Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #22

Bagian 22 Tasyakuran

Dengan wajah pucat, Ozie mengenakan jaket gunung warna merah yang kuberikan untuknya. Lelaki itu duduk di hadapan kamera sambil bercerita. Sebuah fakta yang mengejutkan tentunya.

“Kasih, mungkin kalau kamu melihat video ini, entah aku masih ada atau nggak di dunia ini. Tapi, aku nggak mau kamu terus hidup tanpa mengetahuinya.” Ozie terdiam sambil menghela nafas.

“Sih, sebenarnya aku tak mau mencampuri urusan rumah tanggamu, tapi saat ini aku memiliki sebuah kenyataan pahit yang harus kamu ketahui. Suamimu, ya Si Abi. Dia tidak mencintaimu, Sih. Aku sudah membuntutinya diam-diam untuk mencari tahu lelaki macam apa dia dan kutemukan sebuah kenyataan bahwa dia sering bersama mantan istrinya. Bahkan, ia membayar seorang lelaki untuk menikahi mantan istrinya agar bisa kembali menikah dengannya. Sabrina masih mencintai Abi, dan Abi juga sama. Kamu dan Abi bisa menikah karena paksaan Haji Akbar. Aku kenal dekat dengan lelaki itu, dan dia menceritakan kenyataan ini padaku. Sih, jika bisa, pergilah darinya. Kamu berhak bahagia. Aku tak mau kamu hidup bersama laki-laki seperti dia. Jika kamu masih ragu dengan apa yang kukatakan, tolong kamu hubungi orang yang ada di alamat yang kuberikan di file ini. Sekali lagi, kamu berhak bahagia… tinggallah di rumah impianmu. Maaf jika aku tak bisa menemanimu. Tapi setidaknya di rumah itu kubangun dengan segenap cinta untukmu. Jika suatu saat kamu bertemu lelaki lain yang tulus padamu, menikahlah dengannya. Tapi, kuharap jangan bersama lelaki brengsek itu. Kasih… jika ada kehidupan selanjutnya, aku akan meminta Tuhan menjadikanmu pendampingku, aku akan menemukanmu lebih dulu dan tak akan melepasmu seperti halnya kemarin. Andara Kasih aku menyukaimu layaknya aku menyukai langit. Aku mencintaimu… Andara Kasih. Berbahagialah wanita terindahku.”

Hatiku remuk mendengarnya, Ozie tersenyum sambil memperlihatkan kunci berhias gantungan kunci pemberianku. Kuraih kunci rumah Ozie, tangisku pecah sambil mengucapkan kata maaf secara lirih. Sungguh sesal selalu datang terlambat. Kuseka air mataku dengan tergesa sambil mencari file alamat orang yang dimaksud Ozie. Kufoto nama dan alamat orang yang dimaksud Ozie. Kulantunkan surat Alfatihah terkhusus untuk Ozie. Lelaki sebaik itu harus kucampakkan begitu saja hanya demi menuruti permintaan Bapak yang bahkan tak mengakui aku adalah anaknya. Beberapa hari yang lalu setelah mendengar perkataannya, aku langsung menanyakan pada Mamak. Mamak memegang tanganku erat-erat sambil geram dengan sikap suaminya.

“Kamu bukan anak haram, Nduk! Mungkin Bapakmu cemburu karena beberapa faktor, tapi kamu tak usah khawatir Nduk… Mamakmu ini nggak pernah tidur dengan lelaki lain selain Bapakmu! Walaupun sifat Bapakmu memang menyebalkan, tapi Mamak tetap hormat dengannya.”

“Mamak pernah capek nggak sih?” tanyaku penasaran.

“Huft… manusiawi Nduk manusia capek dengan keadaan. Apalagi keadaan yang nggak diharapkan, tapi Mamak selalu berpegang teguh dengan nasehat Mbah Utimu, jangan sekali-sekali minta cerai kasihan kamu nanti hidup tanpa Bapak. Tapi, Mamak sekarang menyesalinya. Kamu harus tumbuh dengan kebencian Bapakmu. Kasih… sekarang, Mamak nggak akan seperti almarhum Mbah Utimu, Mamak akan mendukung semua keputusanmu. Jika kamu memang tak bisa menjalaninya, tak apa-apa kamu tinggalkan biduk retakmu ini, Nak. Tak apa melompat dalam badai dan berenang sendirian.”

Aku termangu di depan layar komputer saat bel mulai berbunyi hari ini acara tasyakuran kehamilanku, pikiranku masih tertuju pada acara itu, jawaban apa yang harus kuberikan pada ibu-ibu pengajian jika mereka menanyakan keberadaan suamiku. Pagi ini sungguh sepi, kepala tata usaha dan bendahara sekolah ini sedang rapat di luar. Dita mengendap-endap berusaha mengagetkanku tapi aku masih dengan tatapan kosongku. Tangannya sesekali ia geser-geser di depan mukaku.

“Yu! Pagi-pagi ngelamun sih!”

“Hm… nggak kok. Lagi bingung aja mau ngerjain apa. Semua kerjaan udah beres, bingung mau ngerjain apa lagi. Kamu nggak ada jam?”

Gadis itu geleng kepala. Ia duduk di sampingku sambil sedikit bersembunyi. Kulihat tingkah anehnya. Ternyata ia menghindari sosok Kang Wahid yang sedang berjalan di luar.

“Kenapa? Udah ada yang menyatakan perasaan?” godaku. Anindita mencubit tanganku, wajah gadis itu memerah. Sepertinya dugaanku benar. Tak kusangka Kang Wahid memiliki nyali yang besar juga.  Tawaku langsung lepas. Kegelisahanku memudar perlahan karena kehadiran Dita.

“Nanti sore kamu ada acara nggak?” tanyaku padanya.

Lihat selengkapnya