Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #20

Bagian 20 Kepergian Ozie

Beberapa hari aku dan Ozie saling berkomunikasi lewat video call di sela-sela aku melakukan pekerjaanku di kantor sekolah. Wajahnya tampak lebih tirus, kadang badannya menggigil seperti menahan rasa sakit yang tak bisa kumengerti. Memang aku berusaha tidak menimbulkan masalah lagi. Abi masih suamiku, dan Ozie adalah sebuah masa lalu tapi ia tetap sahabatku. Walaupun begitu naluri kemanusiaanku yang menuntunku untuk membersamainya. Seperti halnya pesan Bu Nawang padaku. Beberapa kali Ozie selalu memintaku untuk menghadiahkan surat Al fatihah untuknya dan aku mengiyakan permintaannya. Setiap sehabis sholat kuluangkan waktuku sehabis menjalankan amalan rutin selalu kuselipkan hadiah Surat Alfatihah untuknya. Aku hanya berharap dia tidak terlalu merasakan kesakitan, bahkan jika ia harus merasakannya semoga hal itu sebagai penggugur dosanya.

Anindira memutuskan untuk kembali ke kota ini. Ia tak mau merepotkanku untuk mengurusi Renzo. Didikan Anindira yang keras membuat Renzo sering bersembunyi di rumahku. Seperti halnya hari ini, beruntung sekali hari ini aku memiliki banyak camilan untuknya.

“Bulik…” anak laki-laki kesayangan Anindira itu menghamburkan pelukan di perutku yang membesar.

“Ada apa? Kok lemes? Lapar?” tanyaku padanya. Anak laki-laki itu mengangguk. Kuusap ujung kepalanya dengan tangan kananku kemudian menuntun tangan kanannya menuju amben di dapur. Kukeluarkan puding strawberry yang kubuat tadi pagi dari kulkas dan juga segelas susu coklat dan roti bakar sisa sarapanku yang ada di dalam penutup makanan. Mata Renzo langsung berbinar. Ia menyantapnya dengan hati yang riang. Kuperhatikan wajahnya yang selalu tersenyum saat mengecap makanan yang kuberikan. Bisa dibilang makanan itu cocok di lidahnya.

“Bundamu ke mana?” tanyaku penasaran.

“Hmm… tadi pergi sama Mbah Uti. Sampai sekarang belum pulang,” jawabnya sambil menyendok puding di dalam cangkir kecil. Pantas saja anak ini kelaparan, pasti ada hal penting yang mereka lakukan hingga tidak sempat meninggalkan makanan untuk Renzo.

“Kamu di sini sama Bulik aja sampai Bundamu pulang. Bulik mau ke kebun manen tomat. Kamu mau ikut?” ajakku. Renzo mengangguk. Setelah menghabiskan makanan, aku mengajaknya ke kebun samping rumah. Tomat segar berwarna merah kekuningan sudah menanti untuk dipetik. Suasana yang cerah dengan semilir angin yang segar membuatku betah berlama-lama di kebun. Renzo sangat antusias bermain di kebun. Sesekali ia menangkap serangga yang hinggap di pohon tomat. Di rumah ini, aku merasa lebih aman walaupun Bapak masih sering mengumpatiku. Tapi, masih ada Mamak yang selalu jadi garda terdepanku, ia akan melindungiku.

Sebuah panggilan berdering di ponsel yang kutaruh di atas tomat-tomat yang ada di keranjang. Karena aku masih berada di jarak yang lumayan jauh, Renzo langsung berinisiatif untuk mengambilkannya. Ia berlari untuk memberikan ponselku. Ozie nama yang terlihat di layar ponselku. Kugeser layar ponselku untuk menjawab panggilan itu. Setelah mengucap salam aku mendengar dengan seksama suara dari seberang. Tangisan Bu Nawang tampak jelas. Rasa hatiku tidak enak, apakah terjadi sesuatu dengan Ozie?

“Ibu… kenapa Ibu menangis? Ozie nggak apa-apa, kan?” tanyaku penasaran.

“Kasih… Ozie menyerah, Nak!” ucapnya sambil menangis histeris. Aku terduduk lemas di antara pohon tomat. Rasanya tenagaku sudah tidak ada lagi. Baru tadi pagi aku berkomunikasi dengannya. Sore ini dia sudah tidak ada. Hatiku hancur. Rasanya sulit untuk kupercaya. Senyum dan obrolan kami selama ini terngiang di kepalaku.

“Nggak mungkin, Ibu…! Nggak mungkin Ozie pergi secepat ini!”

“Kamu yang ikhlas ya, Nak! Kita doakan Ozie mendapatkan tempat kembali yang baik di alam sana, Ibu sedang menunggu di ruang administrasi. Ibu harus sekuat ini mengurus Ozie sampai akhir,” ucap Bu Nawang mencoba untuk tegar. Bagaimana ia tidak setegar itu, ia sudah berulang kali kehilangan sosok yang sangat dicintainya. Ayah Ozie meninggal ketika bertugas di daerah konflik dan sekarang Ozie anak satu-satunya yang diambil Tuhan. Darinya aku belajar tegar, mungkin ini sudah jadi jalan terbaik bagi Ozie.

“Aku bersaksi kamu orang baik, Zie dan aku akan ikhlas menerima kepergianmu,” ucapku lirih sambil menyeka air mataku. Aku segera mengumpulkan tomat-tomat ke dalam keranjang. Renzo tampak ikut sedih melihatku menangis. Ia memelukku erat.

Lihat selengkapnya