrina, ya udah… lepas aja aku! Balik saja sama dia, ngapain kamu nyari orang baru kalau kamu belum selesai dengan orang lama! Selama ini kamu selalu bersama dia ketika urusan Zakia. Kamu nggak pernah ngasih kesempatan aku mengenal anak itu! Lantas, kalau anak itu takut padaku, apa karena aku ibu tiri yang jahat? Dari mana kalian tahu bagaimana aku seperti itu! Bahkan aku belum pernah menunjukkan sikapku padanya!”

Abi menghela nafas panjang. Tangannya semakin kuat mencengkeram lenganku dan air mataku perlahan sudah jatuh tak terbendung lagi. Tubuhku bergetar walaupun tangisanku tak bersuara. Kutahan semuanya hingga menunggu setiap ucapannya.

“Sih! Kamu sudah tahu aku sudah punya anak! Lantas, kamu ingin aku menjauhi anakku? Sabrina ibunya Zakia, Sih! Kamu cemburu sama dia?” ucapnya sambil menatap wajahku yang sudah tak karuan lagi.

“Aku hanya capek! Aku sudah capek!”

“Halah! Kamu cari masalah kayak gini karena kamu pengen dekat dengan si Dokter itu, kan!” ucapnya dengan sangat kasar. Mataku langsung melotot ke wajahnya. Bisa-bisanya disaat seperti ini dia memiliki pemikiran seperti itu.

“Picik sekali pikiranmu! Lepas!” balasku sambil menghempaskan tangannya dari lenganku. Kubuka kunci pintu kamarku. “Pergi!”

“Hah! Kamu pikir kamu sudah hebat! Selama ini Bapakmu bergantung sama aku, Sih! Aku yang melunasi hutang-hutangnya!”

“Pergi!” kuulangi perkataanku sambil setengah berteriak. Aku tidak ingin ia terus di kamar ini. Rasa sakit ini sudah cukup dalam. Aku tak kuat lagi mendengar kata-kata busuknya keluar lagi. Mentalku sedang runtuh perlahan tapi aku harus bertahan demi anak dalam kandunganku ini. Lelaki itu keluar dari kamarku sambil bersungut-sungut. Setelah ia keluar kututup pintu kamarku dan kukunci dengan kasar. Aku tak ingin dia kembali lagi ke kamar ini. Telingaku sudah penuh dengan kata-kata menyakitkan dari mulutnya.

Kudengar beberapa kali Bapak meminta maaf padanya. Bagaimana tidak, ia layaknya ATM berjalan baginya. Aku langsung merebahkan tubuhku ke ranjang. Rasanya sesakit ini, ya Tuhan, apakah pernikahan harus seberat ini? Tangisku pecah. Ruangan yang penuh semilir angin dari kebun samping rumah ini terasa sangat sepi. Hidupku kenapa seberantakan ini. Beberapa kali kupikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika aku tak menerima pernikahan ini. Tapi, setelah melihat perutku yang besar dan gerakan-gerakan halus dalam perutku ini. Aku harus bisa mengontrol perasaanku sendiri, mengontrol emosi yang kadang berkecamuk. Aku tidak ingin anakku lahir dengan beban ibunya. Ia harus lahir dengan perasaan bahagia mempunyai ibu sepertiku walaupun aku mungkin bukanlah ibu yang baik baginya.

Lihat selengkapnya