Ozie terbaring dengan kondisi yang lemah. Saat aku mendekat kepadanya, matanya mengerjap-ngerjap. Tangannya berusaha meraih lenganku. Dira mengangguk untuk menuruti permintaannya. Aku mendekat dengan hati yang cukup sesak. Ozie yang kukenal di mana? Kenapa badannya sekurus ini? Kenapa wajahnya setirus dan sepucat ini ya Allah. Tangan Abi meraih tanganku, aku menangis sesenggukan. Ia menyuruhku mendekat, tangan kanannya mengusap air mataku dengan perlahan. Anindira masih terdiam mengamati kami di sudut ruangan. Sedangkan pintu perlahan terbuka, aku tak sempat menengok ke arah siapa yang datang. Rasanya kesedihan dan rasa bersalah membelengguku hingga aku terus menangis di hadapan Ozie.
“Maafkan aku, Zie… maaf baru bisa menjengukmu, selama ini aku hanya bisa mendoakanmu dari kejauhan. Kamu tahu posisiku seperti apa, kamu sembuh ya! Kamu kuat, Zie!” ucapku sambil tersenyum menyemangatinya.
“Bunda…” panggil Ozie pada ibunya.
“Ya, Nak… kamu butuh apa?” tanya Bu Nawang dengan penuh kasih.
“Ini… Andara Kasih, Bunda… jangan marah sama dia, ya… aku sudah ikhlas dengan takdirku, Bun. Tolong anggap Kasih seperti anak Bunda, ya… kalau suatu saat aku pergi,” bisik Ozie.
“Zie! Kamu sembuh Zie, kamu jangan patah semangat! Kamu harus sembuh, kita masih jadi sahabat Zie. Aku juga masih sayang kamu! Rasa sayangku nggak pernah hilang, Zie! Kamu tetap jadi sahabatku. Jadi tolong bertahan, ya!”
Bu Nawang hanya menangis mendengar ucapan Ozie. Anak semata wayangnya itu pernah sejatuh itu karena aku memutuskan hubungan kami dengan cara sepihak. Kami sudah menata masa depan kami, dari hal-hal terkecil tentang desain rumah kami kelak, cara parenting, dan sejumlah wishlist yang ingin kami lakukan bersama-sama dan semua hancur hanya karena ucapan sembronoku juga sikap bapak yang serakah. Ozie memegang tanganku erat-erat lebih tepatnya menggenggam lenganku. Aku tahu ia tahu batasan, ia tak akan menyentuhku secara langsung. Suara gelembung di tabung oksigen masih berbunyi nyaring menemani kami. Anindira duduk di luar, sementara Bu Nawang masih memperhatikan perutku yang besar.
“Sudah berapa bulan usia kandunganmu, Nak?” tanya beliau dengan suara sangat lembut.
“Hampir menginjak usia delapan bulan, Bu. Bu… maafkan saya,” ucapku dengan lirih sembari menatap wajah lekat-lekat. Aku tak bisa pindah dari posisiku. Tanganku masih dipegang Ozie dengan sangat kuat.
“Nggak apa-apa, Ozie sudah menceritakan semuanya. Ibu tahu posisimu seperti apa, tapi… Ibu harap di sisa umur Ozie ini, kamu tetap hadir menyemangatinya. Bahkan jika hal buruk terjadi padanya, Ibu harap dia selalu ditemani orang yang ia sayangi dan orang itu adalah kamu, Nak. Rumah Ozie sudah jadi, bahkan desainnya sesuai yang kalian gambar, interior dan perkakas di dalamnya juga ia tata seperti keinginan kamu. Ozie tidur di rumah itu, beberapa hari lalu saat Ibu akan mengantarnya kontrol, ternyata Ozie sudah pingsan. Trombositnya kembali menurun, sejahat itu leukimia menggerogoti tubuhnya. Ibu harap kamu sehat-sehat ya, Nak. Fokus dengan asupan gizi untukmu dan bayimu. Terlepas kamu sekarang seorang istri laki-laki lain, Ibu akan tetap menganggapmu sosok yang paling Ozie sayang.”
“Ibu… walaupun saya tak bisa leluasa datang ke rumah sakit, tolong kalau Ozie mencari saya, Ibu hubungi saya. Ini nomor saya tolong Ibu simpan,” balasku sambil menyodorkan ponselku, “Saya akan selalu berdoa untuk kesembuhan Ozie. Mungkin kami tidak berjodoh, tapi rasa sayang saya padanya sungguh tulus, hidup saya juga hancur setelah menerima pernikahan ini. Saya kira saya akan bisa menjalani pernikahan ini dengan baik, nyatanya terlalu berat.”
Air mataku menetes lebih deras, sebuah penyesalan menyergap hatiku. Jika saja aku lebih peduli padanya lebih awal, mungkin aku bisa lebih sering menjenguknya. Tak hanya itu, aku mulai berandai-andai, jika saja tak ada keputusan bodoh itu apakah semua akan berbeda? Bu Nawang sibuk menyimpan nomorku ke dalam ponselnya. Ia memelukku erat.