Keputusanku sudah bulat setelah kerjaanku selesai, aku pamit pada kepala sekolah. Panas menyengat dan asap kendaraan yang menemaniku siang ini tak menyurutkan niatku mendapatkan kejelasan. Kemarin sebelum tidur aku sudah menelpon salah satu rekan Abi itu. Betapa terkejutnya diriku mendapati dia adalah salah satu teman sekolahku. Salah satu biang masalah yang membuatku beberapa tahun kemarin terjebak salah paham. Tapi, aku sudah tak peduli. Pembenciku tak perlu penjelasanku, terserah mereka mau menilaiku seperti apa.
Kami berdua sepakat untuk bertemu di sebuah masjid karena dia sekarang menjadi marbot masjid besar di kotaku. Terkejut sekali aku mendengar hal itu terlontar dari mulutnya, berbanding terbalik dengan kenakalan-kenakalan yang dibuatnya waktu masih sekolah.
“Bos, kamu jangan lihat sesuatu dari covernya. Gini-gini aku adalah seorang hafidz. Memang dulu aku sempat lepas kendali, tapi setiap manusia pasti ada waktunya ia khilaf dan lalai,” ucapnya yang berusaha meyakinkanku.
“Iya… sekarang sudah balik ke jalan yang benar?” godaku sambil meminum jus alpukat di depanku.
“Sama kayak kamu suka jus alpukat dari dulu. Kenakalanku dulu cuma pengalihan emosiku. Aku tetaplah Surya yang masih terus berusaha menghafal Al-Qur’an demi memberi jubah untuk ibuku. Kamu tahu kan, Sih. Aku yatim dari kecil, Ibuku berjuang mati-matian untuk menafkahiku dan waktu SMA aku kehilangan dia, kemudian saudara-saudaranya malah berebut harta peninggalannya tanpa memikirkan aku. Sekarang, Surya yang kamu kenal biang onar itu sudah lenyap, dia sudah pergi.”
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan singkatnya. Kuletakkan jus yang telah berkurang setengah isinya di lantai serambi masjid.
“Aku ke sini karena Ozie. Hmm… ”
Surya langsung menyahutku, “Aku sudah menduga kamu akan menemuiku segera mungkin. Sih, Ozie sesayang itu sama kamu. Bahkan ia memata-matai suamimu. Hm, jangan kaget ya. Suamimu… tidak sebaik yang kamu pikirkan. Suamimu belum bisa melepaskan mantan istrinya, Sih. Setelah dia menjatuhkan talak tiga, sepertinya dia menyesal. Dia bahkan membayar orang untuk menikahi mantannya itu. Tapi, orang itu tidak bersedia. Ia takut juga dengan hukum Allah. Ia kira Allah bisa dimanipulasi manusia seperti kita. Tapi, sayangnya ada rekannya yang tergiur uang Abi.”
“Kamu bisa mempertemukan aku dengan orang itu?” pintaku pada Surya. Ia mengangguk. Surya menceritakan bahwa orang itu sempat berdiskusi dengannya. Lelaki itu adalah seorang pengusaha muda yang begitu polos. Abi menjanjikan bayaran yang besar untuk menikahi Sabrina. Tapi, setelah beberapa bulan dan setelah mencicipi ‘madu’ Sabrina ia harus menceraikannya. Lelaki itu tak tega mempermainkan perasaan orang lain, karena ia memiliki seorang adik perempuan dan seorang ibu yang sangat ia hormati.
Setelah beberapa hari menunggu kejelasan informasi dari Surya, akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Aku bertemu dengan sosok pengusaha itu, kami bertemu di masjid tempat Surya mengabdikan diri.
“Mohon maaf, Kak. Saya istri kedua Abi,” ucapku memperkenalkan diri dengan sopan. Lelaki di hadapanku ini jauh sekali dari kata slengekan, tampilannya sangat agamis. Aku sangat menyayangkan Abi bisa dengan mudah memberikan tawaran seperti itu kepadanya. Mungkin ia menganggap semua orang bisa dibelinya dengan uang.
“Iya, Mbak. Saya Naufal. Saya teman dan rekan Surya waktu di rumah tahfidz. Hmm… saya tahu informasi yang akan saya berikan pasti akan melukai hati Mbak, tapi… saya juga akan merasa bersalah jika tak membeberkan ini pada orang sebaik Mbak Kasih. Saya tahu Mbak yang merangkul Surya waktu dulu di SMA, waktu Surya dibekuk polisi, Mbaklah yang menjadi garda terdepan melindunginya. Mungkin Surya sudah bercerita tentang apa yang ditawarkan suami Mbak pada saya. Di sini saya ingin memperjelas bahwa yang dikatakan Surya adalah benar. Saya mungkin bisa menolak, tapi tidak dengan rekan sejawat saya. Ia tergiur uang itu karena terjerak pinjaman online dan dia sempat bercerita pada saya bahwa dia sudah menjatuhkan talak pada Sabrina setelah mencicipi ‘madu’ wanita itu. mungkin bagi Abi dan Sabrina itu sudah menggugurkan syarat, tapi bagi saya hal tersebut sangatlah mempermainkan hukum yang sudah dibuat oleh Allah. Semua keputusan ada di tangan Mbak Kasih. Pernikahan pasti ada ujiannya, tapi jika orang yang menjadi imam kita hanya bertujuan melanjutkan hidup dan masih hidup dalam bayang-bayang orang di masa lalu, sebagai lelaki saya merasa kasihan pada Mbak Kasih. Keputusan ada di tangan Mbak Kasih. Saya hanya bisa membantu sampai sejauh ini,” ucap Naufal dengan sopan.