Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #21

Bagian 21 Rumah Impian

Sidang skripsi akhirnya datang juga. Beberapa hari aku harus bersusah payah untuk mempersiapkan presentasiku. Akan kukerahkan segala kemampuanku. Sesampainya di kampus semua rekanku sudah bersiap dengan bahan presentasi masing-masing. Ruangan yang biasanya jadi tempat kami bercanda, hari ini nampak lebih serius. Suasana tampak lebih sepi, semua tenggelam dengan persiapannya masing-masing. Gerakan bayi di dalam perutku semakin aktif, mungkin ia juga merasakan rasa gugup ibunya. Penyakit gugupku menciptakan rasa ingin ke kamar mandi. Perutku sudah mulas-mulas tapi bukan mulas ingin buang air besar yang kurasakan. Setelah dosen penguji datang, rasanya semakin parah. Aku mencoba menata semuanya, beberapa kali kutarik nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan. Hingga akhirnya namaku pertama kali dipanggil karena kondisiku yang hamil besar. Privilege yang sungguh kusyukuri, dengan begitu aku tak lama-lama menahan rasa gugup. Dengan langkah tegas dan tatapan optimis aku maju menghadapi dosen penguji. Semua membabat habis hasil skripsiku. Bahkan detail dalam pembahasanku diulit dan dikuliti sedetail-detailnya.  Naluri berperang langsung mode on. Kujawab setiap pertanyaan mereka dengan argumenku yang tak bisa terbantahkan hingga enam puluh menit terlampaui dengan lancar. Aku mengucapkan terima kasih dan bersalaman dengan dosen penguji, tepuk tangan dari rekan-rekanku juga menghiasi rasa lega yang kini hadir. Dosen pengujiku meluluskan karya tulisku, tinggal wisuda kelulusan yang harus kuhadapi. Rekan-rekanku masih berada di dalam gedung, karena kegerahan aku keluar dan duduk di bawah pohon sambil menikmati hamparan langit biru yang seakan mendukungku hari ini.

“Zie, aku berhasil!” ucapku dengan lirih.

Sebelum berjuang sidang skripsi aku mampir ke makam Ozie sambil membawa seikat bunga baby birth kesukaanku dan seplastik bunga mawar. Di samping makamnya aku meminta doa darinya untuk kelancaran sidang. Kubelai nama di atas nisannya. Rasanya sesak sekali, tapi aku tidak boleh selemah ini. Bu Nawang masih sibuk merapikan makam Ozie, bunga yang ada di dalam tas kreseknya, ia taburkan ke makam Ozie.

“Ozie… besok Bunda, percantik ya makam kamu. Hari ini Bunda datang sama Kasih. Dia mau ujian hari ini, kamu doakan dari sana ya, Nak! Barang yang kamu titipkan buat dia, hari ini akan Bunda kasih.” Bu Nawang mencium nisan Ozie. Aku masih fokus membaca yasin untuk Ozie. Bu Nawang masih berkaca-kaca sambil membelai makam Ozie. Setelah seperempat jam berlalu di makam Ozie, aku mengajak Bu Nawang untuk meninggalkan makam Ozie dan melanjutkan perjalanan ke kampus.

Saat aku naik ke motorku, Bu Nawang menghentikanku.

“Nak, nanti pulang dari kampus Ibu jemput ke rumah ya, ada yang mau ibu sampaikan.” Bu Nawang tersenyum sambil mengelus perut besarku. Aku mengangguk, bagiku sekarang ia adalah ibuku juga. Aku tak mau menyia-nyiakan beliau, rasa bersalahku akan kutebus dengan menghormati dan memperlakukannya seperti ibuku sendiri. Sekarang aku memiliki dua ibu, rasanya dunia ini terasa ringan untuk dihadapi. Setidaknya ada mereka di sisiku untuk membelaku dari kejamnya dunia ini.

Setelah selesai proses sidang skripsi hari ini kami langsung mendapatkan jadwal wisuda beserta rincian biaya yang harus dibayar pada pihak kampus. Rasanya beban di pundakku berkurang sedikit. Kubelai lembut perutku, sebagai rasa terima kasih pada bayiku, hari ini aku ingin memberinya hadiah makanan yang enak. Sembari makan ayam goreng sambal matah kesukaanku, pikiranku masih tertuju dengan ucapan Bu Nawang. Apa yang sebenarnya dititipkan Ozie padanya? Kulahap makananku segera mungkin, dan segera memberi pesan pada Bu Nawang bahwa aku sudah perjalanan pulang.

Setelah sampai di rumah, kulihat Bu Nawang sedang duduk berdua dengan Mamak. Keduanya tampak tersenyum menyambutku, setelah mengucap salam kucium tangan keduanya.

“Bu’e sudah lama? Maaf tadi saya mampir makan dulu,” ucapku sambil meletakkan tas berisi materi skripsiku. Semilir angin menemani kami bertiga berbincang di teras rumah.

“Nak, ibu ke sini untuk memberikan amanah dari Ozie, apapun yang Ozie berikan, tolong kamu terima ya! Ibu nggak mau kamu menolak apa yang sudah Ozie berikan ke kamu.” Bu Nawang mengeluarkan sebuah amplop coklat kepadaku.

“Ini apa, Bu’e?” tanyaku penasaran sambil menerima barang itu.

“Buka saja,” pinta Bu Nawang. Mamak mengangguk seraya setuju dengan ucapan Bu Nawang.

Lihat selengkapnya