Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #18

Bagian 18 Bantuan dan Kejutan

Seorang lelaki paruh baya datang mendekat ke arah kami. Wajahnya tersenyum hangat dengan baju koko warna coklat muda dengan aksen bordir. Wangi khas parfum aroma Melati menguar dari sosoknya yang sangat bersahaja. Ia adalah Bapak mertuaku. Sosok Haji Akbar memeluk Mbah Yai Muslih. Keduanya nampak saling akrab. Aku hanya memperhatikan keduanya yang saling menanyakan kabar masing-masing. Ketika percakapan mereka berhenti, barulah mertuaku bertanya kepadaku.

“Nduk, kamu kok nggak pulang? Pulang, yuk!” bujuk Haji Akbar padaku.

Mboten, Pak. Saya masih pengen di sini dulu,” balasku dengan sopan.

“Hmm… sepertinya ada sesuatu sama kamu, ya Nduk?” tanya Mbah Yai Muslih menyimpulkan semua pertanyaan asal yang sempat kami bahas.

Aku tertunduk. Rasanya semua yang kusimpan rapat-rapat tersingkap seketika. Mbah Yai menepuk pundakku. Tepukan yang seolah menyalurkan sebuah dukungan untukku. Aku membalasnya dengan senyum kecut. Rasanya berat sekali untuk kembali ke rumah itu, apalagi setelah mengetahui kenyataan demi kenyataan yang mulai tersibak. Aku tak tahu apakah akan ada kejutan lain yang akan tersibak oleh semesta.

“Nduk, kita buat acara tujuh bulananmu, ya… Nanti kita undang ibu-ibu kompleks untuk pengajian,” bujuk Haji Akbar dengan lembut.

Mboten, Pak. Saya sudah menyiapkan acara tasyakuran kecil-kecilan di rumah Mamak. Saya nggak mau merepotkan Bapak. Apalagi…”

“Kamu boleh marah sama Abi, Nduk. Tapi, mau bagaimanapun juga aku ini kakek dari anak yang ada di kandunganmu. Kakeknya ini ingin sekali menyambutnya datang ke dunia ini. Hmm… kalau kamu nggak berkenan untuk pulang. Bapak akan izinkan kamu mengadakan acara di rumah orangtuamu, tapi kamu nggak boleh menolak pemberian Bapak.”

Sungguh aku bingung dengan permintaan bapak mertuaku, aku hanya menengok ke arah Mbah Yai Muslih. Ia mengangguk seolah menyetujui semua rencana mertuaku. Akhirnya aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Tapi, Pak… Bapak jangan beritahu Mas Abi kalau Bapak memberikan semua itu. Saya nggak kuat kalau diungkit-ungkit semua pemberian Bapak,” ucapku dengan tegas. Setelah menjadi istrinya, aku semakin mengenal sosok suamiku. Ia tipikal orang yang selalu mengungkit apa yang ia berikan disaat sedang terjadi konflik dan aku adalah orang yang pantang berhutang jasa pada siapapun. Apapun yang orang lain berikan entah pertolongan ataupun dalam hal kebaikan yang lain, akan kuusahakan untuk membalas kebaikan tersebut. Jadi, aku layaknya pantulan cermin. Kebaikan yang diberikan orang lain tak akan kulupakan, ia akan mendapatkan balasan dari kebaikannya.

Lihat selengkapnya