Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #23

Bagian 23 Candaan

Kuganti gamis yang dipakai siraman dengan gamis berwarna biru tua. Arya duduk bersama Dita dan Dira, Dira tampak antusias berbincang dengan Arya. Dita sadar situasi, ia menyusulku ke dalam kamar. Bergegas ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang sambil memejamkan mata. Gadis itu memang sangat cekatan dalam hal apapun, termasuk dalam hal urusan tidur. Ia bisa tertidur dengan cepat di manapun ia berada. Sungguh keberuntungan yang perlu ia syukuri, di satu sisi aku tipikal orang yang sangat sulit tertidur jika isi kepalaku sedang ramai.

Mamak dan Budhe Uti masih membereskan perkakas yang kami gunakan. Aku membuka paket yang dikirim oleh bapak mertuaku. Memang ia sudah menyiapkan banyak sekali perlengkapan bayi, dari stroller hingga pakaian bayi yang lucu-lucu. Kusiapkan sebuah kertas kemudian mencatat satu demi satu barang yang ada di meja riasku. Satu persatu kumasukkan baju bayi tersebut ke dalam keranjang. Besok minggu adalah waktu yang tepat untuk mencucinya. Kufoto barang-barang tersebut dan kukirim pada bapak mertuaku seraya berterima kasih kepadanya. Aku belum mengambil uang yang ada di dalam tabungan yang diberikannya. Rasanya sangat berat untuk menggunakannya. Walaupun beliau tulus tapi rasanya aku harus menggunakan amanah itu dengan sebaik mungkin atau mungkin tak usah kugunakan. Ada rasa tak ingin menggunakan fasilitas dari keluarganya. Aku takut Abi dan Ibu mertuaku mengetahuinya, terlalu sakit jika harus mendengar kata-kata pedas yang keluar dari mulut mereka.

“Alhamdulillah satu demi satu sudah terlaksana. Sekarang tinggal mempersiapkan wisudamu, Nduk. Jangan ragu minta bantuan ke Bapak, apapun muara hubunganmu dengan Abi. Bapak tetap akan memperlakukanmu seperti anak Bapak sendiri,” balasnya saat kukirim pesan ucapan terima kasih. Ada rasa haru dalam hati yang menyelimuti ketika membaca pesan itu. Arya menengokku dari pintu. Ia bersandar di daun pintu sambil memperhatikan Dita yang tidur dan aku yang sedang sibuk dengan ponselku.

“Kamu sibuk apa?” tanyanya padaku.

“Hmm… nggak kok. Cuma kirim pesan ke Bapak mertua. Kamu sudah makan?”

Arya mengangguk. Dia memang sosok yang sangat rendah hati. Walaupun sekarang ia bergelar dokter, tapi ia tak malu datang ke rumah sahabat lamanya dengan kondisi rumah yang tidak sebagus rumahnya.

“Sih, jalan-jalan bentar lihat sunset yuk!” ajaknya padaku. Aku menengok Dira di ruang tengah. “Udah pulang,” tambahnya. Kurapikan jilbabku dan keluar dengan sandal warna biru senada dengan baju yang kupakai. Kami berdua berjalan-jalan menyusuri rumah-rumah. Arah langkah kami tentu ke sebuah spot terbaik di desa ini. Dengan pemandangan sawah dan pegunungan matahari terbenam sangat cantik memanjakan mata. Kami duduk di serambi masjid sambil menghirup udara sore yang hangat. Mataku menatap jauh ke arah langit berwarna keemasan.

“Kamu masih suka langit kayak dulu?” tanya Arya memudarkan keheningan. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Kamu tahu kan dari dulu aku hanyalah seorang pecinta langit yang siap dengan segala cuacanya,” balasku padanya. Ia mengangguk dan tersenyum. Keheningan sejenak membungkam kami dan alam sedang berbincang dengan kami dengan menyuguhkan pemandangan yang sangat meneduhkan mata.

“Hm… Sih, Kamu yakin mau melanjutkan pernikahanmu?” tanya Arya dengan nada yang serius. Aku terdiam. Jujur, aku belum bisa mempercayai sepenuhnya ucapan Ozie sebelum bertemu dengan orang yang Ozie tunjukkan. Rasanya masih terasa abu-abu.

“Anindira menjadi janda juga baik-baik saja. Kayaknya setelah melahirkan nanti, aku akan fokus membesarkan anakku dan mengejar mimpi-mimpiku yang tertunda saja, Ya. Aku terlalu lelah dengan ini semua. Kalau ditanya aku menyesal nggak setelah menikah, tentu ada rasa penyesalan di hati terdalam. Tapi… aku tak pernah menyesal mengandung anak ini.” Aku menghela nafas dalam-dalam. Apa artinya pernikahan tanpa cinta. Bukankah Sakinah, mawadah, warohmah harus dicapai dengan dasar cinta, meskipun dulu aku berpatokan karena cinta pada Allah, tapi rasanya aku sudah tak sanggup dengan semua ini. Jika Abi memang tak menginginkanku, aku akan melepasnya. Dalam sebuah hubungan laki-laki sebagai nahkoda harus mengetahui arah yang dituju. Bagiku, Abi sebagai nahkoda dalam biduk ini telah kehilangan arah. Ia tak mampu memberikanku arah yang tepat. Aku harus mendapatkan bukti segera mungkin. Akan kurampungkan semuanya dengan tuntas. Setelah mendapatkan penjelasan dari rekan Ozie, aku akan membuat kesepakatan dengan Abi. Aku tidak ingin pisah dengan cara yang buruk, jika kami harus berpisah. Aku ingin kami pisah baik-baik.

“Sih… hmm… boleh nggak aku jadi ayah anak dalam perutmu?” tanya Arya sambil menatap langit. Aku terbahak mendengarnya.

“Maksudmu apa sih, Ya? Mau jadi bapak angkat?” balasku sambil setengah bercanda.

Lihat selengkapnya