Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #25

Bagian 25 Melahirkan

Dadaku bergetar hebat, rasanya ingin kuteriak dan menangis histeris. Tapi, rasanya tak bisa kukeluarkan semua sesak yang ada di dalam dada ini. Mataku tetap menatap ke depan dengan fokus memperhatikan kesibukan kendaraan berlalu lalang di sekitarku. Tak kusangka aku bisa setenang ini walaupun hatiku berantakan. Tiba-tiba tanganku membawa motor ini ke arah rumah Ozie. Setidaknya aku ingin menyendiri di rumah itu. Rumah dengan konsep Japandi itu sudah tepat di depan mataku. Kuparkir motorku dengan hati-hati, semilir angin menyentuh jilbab pashminaku dengan lembut. Kuambil kunci rumah tersebut dan membukanya dengan perlahan. Disaat suasana hati berantakan seperti ini hal yang membuatnya lebih baik adalah bersih-bersih. Ruangan terasa sangat berdebu, kubuka semua jendela dan kubersihkan debu-debu yang menempel di perabotan maupun di lantai. Di rumah ini, Ozie sudah menyiapkan segalanya bahkan ia sudah menyiapkan fasilitas elektronik yang komplit. Bisa dibilang rumah ini siap untuk dihuni.

Setelah menghabiskan waktu satu jam, rumah ini tampak lebih enak untuk digunakan menyendiri. Semua sudah rapi dan bersih. Ada satu tempat yang belum kubersihkan, kamar utama, kubuka tirai dan menikmati pemandangan dari balik kaca yang memanjakan mata. Ozie benar-benar mewujudkan rumah impianku dan aku sangat berterima kasih padanya. Aku ingin menjaga amanahnya ini. Aku akan tinggal di rumah ini membesarkan anakku tanpa merepotkan orang tua atau Abi. Kubersihkan ranjang yang berbalut sprei warna coklat muda dengan penyedot debu. Kurapikan bantal dan selimut diatasnya. Kucoba untuk menghidupkan lampu di kamar ini dan sebuah kejutan juga menyambutku, kucoba menghidupkan sebuah kotak di nakas hiasan yang cuma sketsa ini ternyata bisa menampilkan gambarku dan Ozie dalam sebuah gambar. Aku tersenyum dan meraihnya. Senyuman Ozie benar-benar bahagia waktu foto ini kami ambil. Sambil mengelus perutku yang tiba-tiba mengencang, kurebahkan diriku ke atas ranjang sambil menyenderkan punggung di bantal. Kuperhatikan pepohonan yang bergoyang diterpa angin di luar sana. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin menyelamatkan diriku.

Mungkin karena kehamilanku yang semakin mendekati hari perkiraan untuk lahiran, badanku cepat capek. Tapi, rasa ini bukan capek seperti biasanya. Perutku terasa sangat sakit, rasanya seperti diremas-remas dan aku merasa celana dalamku basah padahal aku tidak buang air kecil. Kugapai ponselku di atas bantal. Kucari nama Arya di dalam kontak. Beberapa kali panggilan tidak ia respon. Mungkin dia sedang sibuk melayani pasien hari ini. Kucoba untuk bersabar tapi rasa sakit ini terus menyerang. Beberapa kali kutelpon Arya, hingga akhirnya panggilan ke enam ia merespon panggilanku. Tapi sakit ini membuatku tak bisa berbicara, kutahan sebisa mungkin sambil memejamkan mata.

“Halo, Kasih… Assalamu’alaikum… Kasih…. Ada apa?” tak kujawab pertanyaan Arya. Sakit ini sangat membuatku tersiksa. Hanya suara erangan yang mungkin Arya dengar dari seberang sana.

“Sih! Kamu sakit? Kasih… kamu di mana?” berondong Arya padaku. Ketika sakit ini perlahan memudar, langsung kujawab dengan suara lirih, “Ya, perutku sakit banget Ya… ada cairan yang keluar di bawah sana.”

“Kamu di mana?” tanya Arya tampak khawatir.

“Di rumah Ozie,” jawabku dengan lirih sambil menahan sakit yang mencengkeram perutku.

“Kamu bisa share lock? Aku jemput kamu ya!” pinta Ozie nampak terburu-buru.

“Huum… cepet ya, Ya! Sakit….” Pintaku sambil memutus obrolan kami. Sambil menahan sakit, kubagikan lokasi rumah ini pada Arya. Aku berusaha berdiri, rasanya sangat haus. Aku ingin minum air putih ke dapur. Dengan langkah perlahan kubuka pintu kamar sambil sesekali bersandar di dinding. Rasa sakit ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Apakah aku akan melahirkan? Pikiranku kacau, barang-barangku ada di rumah Mamak.

Selang tiga puluh menit mobil Arya terdengar berhenti di depan rumah. Dari balik jendela kulihat dia berlari ke arah pintu. Sengaja pintu depan tidak kukunci dari tadi karena biar sirkulasi udara di ruangan depan bisa berganti. Arya masuk dengan wajah panik. Dia memperhatikanku bersandar di sebelah jendela.

“Aku periksa bentar ya!” pintanya sambil langsung membopongku ke sofa. Sebenarnya aku malu tapi walaupun bagaimanapun Arya adalah dokter yang menanganiku. Aku adalah pasiennya.

“Kita ke rumah sakit, kamu mau melahirkan,” ucapnya sambil kembali membopongku ke dalam mobil. Dengan sigap dia mengunci rumah dan meraih kunci dengan cepat. Ia berlari ke dalam mobil dan menginjak pedal gas dengan kuat. Tangan lihainya menguasai stang stir. Kerumunan kendaraan dilibasnya. Sementara sesekali perutku mengalami kontraksi yang sangat hebat. Arya menghubungi rumah sakit agar segera standby menyambut kedatanganku. Dia memang sehebat ini, dan aku bangga memiliki sahabat seperti dia.

“Nggak pernah terlintas dipikiranku kalau aku adalah pasienmu, Ya. Kukira dokter Arya yang diagung-agungkan ibu-ibu di sekolah itu orang lain. Ternyata… kamu,” ucapku mengalihkan sakit yang kurasakan.

“Mana ada dokter yang jemput pasiennya selain aku? Untungnya kamu milih aku sebagai doktermu, kalau nggak siapa yang mau menjemputmu dalam kondisi seperti ini?” ledek Arya sambil sesekali menoleh ke arahku. Aku tertawa kecil sambil mengelus perutku.

Lihat selengkapnya